CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Debate Club /
[HOLY] Anda Bertanya, Buddhist Menjawab - Part 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000013654212/holy-anda-bertanya-buddhist-menjawab---part-3

[CLEAN]Anda Bertanya, Buddhist Menjawab

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 448 dari 517
Quote:


Oh I C emoticon-Smilie

Kalo orang yg punya kemampuan itu cerita ke pione?
Quote:

Itu hanya akan jadi cerita kan?
Quote:

Oh ok!

Teteup harus ngerasain atau buktiin sendiri yah? Walaupun cerita dari orang yg punya kemampuan teteup belum bisa dipercaya? Kalau gak ada bukti lain.
Quote:

Pembuktian sendiri selalu lebih baik untuk hal-hal semacam itu.

Beda dengan kasus apa perlu minum racun sendiri untuk membuktikan kalau racun bisa membunuh diri kita emoticon-Smilie
Diubah oleh realpione
Quote:

Sebab akibat, pencuri aja tau? Ya anda pun tau. Kalau pencuri tau dan anda tau. Kenapa dia masih mencuri? and bicara keinginan itu membuat menderita. Tapi anda selalu idup dengan keinginan dan tidak puas? Ya anda tauuuuu bukan? Tapi kenapa anda selalu mengikutinya keinginan2 itu? Dan perbuatan negatif itu? Semua orang tau kog di bumi ini. Kebencian dan keserakahan tidak baik. Tp mereka tetap sibuk berperang, menjatuhkan yang lain, membunuh, menindas. Dan semua orang tau hidup ini dukha, tapi mereka senang tenggelam di dalamnya. Mereka tau itu racun tapi mereka tetap menegaknya.
Ya inilah kebodohan. Mereka tidak melihat sebab2 dr itu semua. Dan memahaminya.
Orang bijak, akan hati2 dalam ucapan, perbuatan dan pikiran. Karena mereka memahami sebab2 yang akan ditimbulkan. Maka itu kenapa ada sila, morality? Bagi orang yg blum memahami akibat2 dr sikap mereka. Mereka perlu aturan yg diterapkan untuk menjauhi hal2 yg merugikan org lain dan diri mereka. Utk kehidupan yg soft dan tidak menimbulkan banyak pertentangan.

Sy tidak bicara objek diluar itu.
Bertemu hal yang tidak anda sukai itu dukha, berpisah dengan hal yg disukai, itu dukha. Melekat pada suatu yang disukai itu dukha. Anda jelas?

Mengenai kesaktian buddha, bukanlah mitos. Dengan melatih batin pada pencapaian tertentu mereka mempunyai kelebihan.
Kalau anda bicara orang dulu bisa terbang, itu mitos.
Tp kalau anda ke masa lalu, dan anda berbicara ada alat yang berkomunikasi jarak jauh, atau anda berbicara ada tv, atau alat bisa buat es. Mereka anggap u gila.
Quote:


ya ya ya... kadang kan suka ada dongeng turun temurun tuh dari nenek kita misalnya tanpa ada dokumennya atau bukti lain cuman dari mulut ke mulut emoticon-Malu (S)

Kalau racun kan ada alesan logisnya gitu.
Quote:

Cerita-cerita macam itu dipercaya juga apa akan memberi manfaat?
Quote:


tapi apakah dengan menjadi pengikut buddha penderitaan tersebut bisa dihapuskan. ada atau mungkin banyak orang yang berpendapat memuaskan kebutuhan duniawi adalah cara umtuk melepaskan penderitaan. Bisa jadi mengikut buddha malah sebuah penderitaan bagi mereka emoticon-Berduka (S)
Quote:

Menjadi pengikut tapi gak mempraktekkan ajaran, emang dapat apa?
Hanya status pengikut doang?

Memuaskan kebutuhan duniawi hanya mendapat kesenangan sesaat. Dan kesenangan macam itu ibarat air laut, gak akan pernah terpuasakan (malah semakin besar keinginannya).
Quote:


jangan memasukkan konsep2 kepercayaan lain. Buddha tidak dapat menghapus penderitaan siapapun. Cuma diri orang itu bisa menghapus penderitaannya. Sang buddha menunjukkan jalan bagaimana cara membebaskan penderitaan.

Ya pandangan salah selalu menyeret siapapun. Ya beginilah.
Tp ketika punya pandangan bener dan praktek yang bener. Hal2 yang bersifat memuaskan nafsu indra akan berkurang. Karena ada pemahaman disini.
Kalau bicara teori semua orang tau. Kalau berbicara pemahaman anda harus praktek. Bukan dari teori dan berpikir.
Quote:


Jangan memasukkan konsep2 kepercayaan lain. Buddha tidak dapat menghapus penderitaan siapapun. Cuma diri orang itu bisa menghapus penderitaannya sendiri. Sang buddha menunjukkan jalan bagaimana cara membebaskan penderitaan.

Ya pandangan salah selalu menyeret siapapun. Ya beginilah.
Tp ketika punya pandangan bener dan praktek yang bener. Hal2 yang bersifat memuaskan nafsu indra akan berkurang. Karena ada pemahaman disini.
Kalau bicara teori semua orang tau. Kalau berbicara pemahaman anda harus praktek. Bukan dari teori dan berpikir.
Quote:


pertanyaan dasar dan utama
1.apakah dengan menjadi pengikut buddha,kita bisa bisa melepaskan diri dari penderitaan? sedangkan penderitaan itu sendiri relatif.
2.saya bukan buddhist
apakah ajaran buddha satu satunya yang bisa melepaskan penderitaan?


mengenai kesaktian buddha
mungkin buddha adalah alien emoticon-Big Grin berarti bukan manusia lah emoticon-Takut
Quote:


Cerita fiksi, ada manfaatnya juga kan emoticon-Big Grin
Quote:


Ya digaranti bisa terbebaskan bila mejalankan sila samadhi panna
Ini buddha yang ngomong lho.
Karena adanya kemelakatan maka itu adanya penderitaan.
Yang paling kita lekati adalah diri kita.
Makanya sumber penderitaan dr diri ini.
Makanya tubuh dan batin diri kita adalah objek terbaik.
Wrong view, kita selalu bepikir sy arus sehat. Sakit itu tidak wajar.
Ketika sakit muncul, anda membencinya. Padahal tubuh ini pasti ngalamin sakit punya.
Tidak kekal. Anda tidak bisa menerima. Batin anda menderita.
Batin suka hidup di masa depan dan lalu. Batin yang tak terlatih selalu menimbulkan dukha. Karena di batin ada 3 kekotoran batin yang selalu mengikuti. (Lobha )keinginan, tidak puas,kekikiran, (dosa)kebencian, tidak suka, kemarahan, iri, (Moha ) tidak sadar, tidak tau mana yang benar dan salah


kalau kamu tanya sy pemeluk buddha, ya ini satu2 nya jalan.
Kamu bukan non buddhis. Kamu tetap meluk kepercayaan kamu juga gpp.
Jalan diajarkan buddha untuk semua mahluk. Tidak melihat agama, ras, dsbgnya.
Karena disini yang dibicarakan batin.

Kamu mau bilang buddha alien, terserah u.
Ketika kamu praktek, memahami apa yang diajarkan beliau. Anda akan menilai sendiri siapa beliau itu.
Quote:


Di agama buddha dijelaskan tentang penderitaan, sebabnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Sedangkan di agama lain kayaknya tidak ada.
Quote:


saya setuju dengan pernyataan ini tetapi adakah zaman ini seseorang yang mampu melepaskan dirinya dari kemelakatan secara total? kalau cuma setengah-setengah tidak beda dengan omong kosong.
Quote:

Selama dhamma ini masih ada. Masih banyak orang mencapai. Kata buddha. Takkan kekurangan arahat.
Setengah2? Maksudnya apa? Masih banyak orang berjuang blum mencapai.
Walaupun begitu mereka sedikit banyak telah mencicipi dhamma itu. Dan keyakinan mereka pada buddha dharma makin kuat. Dhama indah awal, tengah dan akhir. Lebih baik 1 ari idup dengan sadar menyadari anica, dukha, anata. Drpd idup seratus taun tanpa praktek menyadari 3 corak ini. Walaupun tidak mencapai di kehidupan ini. Mereka telah menanam benih yg baik. Di next life. Bisa saja mereka mencapai.
Daripada orang yang tidak melangkah sama sekali.
Di zaman sang buddha banyak orang mendengarkan kotbah sang buddha mereka langsung mencapai. Apakah segampang, seinstan itu? Di masa kehidupan lampau nya mereka telah berlatih dengan tekun dan ulet.
Jadi jangan menarik kesimpulan apapun di masa skrg atau masa akan datang orang sulit mencapai. Kamma masa lampau tidak ada yang tau. Selama dhamma masih ada, takkan kekurangan arahat kata buddha.
Quote:

Ya, anda bisa melepaskan diri dari penderitaan, dengan memahami empat kebenaran mulia (4KM), dan mempraktekan jalan mulia berunsur delapan (JMB8)

Quote:

Sejauh yang saya ketahui...
Ya, hanya praktik JMB8 yang bisa membawa anda kepemadaman penderitaan.


Mengapa hanya buddhism?
Ya, seperti yang anda katakan...
Bentuk penderitaan itu relatif,
Ada yang berupa gelisah, sedih, marah, murka, senang, dll.

Akan tetapi,
Disini salah satu perbedaan jalan buddhism dengan yang lain.
Pada buddhism anda diajarkan cara agar anda dapat melihat akar-permasalahannya,
dan ketika anda sudah mengerti sumber penderitaan anda, saya kira... selanjutnya tergantung anda yang menjalankan.

Apakah anda akan tetap terlekat (attached) pada sumber penderitaan tersebut

Quote:


Kesaktian tersebut hanya salah satu efek samping dari berlatih.



Semoga anda segera bisa melihat asal usul dukkha (penderitaan)
Diubah oleh Kemenyan
Quote:


Sudahkah anda mengenal "bentuk kemelekatan" ?

Dari pernyataan anda,
Seolah-olah anda sedang menyatakan kalau kemelekatan adalah salah satu kepemilikan objek.

Entah itu rumah, pacar, istri, anak, uang, jasmani.

Akan tetapi tidak,
buddhism bukan hanya sedang berbicara kemelekatan fisik.

Akan tetapi kemelekatan batin dan fisik,
seperti tamak, rakus, ego, dll.


Dan perlu dicatat..
JMB8 bukan berarti anda tidak boleh punya rumah, anak, istri, duit.

Dan perlu dicatat pula...
JMB8 bukan berarti silahkan cari rumah, anak, istri, duit tanpa memperhatikan sila.
Diubah oleh Kemenyan

Magga-vibhanga Sutta: Analisa Jalan

Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian mengenai Jalan Mulia Berunsur Delapan dan Aku akan menganalisanya untuk kalian. Dengarkan dan perhatikanlah, Aku akan menjelaskan.”
“Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab.


Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Dan apakah, para bhikkhu, Jalan Mulia Berunsur Delapan itu?
1. Pandangan Benar
2. Kehendak Benar
3. Ucapan Benar
4. Perbuatan Benar
5. Penghidupan Benar
6. Usaha Benar
7. Perhatian Benar
8. Konsentrasi Benar



“Dan apakah, para bhikkhu, 1. pandangan benar?
- Pengetahuan atas penderitaan,
- pengetahuan atas asal-mula penderitaan [9]
- pengetahuan atas lenyapnya penderitaan,
- pengetahuan atas jalan menuju lenyapnya penderitaan.
ini disebut pandangan benar.



“Dan apakah, para bhikkhu, 2. kehendak benar?
Kehendak untuk melepaskan keduniawian,
kehendak untuk tidak memusuhi,
kehendak untuk tidak mencelakai
ini disebut kehendak benar.



“Dan apakah, para bhikkhu, 3. ucapan benar?
Menghindari ucapan salah,
menghindari ucapan yang memecah belah,
menghindari ucapan kasar,
menghindari gosip:
ini disebut ucapan benar.



“Dan apakah, para bhikkhu, 4. perbuatan benar?
Menghindari pembunuhan,
menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perbuatan seksual yang salah:[2]
ini disebut perbuatan benar.



“Dan apakah, para bhikkhu, 5. penghidupan benar?
Di sini seorang siswa mulia,
setelah meninggalkan cara penghidupan yang salah,
mencari penghidupan dengan cara penghidupan yang benar:
ini disebut penghidupan benar.



“Dan apakah, para bhikkhu, 6. usaha benar?
Di sini, para bhikkhu,
seorang bhikkhu memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul;

ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya.

Ia memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul....

Ia memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul....

ia memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan;

ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya.
Ini disebut usaha benar.



“Dan apakah, para bhikkhu, 7. perhatian benar?
Di sini, para bhikkhu,
seorang bhikkhu merenungkan jasmani di dalam jasmani, tekun, memahami dengan jelas, penuh perhatian, setelah melenyapkan keserakahan dan ketidaknyamanan sehubungan dengan dunia.

Ia merenungkan perasaan di dalam perasaan, tekun, memahami dengan jelas, penuh perhatian, setelah melenyapkan keserakahan dan ketidaknyamanan sehubungan dengan dunia.

Ia merenungkan pikiran di dalam pikiran, tekun, [10] memahami dengan jelas, penuh perhatian, setelah melenyapkan keserakahan dan ketidaknyamanan sehubungan dengan dunia.

Ia merenungkan fenomena di dalam fenomena, tekun, memahami dengan jelas, penuh perhatian, setelah melenyapkan keserakahan dan ketidaknyamanan sehubungan dengan dunia.
Ini disebut perhatian benar.


“Dan apakah, para bhikkhu, 8. konsentrasi benar?
Di sini, para bhikkhu,
dengan terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang timbul dari keterasingan.

Dengan meredanya awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan internal dan keterpusatan pikiran, yang tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dan memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang timbul dari konsentrasi.

Dengan meluruhnya kegembiraan, ia berdiam dalam keseimbangan dan penuh perhatian dan pemahaman jernih, ia mengalami kebahagiaan dalam jasmani; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dalam kebahagiaan.’

Dengan meninggalkan kesenangan dan kesakitan, dan dengan meluruhnya kegembiraan dan ketidaknyamanan sebelumnya, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan dan termasuk pemurnian perhatian oleh keseimbangan.
Ini disebut konsentrasi benar.”

source:
Indonesia: http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_45.8:_Vibhaṅga_Sutta
English: http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn45/sn45.008.than.html
Diubah oleh Kemenyan
Halaman 448 dari 517
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di