CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
CINTA TAPI BEDA dibredel FPI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50de728c2d75b4d821000008/cinta-tapi-beda-dibredel-fpi

CINTA TAPI BEDA dibredel FPI

Tampilkan isi Thread
Halaman 11 dari 13
bagaimana dengan yang ini, bro

Senin, 03 November 2003 | 03:24 WIB



Masyarakat Adat Somasi Produser Film "Kafir"
TEMPO Interaktif, Jakarta: Masyarakat Adat Karuhun Sunda melalui LBH Jakarta melayangkan somasi terhadap produser film ?Kafir? produksi PT Kharisma Starvison Plus. ?Film tersebut memberikan kebohongan publik,? kata Dewi Kanti, anggota Masyarakat Adat Karuhun Sunda, Senin (3/10) sore.

Menurut Dewi, akibat penayangan film tersebut masyarakat Karuhun Sunda dianggap tak ber-Tuhan. Sebab, film tersebut menyatakan mengambil kisah nyata tokoh Pangeran Madrais. Tokoh tersebut digambarkan sebagai dukun santet yang banyak menyembuhkan orang dengan tetesan keringatnya.

?Madrais tidak seperti itu,? kata Dewi yang juga buyut dari Pangeran bernama lengkap Sadewa Alibassa Kusumah Wijayaningrat. Madrais, kata Dewi adalah seorang spiritualis yang mengajarkan kebaikan dan mampu menembus lintas agama.

Selain itu, ditambahkan Djati Kusumah, cucu Madrais, kakeknya adalah pejuang yang disegani Belanda. ?Dia menyadarkan untuk melakukan pergerakan melawan Belanda,? katanya. Akibat dari film tersebut, kata Djati, keturunan dan pengikut Madrais mengalami tekanan psikologis dan dituduh sebagai keturunan dukun santet.

Menurut Djati, sutradara ?Kafir?, Mardalih Syarif, tidak pernah melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada dirinya. Walaupun, katanya, Mardalih mengatakan melakukan konsultasi dengan salah seorang warga di Cigugur mengenai seorang tokoh dalam cerita tersebut.

Februari 2003, kata Djati, sutradara filmnya pernah diundang ke masyarakat adat tersebut. ?Dia menyadari kesalahannya dan minta maaf. Kami minta dia menyatakan permintaan maaf tersebut ke media cetak dan elektronik nasional,? katanya. Namun, hingga kini, tidak ada permintaan maaf seperti yang diminta masyarakat.

Direktur LBH Jakarta, Uli Parulian Sihombing, mengatakan, pihaknya menunggu hingga tujuh hari mendatang sejak somasi ini dilayangkan kepada Chand Parwez Servia dari rumah produksi film tersebut. Dalam somasi yang dilayangkan Senin, LBH meminta agar film tersebut ditarik. Kemudian, ada pernyataan permintaan maaf serta memfasilitasi adanya talk show antara produser dengan masyarakat adat.

Yophiandi - Tempo News Room

http://m.tempo.co/read/news/2003/11/...ser-Film-Kafir
si hanung juga ngeselin. idenya cuma ngangkat tema2 yang kontroversial, biar filmnya laku...
sempit banget gan pemikirannya

bingung deh emoticon-Cape d... (S)
Quote:



hehehehe kalo itu sih salah satu ciri pilem Indonesia Gan.... yaitu LEBAY..!!!!. Kalo ga lebay bukan pilem Indonesia namanya Gan...
Diubah oleh qiudee
Quote:


Betul...syarat dalam Islam. Apa anda mau mengesampingkan sholat istikhoroh ??

Dulu, tante ane juga ragu kimpoi sama orang beda agama, karena di dalam islam tidak boleh wanita muslim menikah dengan pria selain muslim. Tapi, tante ane percaya dengan sholat istikhoroh. 3 bulan sholat, tetep aje jawaban dari Tuhan yeee...die..die juga yg sekarang jadi om gw. Sempet ditinggal sama tante gw, ehh....tetep aje...die...die lagi yg balik.

Trus, loe mau sangkal kekuasaan Allah akan sholat istikhoroh ??? Buktinya, kehidupan tante gw berubah yg dulu abal2 an sekarang jauh lebih muslimah baik dari ucapan, perbuatan sampe pakaian. Atas siapa?? Atas nasihat suaminya yang beragama Kristiani !!

Kalo uda begitu, ente mau ngomong apa ????emoticon-Malu
emoticon-Pasangan Smileycool
Quote:


contoh komentar yg dangkal...

anda perlu baca artikel di bawah ini

‘Kafir’ versus Memori Kolektif
Anuri Furqon | 23 - Jan - 2008

Beberapa tahun ini iklim perfilman nasional kembali bergeliat. Berbagai topik film kembali dihidupkan dari petualangan anak-anak, kisah cinta anak SMU, hal mistik sampai penyimpangan nilai-nilai agama. Tidak ketinggalan film “Kafir”, film yang dibintangi oleh H. Sudjiwo Tedjo dan Meriam Bellina dan disutradarai oleh Mardali Syarif. Sebagaimana film-film yang lain, film itu pun dibanjiri banyak pengunjung dan dengan bangga sang sutradara dan produser film dari Starvision, Chand Parvez, mengatakan ke berbagai media bahwa itu juga merupakan sumbangan dakwah Islam yang ia berikan kepada masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Film itu menggambarkan tentang seorang tokoh sakti, Kuntet Dilaga, dukun yang banyak dimintai tolong banyak orang. Dukun itu memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi dan ajaran sesat sehingga menyebabkan kesombongan pada dirinya. Kisah itu diakhiri dengan kematian sang dukun yang kematiannya tidak diterima oleh bumi karena berbagai perbuatan yang dilakukan semasa hidupnya.

Film itu sesungguhnya tidak berbeda dengan film-film yang lainnya. Tetapi, yang istimewa dalam film itu adalah efek ketika sutradara film diwawancarai oleh wartawan SCTV mengenai keberhasilan film itu dalam menarik perhatian masyarakat. Sang sutradara mengatakan film itu diilhami oleh sebuah kisah nyata seorang sakti yang bernama Madrais yang hidup di Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

Keterangan ini kontan saja membuat banyak masyarakat yang berasal dari Cigugur bereaksi tidak membenarkan keterangan Mardali. Walaupun Mardali menyatakan bahwa keterangan itu tidak dimaksudkan sebagai penjelas cerita film itu, tetapi tetap saja masyarakat Cigugur yang memiliki ingatan kolektif tentang Madrais merasa bahwa keterangan yang dimiliki oleh Mardali adalah keterangan yang leupat (salah).

Demikian dinyatakan Abah Entang, seorang yang selama 17 tahun dekat dengan keluarga Madrais. Sebagian orang lagi mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Mardali adalah cara yang tidak manusiawi dan etis, lepas dari cara-ciri manungsa. Demikian dikatakan Abu Naim, pengikut ajaran Mad Rais dari generasi yang lebih muda. Sehingga kemudian para ais pengampi (tetua adat) mengklarifikasi berbagai karakter yang dibunuh seperti sebagai dukun santet, menebarkan ajaran sesat, dan kematian yang tidak diterima bumi. Mereka mengklarifikasi dengan karakter seorang pluralis, patriot, anti-dikultuskan dan pecinta tanah air.

Bagi masyarakat Cigugur, Mad Rais adalah seorang patriot yang mengajarkan nilai-nilai spiritual yang universal yang pluralis. Mad Rais oleh Pemerintah Kolonial sempat dikhawatirkan sebagai seorang penggerak gerakan protes yang marak pada masa rust en orde (keamanan dan ketertiban) diakhir awal abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bahkan, Pemerintah Kolonial Belanda meminta keterangan dari para pamong praja seperti Patih Kanoman Cirebon dan pejabat kolonial: pejabat kontrolir dan assisten residen.

Dari keterangan mereka bagi masyarakat Cigugur selama ini stigma yang ada pada masyarakat mengenai Kiai Mad Rais timbul. Prasangka buruk itu muncul disebabkan Pemerintah Kolonial mencap Kiai Mad Rais adalah penganut ajaran sesat. Bagi masyarakat Cigugur stigma ini diciptakan oleh Belanda karena Kiai Mad Rais adalah seorang patriot yang berjuang untuk membebaskan diri dari kungkungan Kolonialis Belanda. Selain disebabkan oleh kesalahan mata-mata kontrolir yang menafsirkan perkataan Kiai Mad Rais bahwa manusia harus hidup dengan memakan-minum air keringat, mata-mata itu menafsirkan itu secara letterlijk. Padahal menurut pengikut Mad Rais itu berarti manusia harus mandiri, berdiri di atas kaki sendiri dan merdeka dari kungkungan orang lain. Yang terakhir ini menurut para pengikut Madrais adalah ajaran patriotisme Kiai Madrais.

Dengan demikian para pengikut Mad Rais ingin mengatakan bahwa apa yang mengilhami pembuatan film itu adalah sangat bias kolonial dan bias SARA yang bisa menimbulkan perpecahan antar agama. Rama Djati, panggilan akrab Pangeran Djatikusuma, mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh film itu dikhawatirkan bisa menggoyahkan tatanan yang sudah damai dan tenteram hidup dengan nilai-nilai tradisi yang diwarisi. Karena masyarakat Cigugur adalah masyarakat yang cukup plural. Di sana komunitas Katolik dan Islam berdiri berdampingan bersama-sama masyarakat penganut penghayat, para pengikut ajaran Kiai Madrais dalam bingkai ajaran Kiai Madrais. Apa yang dilakukan oleh Mardali adalah upaya melakukan afirmasi definisi “kafir” yang beredar di kalangan Islam. Definisi ini dikhawatirkan oleh Rama Djati akan diterima oleh komunitas Islam Cigugur dan diarahkan kepada komunitas penghayat yang masih memegang teguh ajaran Kiai Madrais. Kekhawatiran berikutnya adalah penegasan stigma sesatnya ajaran Kiai Madrais yang terdapat pada masyarakat umum. Ditambah lagi persebaran film yang sudah beredar di tengah masyarakat.

Di sisi lain akhir-akhir ini wacana keagamaan, terutama Islam, sedang mengangkat wacana pengkafiran di kalangan kelompok Islam fundamentalis. Sehingga dari sini kemudian timbul kecurigaan di sini apakah pernyataan Mardali mengenai sumbangan dakwahnya terhadap Islam adalah pernyataan yang sungguh-sungguh atau hanya ingin menyesuaikan diri dengan wacana yang sedang dominan sehingga pernyataan itu kemudian dicurigai—lagi-lagi—sebagai upaya promosi di tengah masyarakat yang sedang gandrung secara tren terhadap Islam.

Dalam kasus ini terjadi beberapa pelanggaran cultural rights yang dimiliki oleh masyarakat Cigugur. Pertama, pelanggaran sejarah masa lalu Kiai Madrais yang dimiliki oleh memori kolektif, kedua, stigmatisasi yang negatif komunitas pengikut keyakinan ajaran Madrais lewat penamaan judul. Ketiga, penyebaran stigma negatif kepada masyarakat lewat film dan keterangan sutradara sehingga bisa menimbulkan kebencian terhadap satu komunitas. Keempat, mengusik ketenangan dan tatanan yang sudah masyarakat adat yang sudah terpelihara dalam waktu yang cukup lama. Desantara / Anuri Furqon

http://www.desantara.or.id/01-2008/7...mori-kolektif/
no comen aj ah............ emoticon-Takut
ah si hanung, masih belum belajar dari kasus yang sudah2..

wani piro bung!

emoticon-Ngakak

CINTA TAPI BEDA dibredel FPI
Diubah oleh Silver.Snake
Sudah ane duga pas baca judulnih, ane keinget FPI emoticon-Ngakak
paan si fpi pengen bgt nyari tenar emoticon-Najis (S)
mending cari kerjaan yg bener ngapa sono
pendapat ane soal pilem ini hehe emoticon-Big Grin

ane udah nonton film nya... n tanggapan ane..... emoticon-Ngakak

satu 1, jujur islam yg di gambarkan di film ane bingung si hanung mau ngarah ke islam fundamental apa moderat emoticon-Cape d... (S)

ke 2 si hanung sepertinya ga tau budaya minang lebih dalam dari awal ane nonton ane udah merasa aneh ini si hanung kok masang si Agni jadi orang padang.. dan kristen pula (padahal agni aslinya islam), karena ane yakin orang padang/minang ampir2 tidak ada yg jadi agama lain selain islam

dari sisi film... film ini biasa aaja ane rasa hanung mau ngambil untung dari kontroversi jadi nya dia pikir bakal banyak yang nonton eh nyatanya malah di tarik ya rugi emoticon-Ngakak emoticon-Big Grin

ke 3 ending nya gantung trus jadi nya pacaran di luar nikah gitu??? ciyuss??? miapah??? emoticon-Cape d... (S)

ke 4 dari point ke 3 berarti gw rasa hanung itu pengen ngerusak agama islam krn di film sebelumnya, tanda tanya ? (judul film nya ?) dia menggambarkan BANSER NU sebagai ormas sadis merusak2 padahal NU dan banser adalah organisasi paling damai di Indonesia, di film ini pula ia mencoba memutar balikan fakta agama islam, untung nya di film ? hanung mengkritik NU jadi nya tuh film cuma perlu di sensor dan di sortir tapi tetep boleh tayang itu karena NU ormas nya Gusdur yang leogowo dan paham peberbedaan

ke 5 kalo dari pangsa pasarnya ini film anak2 abg labil yg pacaran beda agama dan itu bahaya karena pemikiran mereka masih gampang di obok2 jadi makin ketawan MODUS nya si hanung... itu apa (point ini masih nyambung ama point ke 4)

ke 6 tetapi jujur disini acting2 pemain nya bagus apalagi Agni bener2 bikin terenyuh suasana

7 kalo ane sih apapun yg terjadi ane mah DUKUNG MBAK AGNI nya aja I LOVE U AGNI!!!! emoticon-Kiss emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Big Grin

kalo bisa taro page one gan emoticon-Betty
Diubah oleh bonarsirait
Quote:


bukanya di pelm "Tanda Tanya"ormas Banser bertugas untuk jaga gereja pas malam natal yahemoticon-Bingung (S)

ane jujur aja blm ntn pelmnya.,dan kykna ga ada niat nntn, kecuali donlodemoticon-Malu (S).,tp menurut hemat ane, it's just a movie, ambil hikmah nya aja
Quote:


nulisnya font biasa aja gan, kita kita disini belum pada buta kok.
nggk usah dan nggak perlu apa apa "WAJIB" berlandaskan islam dll dll, emang ente pikir Indonesia negara Islam?
Mau dikemanain agama yg lain?
Belajar dulu ngehargain orang lain,baru ente ngaskus, biar nggak menuh menuhin kaskus dengan komen ente emoticon-Malu (S)

kalau ente berpikiran sesempit kaoskaki ente sih mendingan ente pindah ke timur tengah aja gan..
banyak noh disana yg pikirannya sama kayak ente, kan asik gan, bnyk temennya.emoticon-Big Grin

nggak perlu pake emosi gan, zudah zana cuci kaki dulu terus tidur..besok sekolah kan?emoticon-Shutup
Quote:


Harusnya bukan cuma mikir. Mestinya setiap endingnya dibikin kayak film ayat-ayat cinta, pasti pujian yang keluar bukannya cacian.

Kalau masih separo2 atau murtad ya jelas diprotes lah..

*benar atau benar
Quote:


yg pengen dibela ama ente sape?? kan ada pak polisi, dan TNI yg emang bertugas membela seluruh warga Indonesia... dilatih khusus lg...
Faham Paling Intoleran emoticon-fuck
Quote:


-------------------------
Kayaknya takut amat ama liberal, plural dll. Katanya agama sempurna, harusnya gak takut ama yang gituan. sante aja lagi. Kalau yang baik pasti laku dan gak usah dilindungi, udah dilindungi ama yang menciptakan agama. Emangnya ormas lebih kuat dari pada maha pencipta.

Quote:


sayangnya hanung ga pernah ada budget buat setor ke fpi emoticon-Big Grin
ini masalah utamanya apa ya?

gw masih bingung bray... karena jujur saja, kadang sebagai sineas, hanung memang hebat dalam mengemas filmnya... kadang memang berlebihan... sebagimana tuntutan art yang sometime perlu di lebih2kan buat menarik perhatian,
masalahnya, di kita kadang anggap film sebagai sebuah kenyataan emoticon-No Hope
Halaman 11 dari 13


×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di