ya begini ini yg bikin ane hengkang dari dunia permusikan, dan terjun ke dunia kerja yang sebernarnya, karena ane ga terima kalo ada yg nyanyiin lagu ane, kalo mau dengerin lagu yaa dari penyanyi aslinya, bukan cover
ga masalah sih, tergantung dari sisi mana kita liatnya, kalo kita emang julid, yaa julid aja, dibilang pamer flexing, tapi kalo.."eh bagus, beli dimana?" makan akan jadi positif
maskapai apa sih sampe segitu harganya? Kita ini kan negara Indonesia, negara hukum, bukan negara agama, bikin peraturan berhijab untuk pramugari berarti semua maskapai juga harus, termasuk maskapai yg masuk dari negara lain, gimana?
jadi tol.jakarta semarang one way, tp tol di perkotaannya masih two way, yaaa kalee jadi mengerucut di tiap kota, itu belum di rest areanya, asli sumpek, bis, mobil, tumpah disitu semua
sebenernya tesnya itu untuk mengetes sejauh mana tuna rungunya, ane pernah lihat tes ini, jadi sebenarnya ga ada yg merendahkan, tp memang sebaiknya diberi arahan dulu sebelum dites, jd tidak ada kesan yg merendahkan
ini tu gimana? jaga cucu sama cuci2 minta bayaran? anak menantunya menganggapnya apa? pembantu? durhaka sekali merekrut mertua/ortu jadi pembantu
yang begini ini profesinya apa? job descnya apa? pekerja seni membuat karya, karya parodi harus seizin pemilik karya originalnya, bahkan difabelpun harus ber izin (jika memang pekrjaanya memparodikan)
kalo ane sih apapun keributannya, sebesar apapun cekcoknya, masih bisa bertahan dan mencari celah untuk memperbaiki, jika sekali selingkuh saja its ok, tapi jika sudah yang kedua kali, keputusan ane ya pisah saja, tapi jika kesalahannya diluar selingkuh, bertahan dan berdoa, lalu berusaha jika itu
ane ndak ikut survey tuh, brati ndak termasuk yang 32,8% dan juga yang lain "Survei LSI ini digelar pada 7-15 April 2022 dengan melibatkan 1500 responden di 34 provinsi di Indonesia yang diwawancarai melalui telepon." analisisnya: 1500/34 = -+ 44 responden tiap provinsi (ini kalau sama
fatwa nya ane setuju, tapi gak perlu fatwa sebenarnya, dilihat pake mata nyata2 menganggu ketertiban umum, karena lokasinya di fasilitas umum yang digunakan banyak orang baca Al Qur'an di tempat umum bagus, jadi mengingatkan yang melihat, dan kadang ane suka dengerin juga, tapi jika dilakukan secar
gak hanya bukber sih, cuma kebetulan aja kadang bukber itu mempertemukan teman atau sahabat yang lama tak jumpa, dan saat itulah momen penting untuk memperlihatkan bahwa selama tidak bertemu bukanlah menganggur, ada yang dikerjakan dan berhasil, ketika berhasil pasti ada yang memuji, disitulah saat
mohon maaf nih, samalah kayak tanah/perumahan/wilayah di Indonesia ini yang udah banyak tionghoa nya lalu mereka klaim merekalah yang berhak atas tanah/perumahan/wilayah tersebut karena alasannya sudah disitu sampai 12 keturunan natunan juga gitu, alasannya karena historisnya yang membuat mereka be