Sebelum pikirin profit dan membayangkan agan kaya raya kyk orang lain yg pamer di sosmed, tanya dulu ke diri sendiri, brp uang yang bisa saya sisihkan dan tidak apa2 kalau rugi 99%
tinggal dengan orang tua/mertua cenderung lebih hemat karena ada ada yang masak, bantu beresin rumah, jaga anak, jadi suami istri bisa kerja tanpa perlu pengeluaran lebih untuk babysitter, peralatan rumah tangga 'praktis' zaman now, dsb. Kyk ane berasa banget pengeluaran sejak pindah tinggal send...
di sini emang gt. pas ada maunya aja bilang nasionalisme. atlit, pengusaha, ilmuwan, pas ada maunya bikin pencitraan seolah memihak. setelah lewat, dilupakan bahkan kadang didiskreditkan contoh paling transparant belakangan ini, keturunan pas pemilihan, didiskreditkan dalam segala bidang. setelah
Tamat sudah karirnya. Yg kyk gt biasanya level "simpatisan", jd bakal dibuang, ga peduli "jasa"nya. Ya miriplah dgn bang 30rb. Bedanya, ini orang kepala keluarga, ane kasihan dgn anak dan istrinya. Mungkin cukup disadarkan aja.
bukan pentingin etika gan, tapi citra. beliau jg seorang ahli strategi. menurut ane, dia salah langkah karena underestimate 'dendam' bu mega. setelah gagal mendekat ke jokowi, dia terpaksa mengeluarkan kartunya, AHY karena tanpa jadi bagian dari kekuasaan, karir anaknya akan susah di sana. menuru
tunggu, "Anda menegakkan kebatilan dan keadilan melawan kezaliman" kebatilan itu lawannya kebaikan kan?
benar. face recognition itu juga kan cuma bisa mengenal wajah yg sudah ada di database. Dan ane ga yakin semua wajah penduduk itu terdafar karena selain alasan storage, pencarian wajah jg akan memakan waktu yg lama. nah sekarang pelaku pengeroyokan itu bisa dikenal melalui face recognition berart
K: eh bro, minta 20rb untuk cukur rambut donk X: ok nih K: eh bro, minta 20rb untuk buka puasa donk Y: eh ya, K: eh bro, minta 20rb untuk buka puasa donk Z: errrr ya X, Y, Z "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan" K: tangkap saya pak, saya lapar
kalaupun benar ada teror, belum tentu dari penguasa juga. sangat mungkin ada pihak ke-3 yg memancing di air keruh.
wah, ga bisa begitu gan. semisal Indonesia diinvasi china gegara natuna atau oleh australia pakai alasan kemanusiaan di papua, trs kita tersedak, apa agan mau bilang "dah, nyerah aja, kasih natuna demi rakyat indonesia" mau apapun alasannya, invasi itu salah. kalau ini dibenarkan, siap2
secara konteks, memang apa yg dikatakan itu sesuai realita kan. agan jg ga salah, tapi dalam konteks berbeda. menurut ane, akar masalahnya adalah umat islam cenderung over dosis menjaga image. Kalau ada aib, ditutupi, kalau ga bisa ditutup, cari pembenaran, kalau ga bisa cari pembenaran, cari kamb
11 12 dgn yg bilang wanita bisa hamil di kolam renang Sekarang saya tanya, kalau negara ini, setiap orang apalagi di masa pandemi ini sibuk menghabiskan waktunya untuk mengkonsumsi pornografi, apakah setuju" ane jg bisa bilang: setiap orang apalagi di masa pandemi ini sibuk menghabiskan wakt
harusnya review ya review aja, kalau ga suka, jgn ngajak2, apalagi ini produk konsumsi, jadi sifatnya subjektif.