- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita Luar Negeri
Pembalut Wanita Dipajaki, Mahasiswi Aussie Protes


TS
cenlee
Pembalut Wanita Dipajaki, Mahasiswi Aussie Protes

Petisi yang diajukan oleh seorang mahasiswi di Perth mendesak dihilangkannya pajak pertambahan nilai yang dikenakan terhadap pembalut wanita mendapatkan dukungan luas. Sejauh ini, petisi online tersebut sudah mendapatkan dukungan hampir 40 ribu orang.
Quote:
Petisi yang diajukan oleh seorang mahasiswi di Perth mendesak dihilangkannya pajak pertambahan nilai yang dikenakan terhadap pembalut wanita mendapatkan dukungan luas. Sejauh ini, petisi online tersebut sudah mendapatkan dukungan hampir 40 ribu orang.
Sophie Liley dari Jurusan Wanita di Universitas Western Australia memulai petisi tersebut awal Februari. Semula, dia mengira hanya akan mendapatkan dukungan sekitar 10 ribu orang saja, namun sekarang berharap akan mendapat sedikitnya 40 ribu dukungan demikian laporan harian Western Australia Today hari Jumat (22/2/2013).
"Mengenakan biaya tambahan akibat kebutuhan dasar biologis seseorang merupakan tindakan diskriminasi, khususnya lagi karena kondom yang merupakan produk kesehatan dasar tidak dikenai pajak, seperti halnya tampon.
-- Sophie Liley"
Di Australia kebutuhan dasar seperti makanan, pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan anak (child care) tidak dikenai pajak pertambahan nilai, namun tampon dan pembalut wanita lainnya dikenai pajak 10 persen sebagai bagian dari pajak barang dan layanan yang ditetapkan mulai tahun 2000.
Dalam petisi online tersebut, Liley menulis protes "serius" ini dengan kata-kata yang berkaitan dengan pembalut wanita seperti "pajak ini membuat kram perut", dan "merupakan noda bagi citra nasional". Liley juga sudah mengirimkan surat protes ini kepada Perdana Menteri Julia Gillard dan pemimpin oposisi Tony Abbott dan para politisi lain.
"Mengenakan biaya tambahan akibat kebutuhan dasar biologis seseorang merupakan tindakan diskriminasi, khususnya lagi karena kondom yang merupakan produk kesehatan dasar tidak dikenai pajak, seperti halnya tampon," tulis surat tersebut.
Surat itu juga menambahkan biaya tambahan ini melanggar hak ekonomi wanita Australia, karena merugikan sekitar 1000 dolar (sekitar Rp 10 juta) selama hidup mereka sebagai pajak tambahan.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L. Sastra Wijaya, ini diperburuk lagi karena wanita secara rata-rata mendapatkan penghasilan lebih sedikit dibanding pria. Biro Statistik Australia hari Kamis mengeluarkan data yang mengatakan bahwa wanita di Western Australia mendapat penghasilan 469 dolar per minggu lebih sedikit dibandingkan pria.
Petisi ini mendapatkan dukungan dari Ketua Ikatan Dokter Australia Cabang Western Australia Richard Choong yang mengatakan pembalut wanita bukan lagi barang mewah sehingga tidak perlu adanya pajak pertambahan nilai.
"Untuk menyatakan sesuatu sebagai barang mewah, maka harus ada produk alternatif. Padahal di sini tidak ada. Jadi saya bisa mengatakan produk pembalut wanita bukan barang mewah, sehingga tidak perlu dikenai pajak," kata Choong.
Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah maupun pihak oposisi yang sudah dihubungi oleh media. Namun Sophie Liley mengatakan dengan pemilu akan diselenggarakan bulan September, dia masih berharap akan adanya tindakan yang diambil.
"Wanita yang dalam usia subur masih memerlukan tamponm, dan mereka akan menjadi salah satu pemilih utama di pemilu nanti. Jadi mereka harus mendengarkan kami bila ingin kami memberikan suara untuk mereka." kata petisi tersebut.
Sophie Liley dari Jurusan Wanita di Universitas Western Australia memulai petisi tersebut awal Februari. Semula, dia mengira hanya akan mendapatkan dukungan sekitar 10 ribu orang saja, namun sekarang berharap akan mendapat sedikitnya 40 ribu dukungan demikian laporan harian Western Australia Today hari Jumat (22/2/2013).
"Mengenakan biaya tambahan akibat kebutuhan dasar biologis seseorang merupakan tindakan diskriminasi, khususnya lagi karena kondom yang merupakan produk kesehatan dasar tidak dikenai pajak, seperti halnya tampon.
-- Sophie Liley"
Di Australia kebutuhan dasar seperti makanan, pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan anak (child care) tidak dikenai pajak pertambahan nilai, namun tampon dan pembalut wanita lainnya dikenai pajak 10 persen sebagai bagian dari pajak barang dan layanan yang ditetapkan mulai tahun 2000.
Dalam petisi online tersebut, Liley menulis protes "serius" ini dengan kata-kata yang berkaitan dengan pembalut wanita seperti "pajak ini membuat kram perut", dan "merupakan noda bagi citra nasional". Liley juga sudah mengirimkan surat protes ini kepada Perdana Menteri Julia Gillard dan pemimpin oposisi Tony Abbott dan para politisi lain.
"Mengenakan biaya tambahan akibat kebutuhan dasar biologis seseorang merupakan tindakan diskriminasi, khususnya lagi karena kondom yang merupakan produk kesehatan dasar tidak dikenai pajak, seperti halnya tampon," tulis surat tersebut.
Surat itu juga menambahkan biaya tambahan ini melanggar hak ekonomi wanita Australia, karena merugikan sekitar 1000 dolar (sekitar Rp 10 juta) selama hidup mereka sebagai pajak tambahan.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L. Sastra Wijaya, ini diperburuk lagi karena wanita secara rata-rata mendapatkan penghasilan lebih sedikit dibanding pria. Biro Statistik Australia hari Kamis mengeluarkan data yang mengatakan bahwa wanita di Western Australia mendapat penghasilan 469 dolar per minggu lebih sedikit dibandingkan pria.
Petisi ini mendapatkan dukungan dari Ketua Ikatan Dokter Australia Cabang Western Australia Richard Choong yang mengatakan pembalut wanita bukan lagi barang mewah sehingga tidak perlu adanya pajak pertambahan nilai.
"Untuk menyatakan sesuatu sebagai barang mewah, maka harus ada produk alternatif. Padahal di sini tidak ada. Jadi saya bisa mengatakan produk pembalut wanita bukan barang mewah, sehingga tidak perlu dikenai pajak," kata Choong.
Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah maupun pihak oposisi yang sudah dihubungi oleh media. Namun Sophie Liley mengatakan dengan pemilu akan diselenggarakan bulan September, dia masih berharap akan adanya tindakan yang diambil.
"Wanita yang dalam usia subur masih memerlukan tamponm, dan mereka akan menjadi salah satu pemilih utama di pemilu nanti. Jadi mereka harus mendengarkan kami bila ingin kami memberikan suara untuk mereka." kata petisi tersebut.
Spoiler for Pajak pertambahan nilai:
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax (VAT) atau Goods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung.
Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang atau produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP. Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya.
Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen. Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah Undang-Undang No. 8 Tahun 1983 berikut perubahannya, yaitu Undang-Undang No. 11 Tahun 1994, Undang-Undang No. 18 Tahun 2000, dan Undang_Undang No. 42 Tahun 2009.
Commen TOP
Quote:
Original Posted By gerbera4►
Pembalut kan bahan sintetis yang menyerap air, pernah membayangkan dampaknya bagi lingkungan kalu pmbalut menumpuk? Buat barang yang dampak lingkungannya gede biasanya pajaknya jugak gede dengan syarat pemerintahnya beneran mngatasi dampak lingkungan tsb dari dana pajak tsb. Bisa jugak sebenernya pemerintah 'straya sedang kampanye penggunaan pmbalut reuseable.
Membandingkan pembalut dengan kondom nggak tepat, karena kondom bukan kbutuhan dasar. Pajak bagi pembalut disposable masih reasonable.
FEMINAZI CHECK YOUR CISPRIVILEGE!!!
Pembalut kan bahan sintetis yang menyerap air, pernah membayangkan dampaknya bagi lingkungan kalu pmbalut menumpuk? Buat barang yang dampak lingkungannya gede biasanya pajaknya jugak gede dengan syarat pemerintahnya beneran mngatasi dampak lingkungan tsb dari dana pajak tsb. Bisa jugak sebenernya pemerintah 'straya sedang kampanye penggunaan pmbalut reuseable.
Membandingkan pembalut dengan kondom nggak tepat, karena kondom bukan kbutuhan dasar. Pajak bagi pembalut disposable masih reasonable.
FEMINAZI CHECK YOUR CISPRIVILEGE!!!
Sorce***
Diubah oleh cenlee 23-02-2013 23:04
0
3.1K
Kutip
21
Balasan


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan