- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Penjualan Jengkol Menurun Drastis


TS
lugimin
Penjualan Jengkol Menurun Drastis
Harga Masih Tinggi
Penjualan Jengkol Menurun Drastis
Selasa, 11/06/2013 - 16:31
BANDUNG, (PRLM).- Sejumlah pedagang jengkol di pasar tradisional mengaku penjualannya mengalami penurunan yang cukup drastis sejak harga komoditas tersebut melonjak pada tiga pekan terakhir ini. Akhirnya, sejumlah pedagang tidak menjual komoditas tersebut karena bingung akan memberikan harga jual berapa kepada konsumen. Selain harga belinya yang sangat tinggi, keberadaannya pun saat ini sangat sulit didapatkan.
Salah seorang pedagang jengkol di Pasar Tradisional Sederhana, Yeni mengatakan, penjualannya menurun hingga 75 persen sejak terjadinya lonjakan harga pada komoditas tersebut. Namun demikian, dirinya masih bertahan untuk berjualan karena masih memiliki pembeli setia dan masih bisa mendapatkan komoditas tersebut di Pasar Caringin. “Pada kondisi harga sebelum mengalami kenaikan saya bisa menjual 20 kg/ hari, namun sejak harganya naik, hanya terjual 5 kg/ hari,” ujarnya.
Yeni menjual jengkol dengan harga Rp 52 ribu/ kg dan menurutnya jengkol yang memiliki kualitas paling baik berasal dari Jepara, Jateng. Sementara daerah pemasok komoditas tersebut selain Jateng adalah Lampung dan Kalimantan. Menurutnya, sebagian pedagang jengkol di pasar tersebut memilih untuk tidak berjualan karena khawatir sulit menjualnya kembali kepada konsumen.
Ketika ditanyakan mengenai permintaan menjelang Bulan Puasa, dirinya mengatakan untuk komoditas tersebut tidak terlalu banyak perubahan pada permintaan konsumen. “Munggahan juga biasa – biasa saja, jengkol tidak terlalu banyak dicari. Komoditas tersebut justru banyak dicari konsumen ketika akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu,” jelas Yeni menjelaskan.
Pekerja Cafetaria Dharma Wanita Pasteur, Aang mengatakan, sejak harga jengkol mengalami kenaikan dirinya tidak lagi memasukan komoditas tersebut dalam menu di cafeteria-nya. “Saya bingung mau jual berapa. Harga belinya saja sudah sekitar Rp 50 – 60 ribu/ kg, masa saya jual melebihi harga daging ayam. Oleh karena itu, mending saya stop saja. Toh penggemarnya juga tidak terlalu banyak,” katanya.
Menurut dia, ketika harga jengkol belum mengalami lonjakan, dirinya masih bisa menjual jengkol sekitar Rp 5 ribu pada satu porsi makanan, yakni sebanyak 6 buah jengkol. Namun demikian, memang menu tersebut tidak dibeli setiap hari karena penggemarnya hanya sebagian orang saja. “Biasanya kalau ada pelanggan yang request karena sudah bebrapa hari tidak ada jengkol, ya kami pun membelinya,” kata Aang. (A-207/A-147)***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/238265
padahal ane suka banget makan jengkol....terpaksa udah hampir sebulan ini ane ga makan jengkol
Penjualan Jengkol Menurun Drastis
Selasa, 11/06/2013 - 16:31
BANDUNG, (PRLM).- Sejumlah pedagang jengkol di pasar tradisional mengaku penjualannya mengalami penurunan yang cukup drastis sejak harga komoditas tersebut melonjak pada tiga pekan terakhir ini. Akhirnya, sejumlah pedagang tidak menjual komoditas tersebut karena bingung akan memberikan harga jual berapa kepada konsumen. Selain harga belinya yang sangat tinggi, keberadaannya pun saat ini sangat sulit didapatkan.
Salah seorang pedagang jengkol di Pasar Tradisional Sederhana, Yeni mengatakan, penjualannya menurun hingga 75 persen sejak terjadinya lonjakan harga pada komoditas tersebut. Namun demikian, dirinya masih bertahan untuk berjualan karena masih memiliki pembeli setia dan masih bisa mendapatkan komoditas tersebut di Pasar Caringin. “Pada kondisi harga sebelum mengalami kenaikan saya bisa menjual 20 kg/ hari, namun sejak harganya naik, hanya terjual 5 kg/ hari,” ujarnya.
Yeni menjual jengkol dengan harga Rp 52 ribu/ kg dan menurutnya jengkol yang memiliki kualitas paling baik berasal dari Jepara, Jateng. Sementara daerah pemasok komoditas tersebut selain Jateng adalah Lampung dan Kalimantan. Menurutnya, sebagian pedagang jengkol di pasar tersebut memilih untuk tidak berjualan karena khawatir sulit menjualnya kembali kepada konsumen.
Ketika ditanyakan mengenai permintaan menjelang Bulan Puasa, dirinya mengatakan untuk komoditas tersebut tidak terlalu banyak perubahan pada permintaan konsumen. “Munggahan juga biasa – biasa saja, jengkol tidak terlalu banyak dicari. Komoditas tersebut justru banyak dicari konsumen ketika akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu,” jelas Yeni menjelaskan.
Pekerja Cafetaria Dharma Wanita Pasteur, Aang mengatakan, sejak harga jengkol mengalami kenaikan dirinya tidak lagi memasukan komoditas tersebut dalam menu di cafeteria-nya. “Saya bingung mau jual berapa. Harga belinya saja sudah sekitar Rp 50 – 60 ribu/ kg, masa saya jual melebihi harga daging ayam. Oleh karena itu, mending saya stop saja. Toh penggemarnya juga tidak terlalu banyak,” katanya.
Menurut dia, ketika harga jengkol belum mengalami lonjakan, dirinya masih bisa menjual jengkol sekitar Rp 5 ribu pada satu porsi makanan, yakni sebanyak 6 buah jengkol. Namun demikian, memang menu tersebut tidak dibeli setiap hari karena penggemarnya hanya sebagian orang saja. “Biasanya kalau ada pelanggan yang request karena sudah bebrapa hari tidak ada jengkol, ya kami pun membelinya,” kata Aang. (A-207/A-147)***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/238265
padahal ane suka banget makan jengkol....terpaksa udah hampir sebulan ini ane ga makan jengkol

0
944
7


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan