- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Wawancara dg Mucikari Ayam Kampus yg honornya Rp 60 jt
TS
dianas
Wawancara dg Mucikari Ayam Kampus yg honornya Rp 60 jt
Gawat nih gan Ayam Kampus ternyata bertebaran di mana-mana. Pendapatannya bisa Rp 60 juta per bulan. Bahkan ada menteri yang menjadi pelanggannya:

Wawancara Mucikari Ayam Kampus
TEMPO.CO, Jakarta- Panggil saja dia Doni, sang mucikari yang memelihara 10 ayam kampus. Penampilannya malam itu cukup mencolok. Sepatu pantofel merah dipadu jeans gelap dan kemeja abu-abu. Gerak tubuhnya gemulai. Sebelas dua belas dengan gaya bicaranya yang "ngondek". Tempo menemui lelaki berambut pendek ini di sebuah kafe, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Di restoran penuh ornamen klasik itu, Doni blak-blakan soal dunia ayam kampus. Berikut petikan wawancaranya:
Siapa pelanggan setia ayam kampus peliharaan Anda?
Seorang jenderal. Aku memanggilnya "ayah". Dia masih aktif menjabat. Aku biasa menemaninya "nyabu" di sebuah hotel dengan membawa tiga culay (ayam kampus). Ayah jarang nge-seks dengan culay, lebih suka ditemani saja. Dia tidak memaksa harus berapa banyak si ayam pakai sabu. Sekuatnya. Ayah mengatakan jika ada aparat yang melakukan razia, jangan dipercaya. Aku diajari, kalau ada razia, harus tanya ada surat izin razia atau tidak.
Menteri, salah satunya AM. Untuk menteri satu ini aku memakai ayam cabutan, alias peliharaan mucikari lain. Aku membandrol ayam itu Rp 7 juta. Aku dapat Rp 500 ribu dari AM dan Rp 1 juta dari si ayam. Aku ketemu AM pertama kali di sebuah klub malam. Pelanggan aku juga ada pengusaha yang merupakan mantan suami artis ternama. Ya, kalau di rata-rata ada 10 pelanggan selama seminggu.
Ada tidak ekspatriat yang menggunakan jasa ayam peliharaan Anda?
Jelas ada. Ayam kampus itu pintar bahasa Inggrisnya. Tamu asing pelangganku berasal dari Jepang dan Korea. Harga aku bandrol Rp 4 juta sebagai harga termurah. Nah, ayam kampus senang sekali dengan pelanggan dari dua negara ini. Karena paling lama mainnya cuma 5 menit, jadi tidak cape. Kata anak-anak "barangnya" juga kecil (tertawa).
Pelanggan Anda banyak juga. Berapa persen Anda mengambil bagian dari ayam Anda?
Tidak ada hitungan persen. Kalau bandrol culaynya Rp 3 juta atau Rp 4 juta, maka aku tetap potong Rp 500 ribu, jadi mereka akan terima Rp 2,5 juta. Itu sudah bagian mereka semua, bersih. Aku tidak pernah mau mengambil lebih besar. Kecuali ayam cabutan seperti AM tadi. Tetapi biasanya aku dapat lagi dari tamu yang menyewa mereka dan itu adalah hak aku. Jumlahnya tidak tentu.
Bagaimana Anda memasarkan ayam kampus peliharaan Anda?
Mudah. Bisa transaksi langsung, lewat telepon atau bbm. Di telpon genggam aku ini tersimpan foto-foto culay. Aku menyebarkan foto mereka ke calon pelanggan. Jika sudah "deal" langsung berangkat. Namun ketika bertemu tidak sesuai harapan, para tamu tetap harus membayar uang cancel. Uang cancel berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 1 juta.
Memang berapa banyak jumlah ayam yang Anda pelihara dan spesifikasi harganya seperti apa?
Ada sepuluh. Untuk ayam kampus yang tinggi, cantik, dan servisnya memuaskan, aku menyebutnya kategori "model". Mereka dibandrol Rp 3-4 juta. Di bawah itu ya standar, bisa Rp 1,5-2 juta. Grade mereka bisa meningkat tergantung dari laporan tamu setelah "main". Yang kepribadian dan permainannya bagus tentu aku gunakan terus dan diperkenalkan ke tamu-tamu berstandar tinggi. Itu membuat harganya kian meningkat.
Bagaimana proses seleksi ayam yang akan Anda pelihara?
Aku melakukan seleksi sendiri. Aku melihat kepribadian dan fisiknya. Untuk pengecekan dalam (daerah kewanitaan), aku membawanya ke dokter langganan di kawasan Duren Tiga, Jakarta. Dokter di sana sudah memahami urusanku setiap kali aku membawa perempuan.
>> Simak Edisi Khusus Ayam Kampus di sini. Soalnya panjanjang ceritanya
Baca juga:
Cerita 'Ayam Kampus', Gundik Terdidik
'Ayam Kampus' Bisa Dipesan Hingga Luar Negeri
Kisah Ayam Kampus yang Jadi Budak Seks
Rekrut Ayam Kampus Pakai 'Intelijen'
1:

Wawancara Mucikari Ayam Kampus
TEMPO.CO, Jakarta- Panggil saja dia Doni, sang mucikari yang memelihara 10 ayam kampus. Penampilannya malam itu cukup mencolok. Sepatu pantofel merah dipadu jeans gelap dan kemeja abu-abu. Gerak tubuhnya gemulai. Sebelas dua belas dengan gaya bicaranya yang "ngondek". Tempo menemui lelaki berambut pendek ini di sebuah kafe, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Di restoran penuh ornamen klasik itu, Doni blak-blakan soal dunia ayam kampus. Berikut petikan wawancaranya:
Siapa pelanggan setia ayam kampus peliharaan Anda?
Seorang jenderal. Aku memanggilnya "ayah". Dia masih aktif menjabat. Aku biasa menemaninya "nyabu" di sebuah hotel dengan membawa tiga culay (ayam kampus). Ayah jarang nge-seks dengan culay, lebih suka ditemani saja. Dia tidak memaksa harus berapa banyak si ayam pakai sabu. Sekuatnya. Ayah mengatakan jika ada aparat yang melakukan razia, jangan dipercaya. Aku diajari, kalau ada razia, harus tanya ada surat izin razia atau tidak.
Menteri, salah satunya AM. Untuk menteri satu ini aku memakai ayam cabutan, alias peliharaan mucikari lain. Aku membandrol ayam itu Rp 7 juta. Aku dapat Rp 500 ribu dari AM dan Rp 1 juta dari si ayam. Aku ketemu AM pertama kali di sebuah klub malam. Pelanggan aku juga ada pengusaha yang merupakan mantan suami artis ternama. Ya, kalau di rata-rata ada 10 pelanggan selama seminggu.
Ada tidak ekspatriat yang menggunakan jasa ayam peliharaan Anda?
Jelas ada. Ayam kampus itu pintar bahasa Inggrisnya. Tamu asing pelangganku berasal dari Jepang dan Korea. Harga aku bandrol Rp 4 juta sebagai harga termurah. Nah, ayam kampus senang sekali dengan pelanggan dari dua negara ini. Karena paling lama mainnya cuma 5 menit, jadi tidak cape. Kata anak-anak "barangnya" juga kecil (tertawa).
Pelanggan Anda banyak juga. Berapa persen Anda mengambil bagian dari ayam Anda?
Tidak ada hitungan persen. Kalau bandrol culaynya Rp 3 juta atau Rp 4 juta, maka aku tetap potong Rp 500 ribu, jadi mereka akan terima Rp 2,5 juta. Itu sudah bagian mereka semua, bersih. Aku tidak pernah mau mengambil lebih besar. Kecuali ayam cabutan seperti AM tadi. Tetapi biasanya aku dapat lagi dari tamu yang menyewa mereka dan itu adalah hak aku. Jumlahnya tidak tentu.
Bagaimana Anda memasarkan ayam kampus peliharaan Anda?
Mudah. Bisa transaksi langsung, lewat telepon atau bbm. Di telpon genggam aku ini tersimpan foto-foto culay. Aku menyebarkan foto mereka ke calon pelanggan. Jika sudah "deal" langsung berangkat. Namun ketika bertemu tidak sesuai harapan, para tamu tetap harus membayar uang cancel. Uang cancel berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 1 juta.
Memang berapa banyak jumlah ayam yang Anda pelihara dan spesifikasi harganya seperti apa?
Ada sepuluh. Untuk ayam kampus yang tinggi, cantik, dan servisnya memuaskan, aku menyebutnya kategori "model". Mereka dibandrol Rp 3-4 juta. Di bawah itu ya standar, bisa Rp 1,5-2 juta. Grade mereka bisa meningkat tergantung dari laporan tamu setelah "main". Yang kepribadian dan permainannya bagus tentu aku gunakan terus dan diperkenalkan ke tamu-tamu berstandar tinggi. Itu membuat harganya kian meningkat.
Bagaimana proses seleksi ayam yang akan Anda pelihara?
Aku melakukan seleksi sendiri. Aku melihat kepribadian dan fisiknya. Untuk pengecekan dalam (daerah kewanitaan), aku membawanya ke dokter langganan di kawasan Duren Tiga, Jakarta. Dokter di sana sudah memahami urusanku setiap kali aku membawa perempuan.
>> Simak Edisi Khusus Ayam Kampus di sini. Soalnya panjanjang ceritanya
Baca juga:
Cerita 'Ayam Kampus', Gundik Terdidik
'Ayam Kampus' Bisa Dipesan Hingga Luar Negeri
Kisah Ayam Kampus yang Jadi Budak Seks
Rekrut Ayam Kampus Pakai 'Intelijen'
1:
0
6K
23
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan