CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Dua orang yang paling bertanggungjawab terhadap kebesaran dan kehancuran Roma
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014973288/dua-orang-yang-paling-bertanggungjawab-terhadap-kebesaran-dan-kehancuran-roma

Dua orang yang paling bertanggungjawab terhadap kebesaran dan kehancuran Roma

Dua orang yang paling bertanggungjawab terhadap kebesaran dan kehancuran Roma

1. Gaius Marius

Sumbangsih: melakukan reformasi perekrutan prajurit ketika Roma mengalami kelangkaan calon prajurit.

Sebelum Marius, prajurit Roma hanya boleh berasal dari kaum bangsawan yang punya tanah luas dan mampu membeli sendiri senjata yang dipakai. Masalahnya, jumlah orang semacam itu makin menurun, terutama karena tanahnya dijual istri sewaktu lakinya bertugas di medan tempur. Puncaknya adalah ketika Marius menjadi konsul (yang salah satu tugasnya adalah menjadi panglima perang) tapi tidak punya calon prajurit untuk dipimpin.

Kelalaian: para jenderal jadi tergoda untuk menggunakan para prajurit itu untuk meraih ambisi politik.

Salah satu poin reformasi Marius adalah uang dan tanah yang didapat waktu pensiun menjadi tanggung jawab pimpinan pasukan. Tanggung jawab para jendral itu untuk melobi senat agar bisa mendapatkan uang yang cukup dan tanah yang baik. Akibatnya, loyalitas tentara lebih pada jenderalnya, bukan kepada senat atau negara.

Bahkan pada masa hidup Marius, dampak buruk itu sudah tampak dengan mulai maraknya perang saudara yang dilancarkan oleh para jenderal yang tidak puas dengan berbagai keputusan senat. Marius sendiri sempat menjadi korban dari perang saudara.

Sejarah Roma selanjutnya tak pernah lepas dari perang saudara pada tiap generasinya.

2. Augustus Caesar

Sumbangsih: berhasil mempersatukan Roma di bawah kekaisaran dan paling tidak sejak ditumpasnya pemberontakan Marcus Antonius, tidak ada lagi yang berani bikin perang saudara selama beberapa generasi.

Sebelum Augustus menjadi kaisar, setiap generasi pasti terjadi perang saudara, mulai dari Marius, Sulla, Julius Caesar, Pompey, Marcus Antonius. Augustus berhasil menang dalam perang saudara terakhir, dan untuk menjaga kedamaian maka ia menjadi kaisar yang tidak harus dipilih tiap dua tahun seperti jabatan consul. Anehnya lagi, jabatan kaisar atau imperator sebenarnya lebih rendah dari consul. Tapi siapa berani menentang orang yang mengepalai prajurit seluruh negeri.

Kelalaian: tidak adanya aturan yang jelas mengenai suksesi menyebabkan Roma terancam perang saudara setiap pergantian kaisar.

Sebagai diktator, Augustus cukup licin. Ia tahu bahwa rakyat dan senat Roma membenci sistem kerajaan. Bahkan Julius Caesar dibunuh ramai-ramai karena ia dianggap mau naik tahta menjadi raja. Maka ia berpura-pura tidak mau jadi raja, tapi cuma menjadi imperator. Bahkan kursi consul juga dia tolak.

Tentu saja dengan siasat pedang di balik punggung semacam itu, senat Roma menjadi bingung. Akhirnya mereka menawari Augustus jabatan baru, yaitu Princep, atau warga negara utama, yang salah satu haknya adalah boleh ngomong apa saja di depan senat dan harus disimak oleh senat. Sedangkan posisi imperator lama-kelamaan menjadi sinonim dengan kekuasaan sesungguhnya. Dan karena Augustus hidup cukup lama, maka kedua jabatan itulah yang akhirnya diperebutkan oleh setiap orang ambisius sesudahnya.

Selanjutnya, sebagai diktator, Augustus tidak pernah mau membuat aturan suksesi, karena khawatir dimanfaatkan untuk secara legal menggulingkan dia sendiri. Maka sebagai gantinya ia membuat tradisi, yaitu menunjuk ahli waris. Namanya ahli waris, ya terserah yang mewariskan mau menunjuk siapa. Jadi aman.

Masalahnya kemudian timbul beberapa generasi sesudah Augustus, ketika kaisar masih terlalu muda atau mati ketika baru menjabat, dan tidak sempat menunjuk ahli waris. Bahkan Augustus juga sempat mendapat masalah dengan ahli waris yang umurnya kalah panjang dibanding dirinya.

Lebih buruk lagi, karena kedudukan ahli waris itu cuma tradisi, banyak jenderal ambisius yang menganggap boleh-boleh saja mendongkel seorang kaisar dengan cara merayu senat dan, yang paling penting, para prajurit yang dipimpinnya.

Sejarah Roma selanjutnya menunjukkan bahwa 90% lebih para kaisarnya mati terbunuh.
Halaman 1 dari 2
ni kerajaan paling banyak intriknya...
para pemimpin disana wajib belajar cara melakukan akting emoticon-Malu

salah satu tokoh pnting yg gw demen di jaman itu adalah cicero, sayang dia juga dibunuh emoticon-Berduka (S)
seingat gue, reformasinya marius justru membuat romawi makin kuat..

sebelumnya legiuner romawi direkrut dari para petani atau warga negara Romawi yang bebas (conscript/wajib militer) yang disebut plebeian, bukannya dari kaum bangsawan saja (patrician). Para petani itu wajib meninggalkan ladangnya untuk pergi bertempur apabila seorang jendral mau berperang. Kalau perang sudah selesai, legiuner tadi kembali lagi berladang.

Reformasi Marius membentuk suatu organisasi ketentaraan / legiuner profesional. Dalam artian setiap legiuner mendapat gaji tahunan, dan ada hirarki serta rantai komando yang lebih solid.
Seperti yang gw bilang, itu sisi baiknya.

Sisi buruknya adalah jatah pensiun tentara itu menjadi tanggung jawab jenderalnya masing-masing, akibatnya kesetiaan para prajurit bukan pada senat atau negara tetapi kepada jenderalnya masing-masing.

Akibatnya para jenderal jadi tergoda untuk menggunakan para prajurit itu di luar kepentingan melindungi Roma dari serangan musuh. Dan salah satu korbannya adalah Marius sendiri ketika Sulla membawa pasukannya ke Roma, satu hal yang tidak pernah terjadi dengan pasukan milisi.
ane kirain 2 orang yang ikut kontribusi menghancurkan roma itu ini gan emoticon-Stick Out Tongue
Spoiler for :



btw bener gak sih kalo bangsa galia itu pernah menyerang roma...
atau cuma sebatas cerita aja ?
maap nyubi soal romawi kuno emoticon-Embarrassment
Quote:


iya betul. Tambahin sekalian, zaman itu kalau seorang Jenderal Romawi membawa masuk legiun-nya ke dalam kota Roma, sudah dianggap melakukan tindakan makar oleh Senat.

Julius Caesar (jenderal saat itu) saat membawa legiunernya melintasi sungai Rubicon untuk masuk Roma, sadar betul konsekuensi membawa tentaranya masuk Roma. "Dadu sudah bergulir / alea jacta est". Kalau memang perang saudara tidak terelakkan, maka terjadilah.. emoticon-Smilie
@TS : Mengapa Roma dikatakan hancur karena Augustus Caesar? Ia memang meninggalkan hampir semua konvensi Republik, konsul direduksi menjadi hanya sekedar jabatan seremonial saja.

Roma diambang kehancuran, mereka yang punya cukup uang u/ membentuk tentara berperang satu sama lain. Adat pemerintahan ditinggalkan, Republik secara de-facto tidak mampu menyatukan dan memberi kedamaian warganya.

Ia berjasa memberi nafas baru bagi Roma. Kekaisaran Roma mempunyai umur yang hampir sama dengan Republik, dengan kata lain ia justru menyelamatkan Roma.

Btw, jangan dicampur adukkan gelar yang dipakainya, ketika anda menyebut dictator itu jabatan resmi yang diangkat oleh Senat selama waktu yang terbatas. Untuk era ini hindari kerancuan tersebut.
Quote:


OK, sorry, ini Roma, di mana dictator adalah jabatan legal dan resmi .. he he ... kita ganti jadi despot biar cocok.

Sebenarnya sistem republik sudah berjalan baik selama ratusan tahun sebelumnya. Cuma gara-gara Marius yang membuat para jenderal punya "tentara pribadi" itu maka selama lima puluhan tahun Roma terus-menerus dilanda perang saudara.

Nah, Augustus memang berhasil mempersatukan Roma, membentuk kekaisaran, meniadakan perang saudara, dll. dsb. Itu semua benar.

Tapi sejarah Roma sendiri menghantui kesuksesan Augustus. Bangsa Roma sangat amat membenci monarki. Sedemikian bencinya, tuduhan seseorang ingin menjadi raja adalah surat kematian buat orang itu.

Itu sebabnya Augustus berinovasi, antara lain dengan tetap memegang jabatan imperator, menghasut senat untuk membuatkan jabatan baru (warga negara utama), dan memperluas pengertian ahli waris (kini mencakup pula jabatan)

Inovasi itu berhasil mengamankan nyawa Augustus. Tapi sekaligus juga menanam benih-benih pertikaian di kemudian hari. Selain juga penyakit reformasi Marius yang sepertinya dibiarkan tidak diurus.
Quote:


gallia pernah dua kali ngepung roma kayaknya.
salah satu nya sampe masuk ke kota dan membakar roma (antara abad 4-5 sm).
CMIIW
Quote:


Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai pemberontakan bangsa Galia kali ya gan. Perang Romawi VS Suku2 Galia memang bener terjadi. Perang tersebut dikenal dengan nama Perang Alesia, Pada perang ntu Seluruh suku-suku galia bersatu di bawah komando Vercingetorix (ternyata orang galia namanya emang bener model begini) emoticon-Ngakak . Julius Cesar sendiri yang mimpin dalam perang ini, dan hasil sebenernya adalah Romawi berhasil menang dalam perang tersebut.
Quote:


Yang berhasil mengalahkan Roma adalah Brennus. Akhirnya Roma terpaksa membayar upeti supaya kotanya tidak dijarah. Waktu ada yang bilang upetinya terlalu banyak, Brennus membentak, "Vae Victis." "Rasain, dasar pecundang."
ngeri banget yah hidup gitu,, harus penuh trik dan intrik biar selamat
Kalo roma kayak gini ane pilih teuton sama galia aja deh emoticon-Frown
Quote:


kebanyakan maen Trv**n deh nih agan d atas emoticon-Matabelo
emoticon-Sundul Gan (S)
mantan kecanduan yg udah insaf gan
emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
ane kirain roma irama emoticon-Ngakak (S)
lho, knp kaisar agustus mlh dianggap sbg penyebab keruntuhan kerajaan romawi?? bkn nya si nero dan caligula dkk?? atau yg kaisar roma yg terkenal sk main sbg gladiator tuh....
julius cesar sang legend entah kenapa Endingnya kaya gitu yaaa??
julius cesar?
yg paling berpengaruh ma nero gan

rusaknya emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Quote:


Karena Nero, Caligula, Commodus, dan banyak kaisar Roma yang lain cuma memanfaatkan struktur dan mesin kekuasaan Roma yang dibuat oleh Marius dan Octavianus, baik kehebatannya maupun kelemahannya.

Tahukah agan bahwa hampir semua kaisar Roma mati dibunuh?

Nero, Caligula, dan Commodus tidak bisa dianggap bertanggungjawab terhadap kematian mereka, karena kegilaan mereka cuma pada waktu mereka menjadi kaisar. Tetapi kematian hampir seluruh kaisar Roma bisa ditelusuri sebab dan akibatnya dari keputusan Marius untuk membuat nasib prajurit bergantung pada jendralnya dan keputusan Octavianus untuk membuat garis suksesi yang tidak jelas.

Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di