alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Tech / ... / Programmer Forum /
Belajar Plc/dcs/scada Masuk Sini !!!
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000000871068/belajar-plc-dcs-scada-masuk-sini

Belajar Plc/dcs/scada Masuk Sini !!!

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 230
wah pada kemana neh... emoticon-Embarrassment


oia lagi pada di site... emoticon-Hammer
salmek sianggggg............. emoticon-Big Grin
Puagi,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
sepi2 aja neh kayaknya ...
Gabung yak om...... jangan dipalak dimari...emoticon-Blue Guy Bata (S)
Diubah oleh ciwa
tambahin contoh project dunks..

jgn teori aja ....

(praktek and teori )

maju terus......
infonya kurang..lage donk emoticon-Smilie
siang semuaa.. emoticon-Big Grin

@ Ciwa, thanks Ya bukunya.... emoticon-Big Grin lumayan buat bagi2 ke yang laen.
namun di OG jarang di pake simatic, dia banyak di dunia general industry.. emoticon-Big Grin

@Prinwibowo; mao kasus apa?? pencurian apa Korupsi?? hehhehe joke joke

@Mteach, info apalagi maonya, ntar dibantuin deh semoga ... emoticon-Big Grin
daftar dulu ya.... dan di bookmark dulu...besok mo tanya, keburu ngantuk.....
Lam buat smua....
Gua ikutan yak.......

emoticon-Bingungemoticon-Bingungemoticon-Bingung
Demen nih gw kek gini emoticon-Sundul Up
buat permulaan :
ooom, bedanya barrier ama isolator apaan y?
Practically yah jangan teori,
kerjanya pan d laut lepas emoticon-Big Grin
Nambah lagi,
jelasin modbus,profibus, sama modbus doms
kalo komunikasi digital kek rs-232 sm rs-485 masih kepake gak y d industri?
d industri lebih banyk make komnks dig ato komnks analog? alasannya apaan?

Dcs

DCS (Distributed Control System) merupakan sistem pengkontrolan yang terdiri dari:

1. I/O (Input/Output) analog/digital

2. Controller (system DCS)

3. HMI (Human Machine Interface)

Penempatan H/W dari DCS dapat tersebar diseluruh plant sehingga disebut sistem yang terdistribusi. Untuk open loop, sinyal (analog/digital) dari field akan diterima module I/O, kemudian sinyal tsb dikirim ke CP (Control Processor) untuk diproses. Hasil proses CP akan ditampilkan di HMI (biasanya berupa PC biasa) Untuk close loop, sinyal (analog/digital) dari field akan diterima module input, kemudian sinyal tsb dikirim ke CP (Control Processor) untuk diproses. CP akan memproses antara value sinyal dari field dengan value setpoint dari operator, hasil proses itu digunakan untuk memberikan nilai ke module output, lalu nilai tsb diolah oleh module output, hasilnya module output akan mengirim sinyal ke device di field (control valve, motor, pump, etc). Semua nilai PV(Process Value/input value), SP(SetPoint) dan MV(Manipulated Value/output value) akan ditampilkan di HMI. DCS juga mempunyai fasilitas trend, trend adalah fasilitas untuk menyimpan nilai yang lampau. Trend juga digunakan untuk tuning parameter PID (Proportional Integrated Derivative) sebuah controller.

Arsitektur DCS

Dimulai dari Single Loop Controller (electronics, analog) pada jaman dahulu, dimana HMI adalah Controller faceplate yang diletakkan di front plate dari control panel, orang mulai memikirkan untuk menggunakan teknologi computer pada system kontrol.

Dari sini muncullah sebuah multiple loop computerized/digital control system yang disebut sebagai Direct Digital Control (DDC). DDC mengandalkan sebuah computer sebagai main processor dan I/O (masih berupa computer card pada jaman itu) sebagai peripheral, sedangkan computer itu sendiri lengkap dengan perangkat lunaknya juga difungsikan sebagai Operator Workstation (OWS) - untuk operasi dan sekaligus juga sebagai Engineering Workstation (EWS) - untuk konfigurasi. Karena pada jaman itu teknologi digital dan computer belum maju, penggunaan computer untuk sebuah control system tidak begitu reliable sehingga perlu menambhakan redundancy (yang juga tidak reliable). Akibatnya kebanyakan orang tidak berani mempercayakan plant untuk dikontrol menggunakan DDC.

Karena kegagalan DDC, orang memikirkan untuk menggunakan processor (computer) kecil sebagai controller (hanya 8 loop per controller pada awalnya) dan untuk melayani banyak control loop digunakan beberapa controller (computer) kecil-kecil, sehingga pada awal tahun 1970-an muncullah satu system control terdistribusi (masing-masing processor melakukan untuk sejumlah control loop yang tidak terlampau banyak) dan dinamakan Distributed Control System atau DCS. Processor dan I/O dibuat modular dan dihubungkan melalui I/O-Bus; sedangkan processor dihubungkan melalui satu Control Network (umumnya proprietary). OWS dan EWS dilakukan pada Computer (umumnya menggunakan Unix platform pada saat itu) yang terkoneksi pada Control Network. Sampai saat ini DCS sendiri sudah berkembang dengan redundancy pada setiap level, penggunaaan WinNT (atau lebih baru) based OWS dan EWS, dsb.

Sesuai dengan disain awalnya, semakin distributed (berarti semakin sedikit jumlah control loop per controller/processor), semakin handal DCS tersebut (berarti apabila terjadi kegagalan sebuah controller, kita hanya mengalami semakin sedikit kegagalan control loop). Akan tetapi dengan membatasi jumlah loop per controller, biaya akan semakin mahal. Dengan kemajuan teknologi, orang bisa menambah jumlah control loop per controller dengan reliability dan performance yang memadai agar system lebih ekonomis. Seberapa jauh 'distribution level' (jumlah control loop per controller) yang bisa diterima, ini adalah hak para Pengguna (Users) yang mendikte ketentuannya.

Perlu kita cermati juga Control System dengan teknologi FOUNDATION Fieldbus(tm) dengan arsitektur FCS (Field Control System) / CIF (Control In the Field) yang secara tipikal mempunyai distribution level 32X lebih distributed dibandingkan DCS.

Teknologi Foundation Fieldbus

Technology Foundation Fieldbus (nama teknologi, disingkat FF) ini adalah satu dari sekian banyak Teknologi Fiedbus yang muncul di dunia. Dari sekian teknologi yang ada, pada saat ini Profibus http://www.profibus.com dan Fieldbus Foundation (nama organisasi) [url]http://www/fieldbus.org[/url] adalah dua teknologi yang mendominasi bidang ini di dunia. Teknologi Profibus yang diprakarsai oleh Siemens lebih banyak mendominasi di benua Eropa, sedangkan Teknologi Foundation Fieldbus (lihat bagian Sejarah di bawah) lebih banyak mendominasi di benua Amerika. Akan tetapi pada dua tahun terakhir ini tampaknya Teknologi Foundation Fieldbus semakin banyak diterima di seluruh penjuru dunia termasuk para pengguna di Eropa.

Perbedaan mencolok dari kedua teknologi ini adalah pada FF semua Function Block (PID, AI, DI, AO, DO, TOT, ARITH, dsb.) pada umumnya dilaksanakan pada Perangkat Lapangan (Field Devices), sedangkan Profibus lebih memfokuskan implementasinya pada digital communication yang pada umumnya Function Block dilaksanakan pada suatu Processor/Controller Module dari sistem.


Sejarah Lahirnya Teknologi FOUNDATION. Fieldbus Teknologi ini berawal dari dipergunakannya Mikroprosesor pada Smart/Intelligent Transmitter. Penggunaan mikroprosesor yang pada awalnya ditujukan untuk kemudahan kalibrasi dan kompensasi-kompensasi seperti terhadap suhu proses, ternyata kemampuan mikroprosesor sangat berlebih apabila hanya dipergunakan untuk keperluan tersebut. Para perancang mulai memikirkan untuk menggunakan kelebihan kemampuan itu untuk keperluan lainnya, yaitu untuk komunikasi secara digital sehingga Transmitter bisa dikonfigurasikan melalui Handheld Configurator, dan beberapa field database (range, spesifikasi material, tanggal kalibrasi terakhir, dsb.), sehingga lahirlah Smart/Intelligent Transmitter yang mempunyai transmisi sinyal digital.

Dengan diperkenalkannya transmisi sinyal digital, industri instrumentasi dan kontrol yang semuanya sudah menggunakan sinyal standard analog 4~20mA menjadi bergolak, ditambah lagi transmisi sinyal digital yang muncul bersifat proprietary dari masing-masing pabrikan, sehingga transmisi sinyal digital dari perangkat lapangan hanya bisa dipergunakan pada sistem dari pabrikan yang sama. Hal ini memperkuat keterikatan Pengguna terhadap Pabrikan, dan sangat mengurangi fleksibilitas untuk aplikasi yang memerlukan perangkat-perangkat dari berbagai pabrikan.

Teknologi Foundation Fieldbus (Lanjutan)

Hal ini memicu kebutuhan akan standardisasi transmisi sinyal digital, sehingga bermunculan beberapa organisasi yang berupaya menentukan sinyal transmisi yang standard. ISA (dahulu ‘Instrument Society of America’, sekarang ‘The Instrumentation, Systems and Automation Society’) http://www.isa.org/ pada pertengahan dekade 1980-an membentuk komite yang disebut ISA-SP50 yang bertugas untuk membuat standard transmisi sinyal digital. Para pabrikan berlomba-lomba agar standard yang dipakai adalah teknologi dari pabrikan tersebut; konon hal ini didasari lebih pada alasan komersial; alhasil ISA-SP50 menemui jalan buntu, boleh dikatakan gagal dan bubar pada awal dekade 1990-an.

Roda bisnis para pabrikan harus terus bergulir, sehingga mereka mulai menggabungkan diri pada beberapa organisasi, komite dan foundation yang masing-masing mencoba memproklamirkan bahwa teknologi-teknologi yang dikoordinirnya adalah standard de facto. Diantara sekian banyak organisasi, yang populasi pendukungnya banyak adalah HART (Highway Addressable Remote Transducer) Communication Foundation yang diprakarsai Rosemount diakhir 1980-an http://www.hartcomm.org/technical/history.html. Teknologi HART mempunyai banyak keunggulan, sayangnya kecepatan komunikasi digital-nya sangat terbatas (3~5 Variable per detik), sehingga untuk melaksanakan kontrol proses yang cepat seperti aplikasi flow merupakan hal yang mustahil. HART mengatasi hal ini dengan men-transmisikan sinyal process variable melalui sinyal analog (4~20mA), sedangkan untuk besaran lainnya yang non-time-critical menggunakan transmisi sinyal
digital yang di-superimpose diatas sinyal 4~20mA. Ada pula beberapa pabrikan yang mengimplementasi function block seperti PID Control, Totalizer, Characterizer, dsb. Untuk diproses di Transmitter itu sendiri, sehingga tidak memerlukan transmisi sinyal untuk besaran process variable.

Rupanya ide untuk mengimplementasi function block di perangkat lapangan menimbulkan ide baru bahwa sebenarnya perangkat lapangan bisa dipakai sebagai bagian atau komponen dari Sistem kendali itu sendiri. Hal ini memicu para ilmuwan untuk mengembangkan arsitektur Sistem Kendali baru yang akhirnya melahirkan arsitektur yang sekarang kita kenal dengan istilah FCS (Fieldbus Control System, atau ada yang menyebutnya sebagai Field Control System).

Pada arsitektur FCS, selain banyaknya komunikasi data, sistem ini juga memerlukan kemampuan linking dari component object satu dan lainnya serta networking yang lebih memadai. Beberapa ratus pihak Pabrikan, Pengguna, Engineering Contractor dan Akademis yang bergabung kedalam Fieldbus Foundation (lihat ttp://www.fieldbus.org/About/Join/MembershipList/#anchortop) dan terus mengembangkan teknologi FF ini. Dari keanggotaan Fieldbus Foundation tampak bahwa Pengguna (User) lebih banyak berperan dalam menentukan spesifikasi yang pada akhirnya membuahkan spesifikasi yang banyak menguntungkan pihak Pengguna, dibandingkan menguntungkan Pabrikan seperti yang dahulu sering terjadi.
Lihat 1 balasan
Diubah oleh ciwa
Halaman 3 dari 230


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di