Keheranan langsung melintas di otak gue, jika itu adalah gempa kenapa hanya alat Angga yang bergoyang? Dan kalau itu manusia, manusia mana yang sanggup menggoyangkan alat seberat 29 ton itu? Belum berhenti goyangan itu tiba-tiba terdengar suara tawa yang cukup membuat bulu kuduk merinding. Seketika
Gue duduk bergabung bersama mereka di dozer Angga, senyap menemani kami yang sedang menikmati pikiran masing-masing sambil menghisap rokok. Setelah satu batang rokok habis gue membuka percakapan dengan pertanyaan yang gue tujukan kepada Adi. "Lu tadi kenapa Di? Tiba-tiba masuk cabin kaya orang
Malampun menjelang, usai makan dan shalat magrib kami duduk bercengkrama melepas lelah usai membengkel dan mispot serta membersihkan alat, ya gue emang terbiasa bersih jadi meski lelah membersihkan alat yang menjadi tempat tidur kami adalah hal yang wajib dilakukan. "Bang bagi rokoknya ya&qu...