Terima kasih teman-teman sudah bersedia membaca cerita From Cethe Town sejauh ini. Demikian perjuangan saya dalam meraih kampus impian. Meskipun saya gagal, saya tidak menyesal karena itu adalah pengalaman berharga dan sebuah cerita nostalgia. Saat ini saya bersyukur dengan kehidupan yang saya ja...
Bab 18: Detik Penentuan 28 Juni 2016, Pukul 14.00 WIB Smartphone-ku berdering pelan, ada sebuah pesan singkat dari Tiara. Tiara: Hasilnya gimana Megg? Meggy: Hmmmm, belum keluar Ra? Masih loading ini. Detik ini tubuhku panas dingin. Jantungku berdegup sangat kencang. Tuhan, apakah ak
Bab 17: Masa - Masa Penantian Pada bulan suci ini, aku menjalani rutinitasku seperti hewan nokturnal. Di waktu pagi hingga sore, aku menghabiskan hariku dengan tidur, mengikuti sabda Rasul yang menjelaskan bahwa tidur dibulan puasa itu adalah ibadah. Ketika malam hari aku menghabiskan waktuku
Bab 16: You’re Beautiful 14 Juni 2016 Hari ini aku akan melaksanakan ujian untuk yang ketiga kalinya. Ujian memasuki perguruan tinggi yang berbasis keislaman. Alasanku mengikuti ujian ini sederhana, sebagai alternatif jika tesku sebelumsebelumnya gagal. Meskipun aku tak berharap akan gagal nan...
Bab 15: Laporan Perjalanan Semua kembali seperti sedia kala. Kebiasaan burukku masih tetap melekat kuat dalam diriku. Bangun kesiangan. Alarm dari smartphone pun tak mampu membangkitkanku dari gravitasi kasur terkutuk. Hanya teriakan ibukulah yang berkhasiat ampuh membangunkanku. Cumiik keras di
Biar nendang, ini ada lagunya Adele gan. Bisa didengarkan. https://www.youtube.com/watch?v=hLQl3WQQoQ0
Kenangan Tentang Dinda part 2 Sejak kejadian itu, aku mulai menghindari Dinda. Awalnya dia bingung dengan sikapku ini. Tak sepatah kata pun kusampaikan kepada dia bahwa aku ingin pergi dari dia. Pergi untuk menenangkan diri. Kata cinta itu masih tersendat, belum mampu terucap. Sulit sekali meneri
Bab 14: Kenangan tentang Dinda Part 1 Ini adalah sebuah cerita dari masa lalu, cerita menyakitkan dari seorang yang baru patah hati. Konon, sebuah cerita cinta tak selalu berakhir indah. Akan ada yang menangis, akan ada yang terluka. Itu pasti. Tragisnya, aku yang berperan sebagai orang yang t
Nah itu gan, meskipun gak sedramatis film itu, cerita ane ini hampir mirip. Ane tahu dia suka sama ane, tapi ane terlambat menyadarinya.
Selamat sore gan, nah sebelum ane update lagi kali ini ane pengen share sebuah lagu yang bermakna dalam perjalanan hidup ane. Next cerita akan membahas permasalahan asmara ane dengan seorang perempuan yang sempat membuat hidup ane berantakan. Waktu itu dia balik lagi ke kehidupan gue dan mencoba ...
Bab 13: Pulang Hari mulai sore. Aku dan Ipung berjalan cepat menyusuri sisi jalan. Melihat angkot yang berseliweran didepan kami berdua. Ditengah perjalanan kami berdua, salah satu angkot berwarna oranye berhenti disebelah kanan kita. Sopir itu menatap kami berdua, berharap kami naik ke angkot t
Bab 12: Tekad yang Mengambang part 2 Waktu masih menunjukkan pukul 07.30 WIB. Dua porsi nasi pecel dan teh hangat tadi telah kubayarkan. Matahari bergerak beberapa inchi keatas, teriknya lebih menyengat dari beberapa saat lalu. “Sekarang gimana?” Ipung bertanya kepadaku tentang apa yang akan ...
Bab 12: Tekad yang Mengambang part 1 Malam-malam yang menakutkan itu pun berlalu. Fajar mulai menyingsing, suara toa masjid terdengar sayup-sayup ditelingaku. Lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari kaset rekaman terdengar begitu merdu. Waktu hampir memasuki waktu Subuh. Aku membuka mataku pel
Bab 11: Malam Mencekam di Surabaya part 2 Sepanjang perjalanan ke Surabaya, Ipung tidur dalam waktu yang terbilang cukup lama. Kali ini matanya benar-benar terjaga. Kutata tas abuabu yang dari tadi kugendong sepanjang jalan, lalu kubuat sedecumian rapi agar bisa digunakan sebagai bantal untuk tidur
Chapter 11.1 Malam Mencekam di Surabaya Kami berdua masih menyusuri jalanan kota Surabaya. Senja mulai tampak dilangit-langit, pertanda matahari untuk beberapa menit kemudian akan tenggelam sempurna di kaki cakrawala. Semburat merah dilangit melengkapi nuansa sore itu. Dari lokasi tes tadi, kami