CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Female / Wedding & Family /
Konsultasi hukum seputar pernikahan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000000987217/konsultasi-hukum-seputar-pernikahan

Konsultasi hukum seputar pernikahan

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 18
Mumpung TSnya masih online hehe.. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Kasus:
Suami A & Istri B, punya anak 1,5thn, tinggal di rmh ortu B.
B cemburu krn A terlalu ramah & supel thd wanita, krn gerah dicemburuin, A mengutarakan niatnya utk berpisah kpd mertuanya (notabene ortu B).. Diberi kesempatan utk berpikir ulang oleh ortu B & utk sementara waktu A "disarankan" keluar dari rumah mertua.
Setelah 6 bulan, tidak ada kabar sama sekali dari A, apakah akan meneruskan niatnya berpisah dgn B (bercerai) ataukah kembali melanjutkan rumah tangganya dgn B.. Atau bahkan hanya sekedar menengok anaknya..
Sementara, B sendiri sudah pasrah setelah 2-3 bulan pertama sering berinisiatif memperbaiki hubungan rumahtangga-nya dgn A..
Pihak keluarga B mulai merasa diremehkan dan disepelekan oleh sikap A..
Pertanyaan:
1. Apakah perkataan A kepada ortu B sudah merupakan talak?
2. Dan bila sudah merupakan talak, proses apa yg harus dilakukan kalo A ingin melanjutkan rumah tangganya dgn B?
3. Tindakan hukum apa yg bisa dilakukan oleh keluarga B terhadap A?
4. Ada rekomendasi lawyer yg bisa dihubungi? hehe.. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Thanks in advance bro..
Quote:


1. Itu bukan talak (pernyataan cerai) sejauh itu tidak dikatakan oleh suami kepada istrinya, begitu menurut hukum Islam. Karena si suami hanya mengutarakan niat kepada mertuanya, maka tidak ada talak di situ.
Karena itu, buat pria hati-hati saat bicara "KITA CERAI!" kepada istri. Karena menurut agama, itu sudah talak. Kalau mau bersatu lagi, harus nikah ulang (secara agama), baru hubungan menjadi halal kembali.

2. Menurut perjanjian nikah dalam agama Islam, seorang suami wajib untuk menafkahi istri/anaknya. Apabila dia lalai selama tiga bulan dan istri tidak ridho, maka istri berhak untuk menggugat cerai. Dalam kasus di atas, kan sudah 6 bulan meninggalkan anak/istri, tanpa kabar, tanpa nafkah lahir/batin. Maka istri berhak menggugat cerai si suami bila ia tidak ridho dengan perlakuan itu.

3. Tindakan hukumnya, apabila yang dimaksud ingin bercerai, adalah menggugat cerai si suami ke Pengadilan Agama.

4. Wah, gue gak paham soal lawyer yang bisa direkomendasikan. Tapi, ini kasus "biasa", dan gak perlu pake lawyer. Orang pakai lawyer biasanya bila dia sibuk, hingga tidak bisa menghadiri sidang, jadi diwakili oleh lawyer sebagai kuasa hukumnya. Bila si istri datang ke Pengadilan Agama tanpa lawyer pun, dia akan mendapatkan penjelasan tentang langkah-langkah yang harus diambilnya.
Quote:


Yg gw mksd bukan tindakan hukum utk bercerai bro, tapi krn keluarga merasa sakit hati & tersinggung dgn sikap A, kira2 ada gak tindakan hukum yg bisa dilakukan utk hal itu?
Waduh bro. Dalam Islam, kalau seorang wanita sudah menikah, maka dia adalah milik suaminya seluruhnya. Jadi, gak tepat kalau dihubung-hubungkan ke keluarga.
Dan gw juga yakin, gak ada langkah hukum yang bisa ditempuh sama keluarga si cewek bila memang persoalannya seperti yang elo ungkapin di atas.
Quote:


emoticon-Frownemoticon-Frownemoticon-Frown Waduh payah jg ya??
Thanks atas opininya bro..emoticon-Smilie
Permisi..

Numpang tanya..
Aku lagi bingung dari semalam...

Kalau suami selingkuh, terus intinya dia mau kembali sama keluarga, dan saya juga bersedia memaafkan, tetapi selingkuhannya menteror dengan berbagai macam cara (semua SMS2 dan MMSnya masih saya simpan), mulai dari mengirim SMS dengan kata2 kotor, menelpon ke rumah dan mengata2i anak saya yang kebetulan angkat tlp, pesan layanan sedot wc dengan memberi no tlp rumah saya (yang ini ga ada bukti otentik, cuma dugaan aja kalau dia pelakunya), mengirim MMS berupa foto2 suami saya dengan dia, mms video porno, mms suara2 yang sepertinya suara orang sedang berhubungan seks, dan terakhir mengancam akan bunuh diri kalau suami saya tidak datang menemui dia.

Pertanyaannya, apa kami, atau paling tidak, suami saya bisa dituntut kalau orang ini benar2 bunuh diri? atau kalau dia misalnya mencelakakan dirinya sendiri dan masuk rumah sakit?

Tolong kasih advis....

Saya bingung banget...
tanya tetang taklik nikah

di pernikahan muslim, ada yangnamanya taklik nikah/janji nikah yang diucapkan saat ijab kabul. si suami berjanji antara lain bila tidak menafkahi istri dalam kurun waktu + 3 bulan, maka ia memberi kuasa ke PA untuk menjatuhkan talak.

saat mengucapkan kuasa, ia mengatakan kuasa itu adalah irrevocable.

tapi berdasarkan BW, tiap kuasa bisa direvoke.

apakah taklik tadi bisa direvoke?
numpang monitor yah, gan.
btw, gw kog ga bisa kasih thanks ye emoticon-Confused:.... tombol thanks-nya ga ada.... aneh.
Quote:
konfirmasi dong:
waktu ane lahir dulu, bonyok blum ada catatan sipil, tapi ane dapet akte lahir (dengan catatan anak luar nikah). klo sekarang bener2 ga ada akte lahir gitu? kasian amat yah emoticon-Frown
tsnya mana ya?
nanya neeh..artinya mau nikah kuncinya di orangtua perempuan yaah??kalo orngtua setuju, tapi maju-mundur artinya sekarang bilang boleh, besoknya ntar dulu.., sedangkan anaknya kadung deket baget..boleh gak nikah duluan sama wali hakim?hukumnya gmana???
lupa mau nanya lagi...

nanya dunk, klo nikah tanpa di hadiri/disetujui keluarga, baik itu orang tua pihak lelaki dan wanita bisa gak yah?

tanya lagi, klo lelaki sudah beristri dan anak, trus menceraikan istri dan anaknya, apakah harus ada kewajiban membiayai istri dan anaknya yah? besarnya ditentukan bagaimana sih? berapa persen dari gaji suami?
^nikah di luar negri aja sis......
kan bisa tu kek di pelem2 yg lgs nikah di sana da pake keluarga...., ntar balik indo cuman lapor ama catatn sipil doank......

jd neh nikah ama selingkuhannya? heheheheh
lagi baca2 threadmu sebelah ne.....cuman no commen aja koq...^_^

keknya dia hrs menafkahi anaknya lho....istrinya si enga...hauehaheaeh (ah gue sok tau de...tunggu ts nya aja de) soalnya temenku gt si....anaknya doank yg di kasi duit
1. Itu bukan talak (pernyataan cerai) sejauh itu tidak dikatakan oleh suami kepada istrinya, begitu menurut hukum Islam. Karena si suami hanya mengutarakan niat kepada mertuanya, maka tidak ada talak di situ.
Karena itu, buat pria hati-hati saat bicara "KITA CERAI!" kepada istri. Karena menurut agama, itu sudah talak. Kalau mau bersatu lagi, harus nikah ulang (secara agama), baru hubungan menjadi halal kembali.


^ keknya hrs di revisi dhe.. kan bicara seperti itu jg 3 kali kalimat itu dalam keadaan sadar dan ga emosi baru di blng talak. emoticon-Big Grin maaf klo salah ... dan dalam masa iddah masi bs rujuk tanpa hrs nikah ulang tho? cm blng lafal aja mau rujuk.. itu si setahu aku dr artikel2 syariah online emoticon-Big Grin
Waduh! Kok jadi banyak gini. Hahhaha
Sori.. sori.. Abisnya kemarin-kemarin thread ini terlantar di belakang.
Oke.. sabar menunggu ya
Quote:



1. Melakukan percobaan bunuh diri pun merupakan pelanggaran hukum. Tapi selama ini memang tidak ada orang dihukum karena dia mencoba bunuh diri. Tapi mereka diberi treatment.

2. Tidak ada orang yang bisa dituntut karena membuat orang lain mencoba bunuh diri. Kecuali ada perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang membuat orang itu mencoba bunuh diri. Contoh: suamimu selalu mengancam/menakuti/menganiaya dia, sehingga dia putus asa, hingga mencoba bunuh diri. Nah, suamimu bakal dituntut karena mengancam/menakuti/menganiaya, bukan karena membuat dia mencoba bunuh diri.

3. Dengan dia meneror melalui mengirim foto-foto mesum, dan hal-hal lain yang membuat kamu tidak nyaman, sebenarnya itu perbuatan melawan hukum juga. Kalau kamu keberatan, kamu bisa melaporkannya ke polisi dengan tuntutan melakukan perbuatan tidak menyenangkan (pasal karetnya para artis, hahaha).
Quote:


Karena pernikahan, khususnya muslim, menggunakan hukum Islam, maka untuk hal yang di atas, BW tidak dipergunakan. Talak bila sudah jatuh, maka tak bisa ditarik. Yang ada hanyalah rujuk kembali. Begitu pula dengan janji nikah yang tidak bisa ditarik kembali. Karena setiap setelah ijab, janji nikah selalu dibaca.

Atau saya salah menangkap pertanyaannya?
Quote:


Terus terang, bagaimana dulu, saya kurang paham.
Tapi yang terjadi sekarang memang seperti itu, anak yang dilahirkan di luar pernikahan yang resmi dan tercatat, tidak akan mendapatkan akta lahir. Bagaimana mau dapat akta, wong orangtuanya saja tidak punya buku nikah.

Gw juga pernah denger, anak yang lahir tanpa bapak (si ibu hamil, tapi gak menikah), justru bisa dapat akta lahir dengan hanya mencantumkan nama ibu. Tapi gw belum pernah secara jelas memahami ini. Coba nanti gw belajar lagi.
Quote:


Kuncinya ya di pasangan itu sendiri, hehehe.
Persetujuan orangtua perempuan memang menjadi salah satu syarat dalam hukum Islam dalam pernikahan. Kalau mereka gak setuju, ya ada langkah2nya, udah gw jelasin dalam post sebelumnya.

Kalau orangtua maju mundur, pasangan ngebet menikah, silakan aja datang ke KUA, dengan asumsi si orangtua tidak setuju. Nanti pihak ortu akan dipanggil. Ini juga sudah gw jelasin dalam post sebelumnya.
Tidak bisa langsung datang duluan ke wali hakim dan minta dinikahkan. Karena wali hakim hanya boleh menikahkan kalau ada persetujuan dari KUA atau pengadilan agama.
Quote:


1. Udah gw jelasin soal itu di post sebelumnya tentang persetujuan orangtua si wanita.

2. Laki-laki bercerai yang sudah punya anak, wajib menafkahi anaknya dalam kebutuhan sehari-hari dan pendidikannya, sampai usia pengampuan si anak selesai menurut UU Pernikahan, yakni 18 tahun. Soal besarannya relatif, tergantung dari pertimbangan hakim. Tapi biasanya tidak pernah kurang dari setengah pendapatan si ayah.

3. Soal menafkahi anak ini jarang sekali menjadi polemik di pengadilan. Jangan sampai hakim mendengar si ayah tidak mau menafkahi atau menawar-nawar jumlah nafkah kepada anaknya. Sama saja itu berlaku tidak pantas. Masa anak sendiri tidak mau dinafkahi? Bisa-bisa jumlah penafkahannya malah dinaikkan sama hakim.
Halaman 2 dari 18


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di