tiada lagi secangkir kopi untuk dibagi kepada setan dan iblis jiwa terjual demi segelas teh dengan atau tanpa gula
perintahkan aku untuk mengali gunung perintahkan aku untuk mengeringkan laut perintahkan aku untuk mengejar matahari kalimatmu adalah perintah untuk aku lakukan dan aku adalah hamba mu yang mengejar segelas teh melalui ampas dari segelas kopi
seiring kepakan sayap laron dimalam mendung terhipnotis gerak lampu neon mendekati dan terbang berombongan berpegangan tangan dengan sepenuh hati mencium kehidupan bermisteri tawaran untuk kematian begitu menarik untuk meninggalkan kepenatan duduk sesaat bersama dewa kematian bersama tawanan wakt...
salam iblis dan setan untuk para pemuja dengan kembang melati dan mawar menjadi penghantar nyanyian dewa maut kapak dua sisi menjadi pengkait dunia mati dan hidup antara segelas kopi dan teh jin tersenyum melihat pesta kematian diatas kuburan perawan belia teman-teman menanggis lirih melihat pest...
menumpahkan kemarahan diluka lama tawaran iblis pelekat kematian malaikat kini tertawa sambil bermain kartu tarot melemparkan kedalam permainan kehidupan dilembaran kusam manusia kopi atau teh menjadi pemenang perjudian
semalam iblis mengundang kepernikahan ku beri bingkisan segudang dosa buat pengantin yang duduk dipelaminan sebagai hiburan disajikan tarian syahwat semua undangan menari dengan gembira namun disatu sudut itu iblis perempuan berdiri sendiri membaca ayat ayat setan dengan meminum segelas kopi basi...
dibalik dinding tipis berlapis tripleks bekas doa-doa disebarkan semburat ungu matahari seuntai kata pujian terucap meminta janji pemilik jiwa tertunaikan melewati lorong waktu oleh perawan tumpahan air dari segelas kopi tertimpa dalam wadah teh kosong nyanyian burung gereja terdengar seperti era...
sang waktu lagi berbaik hati membawa sebentuk jiwa suci untuk digenggam oleh penari zaman yang berpakaian hitam bagai segelas kopi dengan rambut wangi bagai segelas teh melati rindu ku hanya untuk mu
ku bakar kitab suci dengan api kerendahan didalam tubuh pramuria belia tetes keringat membasahi kulit pualam di ranjang mengeliat ditengah malam belajar mengenal cinta ditengah lumpur bermandikan ampas dari segelas kopi yang kehilangan makna diri dikarenakan segelas teh melati
kemarahan terasa menyesak dileher menyekat dinding kesadaran tiada suara keluar hanya kemarahan memenuhi dada tidak akan cukup segelas teh mengobati kesedihan apalagi segelas kopi debu-debu kebencian bertabur
menanggislah diriku untuk harapan doa didalam ruang gelap bersama setiap tetes kopi disayap kupu-kupu yang jatuh didalam segelas teh
rel tua membawa kereta malam menuju pembuangan duduk diam terpaku dijari kuku hitam diatas papan lelah menatap kaca buram memantulkan wajah sinis dengan rantai terikat dileher mendengarkan seruling dewa maut menggarak parade badut tuli bergerak lambat tarikan napas semakin rendah mata terpejam me...
rumpun ilalang bersedih meneriakan kehilangan semangkuk air mata menyiram kekeringan riak ombak bernyanyi bersama lintah tergambar didalam gelas kopi sekarang dia menjadi segelas teh halimun menutup gunung cerita pun berakhir
mimpi segelas teh duduk dilaut meniup sangsakala mematikan segala derita bermain dengan anak-anak waktu lidah pahit oleh segelas kopi harapan ditebar tangan lemah melalui bintang, bulan, dan matahari merinduimu sampai lelah
damai atas mu para kekasih yang bercinta melalui kata isap bersih ampas dari segelas kopi menyusun syair tentang udara angin laut dan batu sungguh rindu ini membelengu
bagaimana hati mencari jika hati tidak berdetak bagaimana burung hendak terbang jika sayap hanya sebelah sungai sudah mengering tidak akan ada lagi segelas kopi terhidang hanya cukup membuat segelas teh segaris tanda kehidupan menghilang merinduimu
semburat kuning kunang-kunang membentuk garis kuning dilayar malam mengiringi jangkrik bernyanyi semalam mata dara pagi ku mengerling manja dipelukan mengusir selimut kabut tidak ada segelas kopi dan teh senyum dibibir terukir
hujan turun membasahi bahu seorang laki-laki bulan menanggis dimalam kamis haru dihati segelas teh bersama segelas kopi bait luka tertutup gamis hitam