Aku terlalu sibuk dengan menjaga janji yang kita ukir Sampai lupa kini kau telah pergi Bersama segala kenangan yang tak akan kembali Di sini, di tempat yang tak lagi aku dan kamu menjadi kita Namun mawar akan terus berbunga menemukan taman-taman indah Hingga lupa bahwa pernah menjadi bangkai pesaki
Akhir'y malam nie aku melihatmu Lama tidak berjumpa, bahkan aku lupa kapan terakhir menyambangimu Mungkin tahun lalu Sungguh! Bertahun-tahun lama'y berusaha tak mengingatmu Ah! Menyakitkan sekali Bagaimana kabarmu? Lihat, aku berhasil menopang dagu dan menemukan cahaya hangat dalam hidup Semoga cin
Aku perwujudan molekul-molekul tak bernyawa hingga hadirmu mengubah segalanya. Riuh bunga berjatuhan tak mampu menghempaskan debu di jalanan. Dentum gema tetesan embun menjadi awal mataku terbuka, melihat keindahan seluruh dunia. Duniaku, dunia yang tercipta antara pertemuan rasaku dan hatimu. Bia
Lagi dan lagi kalimat itu yang menyerang ketika hati semakin dalam Padahal berusaha menerima takdir cinta yang tak mampu redam Ahh! Aku bisa apa? Jika dunia kita tak mampu membuat bintang dan rembulan bersama Meskipun bersatu menghiasi malam Lalu, haruskah ku benamkan hasrat itu di dalam dada? Ag...
Ada banyak diam pada hening malam Namun senyummu selalu saja menemani aku di dalam pejaman Tak ada kalimat yang mampu ku hadiahkan Selain seluruh hati dan cintaku milikmu seorang Kau tahu bahwa ribuan gradasi warna selalu terpancar Menghiasi indahnya langit cakrawala Namun nyatanya kaulah pemilik h
Andaikan malam menjadi selimut Mungkin rinduku tak sedingin ini Andaikan senyummu hadir Tak akan tubuhku menggigil Namun aroma tubuhmu selalu saja menyentuh Menerbangkan segala hasrat akan cinta Menumbuhkan benih-benih asa Semakin dalam semakin menggelora
I love you coz you Bukan hal mudah untukku mengatakan cinta Nyatanya ribuan rahasia mampu kusembunyikan Bahkan besarnya cintaku padamu belahan jiwa Bukankah begitu indah asa yang terus bergelora Aku mencintaimu apa yang ada di dalam dirimu Meskipun aku tak pernah begitu nyata merasuk Namun aku tah
Kulihat dunia melalui bola matamu Kau hidup abadi di dalam tubuhku Cintamu begitu luar biasa membius Aku selalu saja lemah akan asaku Tak kah kau tahu rinduku yang memburu Hingga napasku tercekat melepuh Menyebut namamu setiap waktu Tak ada lelah meski daun selalu gugur
Tidak perlu arti karena alam tak pernah berhenti Selalu memberi kejutan setiap detik Denting tak akan pernah berganti Menit berganti setiap jam mengitari Ada bekas yang terus memelas Memori selalu saja berpetualang bebas Hingga lelah minda meronta iba Tak ada asa tinggalah jasad tak berwarna
Klise bayangan semu tersenyum lalu tertawa Seberkas cahaya tertinggal membekas Ada ragu menyesakkan dada Namun keyakinan terus kau tanam Sampai akhirnya aku diam di balik malam Yang terjadi biarkan mengalir apa yang ada Tak ada gelisah hanya akan membakar Biarkan arang menjadi abu sehingga malam me
Aku bagaikan raga kosong yang tersesat Di kala senyummu tak menghiasi minda Hari-hariku penuh kegelapan malam Ketika bintang tak lagi menghias Bagaimana aku bisa mengobati rinduku Jika hadirmu begitu semu di sampingku Ah, jarak yang begitu menyiksaku Aku merana tanpamu, Oh kasihku....
Satu dua kata terus saja berucap Kala rinduku selalu berirama Dering lagu berkicau mesra Membisik penuh asmara minda Semolek diri berhias senyum Mengalir deras bersama cintamu Kau pujaan hatiku yang terus mengisi Relung jiwaku yang terdalam di sisi
Rindu ini semakin membunuhku Kututup kedua mataku untuk melihat senyummu Senyum manis dari bibirmu selalu saja mencumbu Ah, andaikan jarak tak jauh menempuh Mungkin dilema hati akan bersanding bertamu Kau yang begitu ku merindu Bagaikan taman mereka tanpa semerbak harum Kau aroma yang selalu saja m
Andaikan bisa kupeluk tubuhmu Menyadarkan segala kemanjaanku Mencumbu asmara dalam merindu Melepas penat menahan sesak dalam kalbu Ah, kasih.... Tak kah sampai bisik-bisikan lirihku? Bahwa aku menantimu di ujung malamku Untuk sekedar memandang wajah tampanmu Atau mendengar merdu suara indahmu
Daun itu berguguran jatuh, musim semi ataukah gugur pun tak bisa ku mengerti. Matahari menerobos di antara pepohonan rimbun menelisik ke celah-celah jendela kamarku. Mataku kosong menatap ribuan helai daun yang tak dapat kuraih. Tubuhku menggigil setelah semalam terdampar di tepian jurang yang begi
Malam itu kelam kembali Tak ada sinar rembulan ataupun bintang di sini Mataku kosong menerawang atap-atap langit Hanya ada bongkahan kayu usang Namun ada cahaya yang masuk Jiwaku begitu merintih pilu Tubuhku meringkuk di bawah kasur Mataku enggan menatap jauh Tidak, tidak bukan alam yang bersalah
Kertas-kertas itu terus berjatuhan Seberapa pun aku mencoba tak pernah bisa Penaku tak lagi kokoh berdiri untuk mengukir aksara Terjatuh tanpa meninggalkan suara Kertas-kertas itu tak lagi berwarna Usang dekil tak bernyawa Tak ada lagi coretan kata Selain kegelapan yang begitu menyergap Biarkan, b
Kumohon jangan sentuh Jangan menatapku begitu Jangan biarkan aku di sini Bawa aku pergi, ku mohon, ku mohon Raungan kalimat yang tak pernah sampai Nyatanya hanya kepiluan batin Tak pernah ada kata akhir Selalu saja berputar-putar mengelilingi Bayangan itu menyeringai dengan mengeratkan genggaman
Ku mohon, siapa pun bawa aku pergi Aku tak sanggup lagi di sini Lihatlah, lihatlah bayang di balik pintu ini Selalu saja menjagaku agar aku berdiam diri Membisu bersama keheningan waktu Berdiam di bawah gelapnya ruang usang Aku terlempar kembali ke sini Aku terjebak lagi di sini Ku mohon, siapa p