CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / Movies /
[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/515bff9eb62acf94150006d7/thread-review-film-the-last-film-you-saw---good-bad-biasa-masuk---part-1

Autolock Thread by Hansip

Tampilkan isi Thread
Thread sudah digembok
Halaman 50 dari 504
the bay

[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1

film kiamat kecil di sebuah teluk akibat penyakit menular misterius,
disajikan pake found footage macam paranormal activity gitu
walaupun low budget efek-efek gorenya oke banget

9/10

Review: What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)

Bagaimana sesungguhnya rasa cinta itu bermula? Dari ketertarikan pandangan terhadap rupa seseorang? Deretan dialog puitis yang terdengar begitu romantis di telinga? Atau dari kemampuan mulut untuk mengolah dan memadukan kata yang ingin didengarkan oleh seseorang? Bagaimana jika mata, mulut atau telinga tidak lagi dapat berfungsi dengan sempurna untuk menghantarkan berbagai sensasi perasaan tersebut? Apakah manusia tetap mampu merasakan indahnya jatuh cinta? Problematika inilah yang ingin dijabarkan oleh Mouly Surya dalam film terbarunya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Di tangan kebanyakan sutradara, premis tersebut mungkin akan berakhir sebagai sebuah kisah romansa yang manis atau menyentuh atau justru melelahkan – seperti kebanyakan kisah romansa yang hadir di industri film Indonesia belakangan ini. Namun Mouly Surya jelas bukanlah “kebanyakan sutradara”. Dengan pendekatan yang berani dan jauh dari kesan biasa – serta akan memberikan banyak ruang kepada setiap penonton untuk menginterpretasikan jalan cerita film ini, Mouly berhasil menyajikan sebuah presentasi yang tidak hanya sekedar manis atau menyentuh, namun juga kembali membuktikan bahwa dirinya adalah seorang sutradara dengan visi dan kemampuan bercerita yang begitu brilian.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love mengikuti perjalanan tiga karakter utamanya – yang sama-sama memiliki disabilitas fisik dan bersekolah di sebuah sekolah luar biasa yang terletak di wilayah Jakarta – dalam mengenal sebuah sensasi kehidupan yang bernama jatuh cinta. Karakter pertama, Diana (Karina Salim), memiliki kelainan refraksi yang membuatnya hanya dapat melihat sebuah objek dalam jarak yang sangat dekat. Diana, yang baru saja mendapatkan masa menstruasi pertamanya, semenjak lama telah jatuh hati dengan teman sekelasnya, Andhika (Anggun Priambodo), namun sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya.

Berbeda dengan Diana, sahabatnya Fitri (Ayushita Nugraha) yang mengalami kebutaan semenjak lahir, justru telah lama mengenal (atau merasa mengenal) seluk beluk cinta – bahkan aktif secara seksual untuk membuktikan rasa cintanya tersebut terhadap sang kekasih, Lukman (Khiva Iskak). Namun, obsesi Fitri terhadap kisah-kisah berbau supranatural-lah yang kemudian mengenalkan gadis tersebut pada Edo (Nicholas Saputra) – seorang pemuda bisu anak penjaga warung jajanan sekolah, Bu Rusli (Jajang C. Noer), yang dalam kesehariannya selalu hadir dalam dandanan punk, dan sekaligus membawanya pada sebuah petualangan cinta baru.

Ketika Anda berhasil menyingkirkan seluruh arthouse attitude yang disematkan Mouly Surya pada caranya dalam menyampaikan alur kisah yang memiliki judul Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta sebagai judul Indonesia-nya ini, maka penonton akan depat dengan mudah menemukan sebuah jalinan kisah romansa remaja yang sebenarnya begitu sederhana. Di tangan Mouly, kisah yang sederhana itu sendiri bukanlah menjadi sebuah presentasi cerita yang usah. Dengan jeli, Mouly berhasil membangun deretan karakter yang terbangun dengan rapi, memiliki ikatan kisah yang kuat antara satu dengan yang lain serta tatanan cerita beratmosfer black comedy yang begitu kental dan sangat menghibur – sekaligus menjauh dari usaha untuk menghasilkan sebuah sajian kisah klise yang dipaksa untuk tampil mengharu biru bagi penontonnya seperti yang mungkin akan dilakukan oleh kebanyakan sutradara drama romansa Indonesia.

Perlakuan humanis Mouly dalam mengeksplorasi berbagai sudut penceritaan dalam filmnya juga menjadi komponen yang sangat penting mengapa What They Don’t Talk About When They Talk About Love mampu tampil begitu menyentuh. Mouly memperlakukan setiap karakternya yang memiliki disabilitas fisik tersebut layaknya karakter biasa. Lewat filmnya, Mouly justru lebih berfokus tentang bagaimana para karakter tersebut mencoba mengenal dan mendalami arti cinta. Memang, cara Mouly memperlakukan jalan cerita filmnya – dengan detil yang luar biasa terjaga serta ritme penceritaan yang berjalan begitu sederhana plus sebuah adegan alternate universe yang cukup mengejutkan, mungkin akan menyebabkan banyak orang merasa bahwa What They Don’t Talk About When They Talk About Love bukanlah sebuah film yang dapat dinikmati khalayak luas. Namun, sekali lagi, begitu penonton telah mampu melupakan rumitnya usaha Mouly dalam menghadirkan jalan cerita yang (sebenarnya sangat) sederhana tersebut, penonton dipastikan akan dapat tertawa, tersentuh sekaligus terbawa memorinya ke masa-masa remaja dimana mereka sempat terbuai dengan setiap jalinan kata mutiara bernuansa romansa yang dialamatkan pada mereka. Magis!

Layaknya kualitas yang ia hadirkan dalam Fiksi (2008) – yang berhasil memenangkan empat penghargaan Festival Film Indonesia 2008 termasuk Film Terbaik serta Sutradara Terbaik, Mouly juga menghadirkan kualitas akting dan produksi yang begitu menawan dalam What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Ketiga pemeran utama, Karina Salim, Ayushita Nugraha dan Nicholas Saputra, tampil dengan penghayatan karakter yang benar-benar nyata. Tidak akan ada satu detikpun dalam penampilan ketiganya penonton akan diberikan kesempatan untuk meragukan bahwa karakter yang mereka perankan adalah karakter-karakter dengan disabilitas fisik yang membatasi ruang gerak mereka. Flawless. Dukungan penampilan dari para pemeran pendukung seperti Anggun Priambodo, Lupita Jennifer, Tutie Kirana sampai Jajang C. Noer juga semakin menambah apik kualitas departemen akting film ini.

Sementara itu, dari departemen produksi, Mouly kembali bekerjasama dengan tim yang dahulu sukses menelurkan Fiksi dan kembali mengulanginya – bahkan pada beberapa bagian tampil lebih baik – dalam What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Penataan kamera dari Yunus Pasolang mampu menghadirkan deretan gambar yang tidak hanya terlihat indah atau elegan, namun mampu berbicara banyak tentang detil emosi yang dibutuhkan jalan cerita film ini. Kualitas yang sama briliannya juga hadir dari tata musik arahan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani. Pada banyak bagian, tata musik arahan keduanya mampu tampil sangat playful dan menciptakan atmosfer cerita yang begitu menyenangkan untuk diikuti. Desain produksi film ini juga mampu tampil sederhana namun begitu meyakinkan dalam menyokong jalan penceritaan.

Setelah apa yang dilakukannya lewat debut filmnya Fiksi yang sangat brilian itu, jelas akan ada banyak pihak yang menantikan kinerja Mouly Surya dalam film keduanya – dengan pengharapan yang sangat tinggi, tentunya. Dan adalah sangat aman untuk menyatakan bahwa What They Don’t Talk About When They Talk About Love akan mampu memenuhi berbagai ekspektasi tinggi tersebut, bahkan melebihinya. Lewat naskah yang ia garap sendiri, Mouly Surya mampu menghadirkan sebuah tema penceritaan yang mungkin terkesan begitu sederhana dengan sudut pandang yang begitu segar, unik dan cerdas. Yang paling penting, Mouly memiliki visi yang kuat akan jalan cerita yang ingin ia hadirkan – baik dari presentasi gambar, suara maupun bagaimana para pemeran film ini menghidupkan karakter yang mereka perankan. Hal itulah yang membuat What They Don’t Talk About When They Talk About Love mampu berjalan begitu kelam sekaligus menghibur di saat yang sama. Sebuah presentasi yang sangat istimewa dari salah seorang sutradara tercerdas di Indonesia. Bravo!

Rating: 4 / 5
Asik bener si agan udah nonton duluan, baru nonton yang pertama kemarin buat nyambungin sama yang ini, overal 7/10 aja. Kayaknya akting om bcumber bakal wah di into darkness.
Spoiler for oot dikit:
Quote:


sekuel star trek sebenernya yang mana terus tahun berapa aja sih? emoticon-Hammer
gue pengen nonton deh dari pertama, terus nonton ini emoticon-Big Grin

gue ada star trek: generations (1994), star trek: first contact (1996), star trek: insurrection (1998), star trek: nemesis (2002) emoticon-Thinking
Quote:


star trek yg original series (jamannya kapten kirk dkk) film pertamanya itu taun 79

yg lo punya itu seri TNG, the next generation (angkatannya kapten picard)
Following
[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1
Nolan emang jenius Bikin Film ,ni film pertama doi kalau gak salah. Sumpah mau Review ni Film sulit . Plotnya aduhhhh nyampur aduk emoticon-Cape d... (S) . Endingnya Twist banget , itu beneran gak ya yang bunuh si itu emoticon-Malu????? . Ni Film temanya percampuran Memento , The Usual suspect ama Fight Club ..... keren banget dah Film ini . Recomended Buat Nonton, Tapi waktu nonton jangan ngeluh ya sama Alurnya emoticon-Ngakak

Rating ane : 9/10
Diubah oleh hahaha..
Quote:


ooh oke om dre,

oiya terus yang into the darkness ini remake yang mana?

terus yang star trek 2009 itu remake juga bukan sih? emoticon-Thinking
om nolan gak ada duanya emoticon-Big Grin
https://
Quote:


yg 2009 itu bukan remake, prequel tepatnya
prequel dari original series yg taun 1979
nyeritain awal2 si kirk sebelum jadi kapten, dan gimana dia bisa jadi kapten enterprise akhirnya.

nah yg into darkness ini udah mulai nyambung/ nyampur ke timeline original series film yang ke-2 (1982)

jadi mirip2 kayak starwars yg baru (I-III) ceritanya sebelum starwars yg jadul (eps IV)
[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1
Dia (max) beranggapan gaji kecil yang membuat mereka korupsi, namun gaji besar tak menyurutkan mereka untuk tetap korupsi...
#Ketika yang terjajah dan yang dijajah berkonspirasi dalam korupsi

8/10 untuk biografinya....
Beatiful Creature - good movie
Quote:

twistnya bener2 ga nyangka dah film yg sangat jeniusemoticon-thumbsup
Quote:

khas banget komedi british...
myrate 7/10
Spoiler for Film Cover:


Review :
Filmnya ngebosenin (menurut ane), tentang seorang pemuda rada - rada gila, hobinya bunuhin cewe n diambil rambutnya doang. rambut nya buat apaan? ya tonton aja klo penasaran [Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1

Nilai: 3/10 ( tega banget kayaknya ya emoticon-Ngakak )
Diubah oleh aki2titasik

Jagten / The Hunt (2012 / 2013)


[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1


3.5 / 4



Seorang guru yang kesepian, harus menanggung akibat dari sebuah kebohongan kecil yang dilakukan oleh salah satu muridnya.



Drama yang terlihat natural , simple , dan didukung oleh akting jempolan dari Mads Mikkelsen (dan juga cast pendukungnya)..


Jagten
adalah sebuah film yang akan menguras rasa simpati dan (bisa jadi) air mata anda.




emoticon-thumbsup +


[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1


Quote:

gw pengen nabok tuh anak watados emoticon-Ngakak (S)
bikin emosi aja emoticon-Big Grin
Diubah oleh griana

[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1

biografi seorang petualang amerika bernama Christopher McCandless aka Alexander Supertramp yang melakukan perjalanan ke Alaska dan hidup seorang diri di hutan belantara.

yah..Into the Wild adalah film yang sangat inspiratif,tapi meskipun begitu saya taakan pernah melakukan apa yang Chris lakukan.

4/5

Diubah oleh griana
Let The Right One In (2008)
[Thread Review Film] The Last Film You Saw - Good/bad/Biasa? MASUK!! - Part 1


Film ini menceritakan Oskar yang tidak mempunyai teman, dan sebab dia tidak punya teman adalah karena dia sering dibully disekolahnya. Karena hal itu dia jadi sedikit "Psyco" dengan menghayal kalo dia yang menjadi pelaku pembully tersebut. Hingga pada suatu malam dia masih berhayal tentang betapa jahatnya dia, datanglah sebuah keluarga yang baru saja pindah disebelah apartemen Oskar. Keluarga itu terdiri dari Bapak dan seorang anak perempuan bernama Eli. Dan semenjak kedatangan Eli kehidupan Oskar pun berubah drastis.

Sebetulnya ini film ada original versi dari Let Me In, film ini dibuat di swedia. Banyak orang yang selalu membandingkan antara versi original dan versi remake, tapi menurutku sih sama2 bagus soalnya ceritanya memang 100% sama. Tapi kalo menurutku sih lebih bagus Let me in dari pada ini haha. Soalnya ada faktor lain, yaitu faktor Chloe hehe emoticon-Embarrassment.

Rate 7/10 emoticon-televisi
Quote:


Spoiler for :
Quote:


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Spoiler for :
Halaman 50 dari 504
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di