Jokowi harus kembali mengumumkan, ada 2 orang yang positif Covid19, baru semua bisa panik dan memborong masker. Mal2 langsung sepi. Atau Anies saja deh yang mengumumkan.
Ketika baru 2 orang positif Corona, semua panik, masker ludes, borong mi instan, borong bumbu dapur yang katanya bisa mengusir virus tapi ternyata ga bisa. Cuma masker yang bisa. Sekarang 248.852, alias 124.426 kali lebih banyak (atau ada peningkatan 12.442.500%) dari saat pengumuman kasus pertama,
makanya Anies ngotot PSPB lagi, karena sudah masuk jajaran pemerintahan yang berkali2 ketemu banyak orang. Artinya sudah banyak yang tertular dalam waktu 14 hari - 21 hari kebelakang.
Makanya saya bilang berkali2, ga usah takut sama yang fiksi. Seperti hantu, setan, pocong, kunti, gendruwo, naga, drakula, valak, sadako, zombie. Takutlah pada yang nyata seperti singa, ular, kecoak, SARS-CoV-2, dan Ahok.
hush malaikat itu ga ada, begitu juga setan hantu pocong gendruwo valak drakula sadako cuma ada dalam mimpi. Tapi virus SARS-CoV-2 jelas2 ada. Takut itu sama yang nyata, bukan yang fiksi.
mau mengimplementasikan lelang jabatan seperti di jakarta ya, jadi yang menjabat bukan lagi atas dasar pesanan dan suka atau tidak suka. Tapi karena prestasi, yang menilai adalah bawahannya. Bukan atasan yang menilai bawahan seperti yang biasa terjadi selama ini.
Cukup jangan dengan sengaja, menempelkan mata hidung mulut ke lantai. Lalu tangan yang habis pegang lantai, mengusap mata hidung mulut. Itu saja sudah sangat2 membantu, apalagi kalau 5 hari sekali, eh sekali 5 hari, eh... apa ya...
kalau ternyata mengandung babi, maka vaksin akan diberikan ke yang mau saja. Dan kekebalan terbentuk pada yang mau saja. Sedangkan yang ga mau, akan punah atau berkurang banyak.
yang dikriminalisasi adalah pelaku penusukan. Maka pelaku penusukan adalah ulama. Sedangkan yang ditusuk bukan. Gitu ya kan?
Kalau semua berdamai, maka kiriman uang dari Indonesia akan semakin berkurang di Palestina. Eh sumbangan kalian nyampe 100% ke sana ga sih? atau 100% ga sampe...
virus airborne itu cuma jarak dekat, ga bisa melayang2 di udara dari rumah satu ke rumah lain. Kecuali jarak antar jendela dengan rumah lain cukup dekat. Atau pakai kipas. Lagipula di rumah sendiri masa terima tamu dalam kondisi pandemi gini.
Dulu waktu Wuhan lockdown total, dan dijuluki kota zombie, kita malah menertawakannya. Dan bilang kena karma harus dikarantina karena mengarantina Uighur, yang faktanya sudah berkali2 dibantah oleh tulisan Dahlan Iskan di blognya. Makanya sekarang banyak yang alergi kalau Jakarta bernasib sama. Ki
jujur saja meskipun saya pendukung Jokowi, tapi saya ga suka tulisannya Denny Siregar. Juga menyayangkan Jakarta tidak lockdown lokal.
Dalam hal ini, Anies benar waktu mau melockdown Jakarta. Jokowi terlalu kuatir ada perlawanan sih, waktu itu. Juga menteri kesehatan dan perhubungan yang kurang kapabel dengan meremehkan virus yang bisa sembuh sendiri. Tapi untuk lockdown total sudah telat. Sudah banyak orang yang mati sia2 karen...
Sementara itu, kalau 11 Maret 2020 Jokowi mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR), ketika ada 1 kematian, dengan lockdown lokal Jakarta. Lalu lockdown lokal Gowa. Juga Surabaya begitu ada 1 kematian di daerah, maka sekarang total kasus tidak sampai 100.000. Memang akan terus naik beg
lockdown hanya bisa jika kasusnya masih kecil. Dan itu sudah TELAT. Ya sudah hadapi kenyataan tereliminasi, eh kena seleksi alam. Eh bukan ya. Yang benar herd immunity. Sama saja sih sebenernya. Lain kali kalau ada pandemi baru, misalnya SARS-CoV-3 kira-kira 15 tahun lagi, maka dunia sudah siap. D
Tentaranya bergerak liar ke sana ke mari, bahkan yang rajin begituan pun malah banyak yang kena, apalagi yang merasa kebal. Begitu ada perintah PSBB, malah menantang maut dengan kumpul2 merapatkan barisan tiap hari pada saat bulan itu. Sekarang mana mempan. Karena yang belum kena virus saat ini, o
jangan lupa, kalau hari ini adalah puncak Covid19 di Indonesia, maka total kasus adalah 400.000 (dari 200.000x2), dengan kematian 16.000. Selalu mengikuti kurva distribusi normal. Sementara itu puncaknya masih belum kelihatan. Jika puncaknya adalah 31 Desember 2020, maka kalikan 2 dari total kasu...