“Ma, bisa anterin Ija ke depan sebentar?” tanya gue ke Mama yang sedang berjemur di depan rumah bersama Dian. Gue masih belum memberi tahu Mama tentang kondisi kaki gue. “Ke depan mana?” tanya Mama tanpa menengok ke arah gue dan tetap fokus pada Dian. “Loh, Kak? Kaki lo kenapa itu?” t...
(EMI CHAT) Hanya itu jawaban Emi ketika gue mengajaknya bertemu. Gue tidak pernah meng-underestimate dia kalo dia bilang begitu. Gue memang lebih dahulu kerja dibandingkan dia, tapi bukan berarti dia tidak bisa sesibuk gue. Dia sangat mungkin untuk lebih sibuk dari gue. Toh dia bukan freelancer...
Perasaan yang ikutan miss2an ini pemenangnya banyakan latin2 ga sih? Mantep bener yak emang disana pendidikan dan segala macemnya? Kalo emang iya, nanti mahasiswa2 berprestasi cari beasiswa kuliahnya lanjut kesana aja jangan ke eropa, ya kan logikanya? Hehe
Bah si agasi di close? Kenapa ya? Padahal kayanya ga banyak stensilannya dia..awalnya masalahnya kenapa bro?
Diani masih terus saja menghubungi gue. Terutama di jam kerja. Kadang dia mencoba menarik perhatian gue dengan menanyakan perihal pekerjaan, kadang dia hanya sekedar menanyakan kabar gue. Sesekali gue menanggapi dia. Tetapi ketika bahasan dia mulai masuk ke ranah perasaan, gue kembali tidak menan...
wengerbest sama2 bro, maaf lahir batin juga. itu sebenernya jadi bensin gue untuk update juga. walaupun ya sebenernya cerita ini udah selese di tulis. tapi kan mesti di rapiin tampilannya biar enak dibaca..hehe..
Gue sudah berdiri di depan pintu kamar Emi. Gue tidak bisa terus menerus membuang waktu gue hanya untuk pertengkaran yang sangat kekanakan ini. Gue harus terus bergerak. Kalo Emi memilih untuk diam, biar gue yang bergerak duluan. Sebelum ada masalah lain, di luar dugaan gue. Well, gue berharap tida