Bercinta itu tidak seperti mengenakan sepatu. Kenakan sepasang untuk sekian waktu. Bila sudah usang atau memiliki sepasang lagi yang baru, tinggalkan yang lama.
Apakah semua harus selalu dijelaskan? Apakah semua tidak bisa berjalan hanya dengan dipahami dengan cara masing-masing saja?
Kamu ini anak perempuan yang bermasalah. Aku nggak akan pernah sudi menikah denganmu. Aku juga anak laki-laki yang bermasalah. Bahkan, lebih parah darimu, aku membunuh orang.
Setiap manusia, punya jatah untuk melakukan banyak-banyak salah sewaktu masih muda, mengambil banyak-banyak keputusan keliru, dan banyak hal buruk lainnya.
Separuh aku yang vokalis. Glamor hanya di permukaan. Hening hingga menyentuh kalbu paling dalam saat sendirian.
Perihal hidup di dunia ini kan sebenarnya hanya dua: sedih dan bahagia. Juga tentang cinta. Jadi ya, harus bersabar.
Katamu kamu sedang tidak ingin menjalin relasi serius. Itu tidak berarti apa-apa!. Itu berarti sesuatu; kamu telah kehilangan spirit.
Cinta itu memang fitrah, tetapi jika bukan pada tempat dan saat yang tepat, ia harus rela menunggu hingga waktu itu tiba.
Begitu gampang melepas kemudahan yang diberikan oleh Tuhan, sementara ada banyak orang lain di luar sana yang berharap ada di posisi kalian.
Apa pun pilihanmu, jika kau yakin benar-benar mencintai dan mau hidup di dalamnya, maka jadikanlah pegangan yang kuat.
Orang tidak waras malah dikunjungi dan didengarkan perkataannya. Kalau sudah demikian, lalu siapa yang sebenarnya gila?