Didaerah gue, warnet2 juga mulai di periksa sama polisi, masih banyak gamer yang ngumpul2 di warnet tapi ogah dibubarin. Alhasil, warnet nya dipaksa tutup sama polisi. Harusnya emang gitu, dikerasin. Tapi antara sipil (bupati) sama polisi, mesti sinkron lah. Jangan yang satu bilang A tapi yang sat
Di Afrika, pendeta modal pinter ngomong aja tanpa perlu ikut pendidikan agama, bisa ngumpulin massa buat diperes duit + dijadiin kelinci percobaan kayak diberita ini. Maklum, masyarakatnya rata2 masih berpendidikan rendah.
Rata2 agama samawi (terutama kristen dan islam) masih laku di negara2 yang rata2 tingkat pendidikannya rendah. Orang2 Eropa banyakan udah tinggalin agama samawi atau cuma sekedar identitas di KTP doang.
Bilang aja ke bupati nya, toh yang ngomong kagak ngelarang ngumpul2 ceng beng itu bupati nya kok, bukan perwakilan masyarakat keturunan tionghoa.
Apanya yang mau diharepin dari praktek kayak gitu? Kinerja yang wow? Nikmatin aja pilihan rakyat sono. :ngakak
Kalau cair, dijamin warganya 99% bakalan ada didalam rumah. Mereka2 yang masih keliaran di luar kan karena mesti kerja buat dapur ngepul.
Apanya yang aneh? Toh nazi jerman itu merupakan hal yang buruk dimata warga jerman sekarang, kecuali sama kelompok neo nazi yang minoritas disana.
Nggak bisa, bupati sono udah bersabda : "Kita bukan larang mereka, tapi harus diatur jarak amannya misalkan tidak berkerumun. Persiapkan antisipasi supaya kalau terjadi sesuatu kita sudah siap," katanya.
Yang kristen atau muslim, emang dilarang sembahyang didepan makam leluhur kok, dianggapnya menyembah leluhur.
"Kita bukan larang mereka, tapi harus diatur jarak amannya misalkan tidak berkerumun. Persiapkan antisipasi supaya kalau terjadi sesuatu kita sudah siap," katanya. Fix kagak dibatalin :ngakak
Lebih takut gak ibadah dan masuk neraka daripada kena corona yang katanya bisa sembuh asal percaya makhluk khayalan :ngakak