ujangerimis Kasplus dibatesin jg, kayaknya 15 menit lebih jg.. Bingung ama Kaskus arahnya mau gimana. Klo mau tutup ya tutup aja sekalian ya, jangan ngambang kyk gini
Matahari petang melabuhkan diri di ufuk barat, menumpahkan cahaya jingga keemasan yang melukis awan-awan menjadi kapal-kapal api yang berlayar di langit yang berangsur pudar.
Tetes pertama akhirnya jatuh, mendinginkan aspal yang panas sepanjang hari dan mengirimkan pesan gemerisik lembut melalui atap-atap rumah yang telah lama menanti.
Langit kini berubah menjadi lembayung kelam, menutup hari dengan selimut tebal yang dihiasi oleh kilat-kilat diam yang sesekali menyala di kejauhan.
Lampu-lampu di rumah mulai menyala satu per satu, memancarkan titik-titik kuning yang hangat, seperti bintang darat yang bersiap menemani malam yang gelap gulita.
Angin sore berhembus lebih kencang, membawa aroma petir yang jauh dan suara gemerisik daun-daun kering yang bergerak seperti bisikan tentang hujan yang akan datang.
Sinar keemasan yang tersisa menyelinap dari celah awan, melukis pucuk-pucuk pohon dengan garis tipis cahaya sebelum akhirnya larut dalam bayangan.
Langit sore diliputi warna kelabu kebiruan, seolah kanvas raksasa yang dilukis dengan sapuan awan berat, menahan cahaya matahari yang tersisa di balik selimutnya.
Danau itu membalasnya dengan riak-riak perlahan, memeluk setiap helai ranting dengan dinginnya air malam yang penuh cerita masa lalu.
Pohon willow tua itu membungkuk di tepi danau, menjulurkan ranting-rantingnya yang panjang ke air, seolah mencoba meraih pantulan bulan yang terpecah oleh riak kecil.
Kabut turun dari perbukitan seperti hantu sore, melingkupi pepohonan satu per satu hingga yang tersisa hanyalah siluet-siluet kelam yang bergoyang lembut.
Cahaya temaram yang menembus awan menciptakan dunia tanpa bayangan, di mana segala warna tampak lebih dalam dan waktu seolah terhenti dalam nafas panjang sebelum hujan.
Burung-burung kembali ke sarangnya, menciut dalam keheningan yang menunggu, sementara daun-daun bergoyang diam-diam seperti berdoa memohon titik-titik pertama dari langit yang tertahan.
Angin berhembus perlahan membawa hawa lembap, menyentuh kulit dengan sentuhan dingin yang mengisyaratkan janji hujan yang masih ragu untuk turun.
Mendung menggantung rendah, menyelimuti langit dengan selimut kelabu yang tebal, meredam cahaya hingga dunia seolah berbisik dalam nada yang pelan dan sendu.
Pelangi pasca hujan mengambang di atas bukit, bagai jembatan tipis menuju negeri dongeng yang hanya tampak oleh mata yang masih percaya keajaiban.
Dedaunan musim gugur berjatuhan dalam balet keemasan yang bisu, setiap helainya adalah catatan terakhir sebelum bumi memasuki tidur panjangnya.
Laut biru kehijauan itu berdesir pelan, mengulum pantai berpasir putih dengan buih-buihnya yang berbisik tentang kedalaman yang tak terkatakan.
Jaring laba-laba di pagar tua bergetar halus, menangkap bukan lalat, tetapi serpihan cahaya pertama yang tersesat di antara anyamannya.