- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Mengapa Orang Dapat Kesurupan Makhluk Gaib ?
TS
MuslimAirForce
Mengapa Orang Dapat Kesurupan Makhluk Gaib ?

Sebuah pertanyaan yang saya belum memperoleh jawaban yang memuaskan. Seseorang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Tubuhnya kaku. Tak sadar siapa dirinya. Ada yang berteriak teriak. seperti kesakitan, ada yang tanpa bicara. Ada juga yang sambil mengamuk dengan kekuatan yang sangat besar. Keadaan itu disebut ‘kesurupan’.
Apa arti ‘kesurupan’ itu? Penjelasan umum yang paling sering saya dengar, karena saat itu tubuhnya dipinjam atau dimasuki suatu roh halus atau arwah. Yang memasuki bisa hanya satu, bisa dua atau tiga. Bisa bersamaan dan bisa juga berganti-ganti. Tentu saja dengan sifat yang berbeda-beda. Ada yang ‘galak’, ada yang seperti orang yang mengalami kesedihan atau kesakitan, bahkan ada juga yang tidak bisa bicara.
Siapa sajakah yang bisa kesurupan? Akhir-akhir ini kita sering mendengar ada kesurupan masal. Ada sebuah SD Negeri yang beberapa siswanya tiba-tiba kesurupan . Seringkali terjadi pada siswa SMP dan SMA. Bahkan pernah juga terjadi di sekolah MI, MTs dan MAN. Yang jarang terdengar, kesurupan masal terjadi di sebuah perguruan tinggi atau kantor.
Bagaimana orang bisa kesurupan? Suatu kisah, saat mengikuti suatu pelajaran seorang siswa kelas 9 SMP kesurupan. Ternyata sejak pagi dia sudah merasa pusing. Karena itu sebelum pelajaran mulai, dia sudah pesan pada teman sebangkunya. Dia meminta temannya untuk menekan kedua ibu jarinya bila sesuatu terjadi padanya. Kebetulan agak jauh dari sekolah ada pertunjukan jatilan. Meski hanya sayup-sayup suara musiknya kedengaran juga di telinganya meski saat itu dia sambil mengerjakan suatu latihan soal pelajaran tapi mungkin tidak konsentrasi. Dan lama-lama dia terpengaruh dengan suara musik jatilan dan kesurupan lah dia.
Setelah babak kesurupan berlalu, siswa itu ditanya, bagaimana duduk perkaranya. Dia bercerita bahwa sejak di SD dia sudah ikut kelompok seni tradisional jatilan (kuda lumping). Oleh pemimpin kelompok dia diberi sesuatu mungkin semacam jimat. Biasanya jimat itu ditinggal di rumah. Dan pagi itu saat badannya tidak enak, menurutnya si ‘jimat’nya memintanya untuk ikut. Dia bilang, ”Kamu tinggal saja di rumah”. Tapi dia tetap ikut.

Suatu saat di suatu masa yang lain, ada juga seorang siswa SMP yang kesurupan. Saat itu dia sedang mengikuti kegiatan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Malam Minggu) yang diselenggarakan di sekolah untuk para siswa kelas 7. Si siswa yang sedang ‘kesurupan’ itu bisa berbicara dengan suara yang berbeda-beda dan dengan topik yang berbeda-beda. Dan tentu saja si siswa tidak sadar. Dan setelah sadar. seperti kasus kesurupan lainnya, dia juga biasa-biasa saja. Tak ada perasaan malu, takut, atau namapak ada ‘bekasnya’ bahwa dia pernah kesurupan.
Kedua peristiwa itu hanya beberapa kisah dari kasus kesurupan. Masih banyak cerita-cerita yang lain.
Lalu pertanyaaanya, mengapa orang bisa kesurupan? Jawaban umum yang selalu saya dengar, adalah karena saat itu pikiran orang tersebut ‘kosong’ atau sedang melamun. Namun apa makna ‘kosong’ itu? Pasti bukan berarti saat itu orang tersebut tidak sedang berpikir apa pun. Yang dimakud melamun juga pasti bukan seperti saat seseorang mengingat atau membayangkan suatu peristiwa lain, karena saat itu otaknya juga sedang bekerja untuk mengingat, jadi berpikir. Tentu juga bukan saat seperti orang yang sedang berimajinasi baik dalam proses kreatif atau hanya sekedar berfantasi.

Dari banyak kasus yang kusaksikan, ternyata setelah ditelusur kebanyakan orang atau siswa yang ‘kesurupan’ adalah saat orang itu fisiknya lemah, entah tidak enak badan atau pusing atau kurang tidur atau terlalu capai. Kebanyakan juga saat itu mereka sedang memiliki masalah yang baginya terasa berat. Jadi setiap saat justru dia sedang berpikir keras, bukan kosong pikirannya. Namun masalah yang berat itu selalu ada dalam pikirannya, sehingga hampir sulit lah dia untuk berpikir yang lain. Misalnya memikirkan peristiwa-peristiwa yang indah atau menyenangkan yang pernah dialaminya agar pikiran yang hanya tertuju pada satu masalah itu bisa teralihkan. Atau memikirkan hal hal kecil yang bisa membuat senang hatinya.
Sedang yang mudah ketularan adalah orang yang secara psikis mudah ikut hanyut dalam perasaaan. Entah sedih, entah teriakan histeris, atau tangis. Lihat saja bagaimana pemandangan histeria masa saat ada pentas penyanyi idola.
Selain jenis itu, orang -orang yang mengikuti suatu kelompok kesenian tradisional tertentu biasanya juga mudah terkena atau ketularan situasi histeris dan ‘kesurupan’. Seringkali hanya dengan mendengar musik iringan seni tradisional (yang umumnya berisi bunyi bunyi yang tetap diulang-ulang dalam jangka waktu tertentu dan kemudian semakin lama semakin cepat dan keras) mereka juga sering ‘kontak’, meski bukan saat pertunjukkan, apalagi bila kondisi fisiknya tidak sedang optimal: kecapaikan atau pusing.
Kesimpulannya, menurut saya, sesorang bisa mudah terkena ‘kesurupan’ atau tidak sangat tergantung dengan apa yang disebut ‘kesadaran diri’. Orang yang bisa menguasai dirinya, yang mampu mengontrol otaknya akan memiliki kesadaran diri yang tinggi. Untuk memiliki ketrampilan menggunakan ‘kesadaran diri’ dan ‘mengontrol pikirannya’ sendiri itulah yang perlu dilatih.
Melalui pendidikan di sekolah dan di rumah, sejak usia dini, seseorang perlu dilatih untuk memiliki ‘awareness’. Saat di jalan raya, misalnya, sejak kecil anak sudah harus dilatih untuk memiliki awareness. Mengamati sekeliling, melihat apa yang terjadi di sekeliling dan pikiran tenang tanpa kepanikan baru kemudian bertindak untuk menyeberang dan sebagainya. Begitu juga dengan situasi situasi lainnya. Selalu begitu. Mengamati, jangan mudah bertindak atau menjawab sesuatu sebelum dipikir. Dan karena sering terlatih akhirnya orang akan bereaksi dengan ‘tepat’ dan lama-lama menjadi ‘cepat tetapi tetap tepat”. Saat berada di tempat dan situasi yang baru, seseorang harus selalu bisa mengontrol otaknya, kesadarannya, dan akhirnya tindakaann ya pun terkontrol.

Dengan latihan begitu, seseorang akan waspada terhadap ‘bahaya’, terhadap ’situsi yang mencurigakan’, situasi yang ‘terasa tidak mengenakkan’. Ketenangan akan membuat seseorang bisa berpikir jernih. Menyadari apa yang ada dan apa yang terjadi di sekelilingnya. Ketenangan akan membuat orang tidak panik menghadapi sesuatu yang ‘unknown’ atau ‘unfamiliar’. Dan pada akhirnya orang tidak ikut terpengaruh situasi sekeliling. Saat orang lain menjerit dan menangis, otaknya harus segera menyadari mengapa orang lain menjerit dan menangis dan memutuskan apa yang harus dia lakukan, apakah akan ikut-ikutan menjerit dan bertindak seperti lainnya atau tidak usah ikut arus, dengan penuh ‘kesadaran’.
Dan saat seseorang memiliki kesadaran penuh, apa yang disebut roh halus (bagi yang percaya bahwa itu lah yang terjadi) tidak akan mau memasuki badan manusia. Karena pada dasarnya apa yang kita lihat itu merupakan persepsi indera kita. Bahwa awan, langit dan benda lainnya bentuknya seperti yang kita lihat, itu karena kemampuan indera kita dalam menangkap memang hanya sekian. Apa yang tidak bisa kita tangkap dengan indera kita jauh lebih banyak. Dan bagaikan jendela, kalau seseorang membukanya maka batas pemisah antara kedua ‘materi’ yang berbeda tersebut menjadi hilang. Maka seseorang akan merasa melihat sesuatu. Namun kalau kesadaran ada dalam kendalinya dia tak akan membiarkan jendela terbuka sehingga dia tidak akan melihat hal-hal yang tidak dia ketahui atau yang kejiwaannya tidak kuat untuk melihatnya. It is just not in his mind. Hanya menyaksikan apa yang ada, apa yang nyata menurut otaknya. Sehingga dia pun akan menjadi orang yang ‘biasa’.
Namun seseorang yang biasa ‘kesurupan’ tak sadarkan diri pada saat pertunjukan seni tradisioanl seperti jatilan dan sejenisnya, memang rentan untuk terkena ‘kesurupan’ pada saat tidak sedang pentas, saya rasa karena otaknya sudah terbiasa untuk langsung melakukan ’short cut’ untuk bereaksi. Jadi begitu ada ’stimulus’ seperti bunyi musik jatilan misalnya akan langsung ada ‘respon’ yang sama yang biasa terjadi. Pikiran dan kesadarannya tidak mudah dia kuasai. Apalagi bila dia belum dewasa. Namun karena itu sebuah kesenian, tentu itu sudah pilihannya. Karena dengan pertunjukkan itu orang lain lah yang menikmati, jadi membuat orang lain terhibur atau gembira.
Bahwa peristiwa kesurupan masal jarang terjadi di kantor atau di perguruan tinggi itu karena saya rasa orang dewasa sudah lebih mampu mengontrol pikiran dan kesadarannya (awareness) daripada anak-anak atau siswa-siswa seusia SMP dan SMA. Karena itu mungkin pada saat hal itu terjadi pada anak-anak terlebih siswa SD, mereka perlu dibantu yaitu dengan menciptakan situasi yang tidak mengesankan panik agar tidak menular, dan mengalihkan perhatian dari situasi yang mungkin terasa mencekam bagi mereka. Dan tidak kalah penting, anak jangan terlalu sering menerima cerita-cerita tentang segala macam ’spesies’ hantu.

http://kesehatan.kompasiana.com/keji...an-400570.html
Supernatural Wolrd are part of human life.....
0
4.5K
24
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan