Malam yang sunyi saat kau tak menghangatkan hati. Bertemankan rembulan meski seorang diri. Hay, kamu yang lagi sariawan. Coba tengok langit malam. Siapa tahu ada malaikat yang turun ke bumi. Bawa kamu bunga biar g' sariawan lagi.
Denting riuh dedaunan menyibakan mata menantimu di ujung senja. Bergeser bebatuan penuh lumut melicinkan pijakan. Jatuh dalam cinta berkali-kali nestapa yang hinggap. Alam pun memilih diam dan mengasingkan waktu.
Kebersamaan selalu berakhir dengan perpisahan. Mau atau tidak mau, nyata'y perpisahan selalu terjadi. Hal paling menyakitkan adalah kematian. Ketika kau merindukan seseorang, tapi hanya mampu melihat foto'y, semerbak harum baju terakhir yang dipakai, peninggalan yang tersimpan di sudut2 ruangan. ...
Kau yang selalu kucinta, bagaimana aku mampu merajut asa? Sedangkan hatiku terbelenggu dalam bait aksaramu. Mengukir setiap detik bersamamu, menyatukan satu demi satu agar tak terpisahkan. Kamu bersama keindahan yang tak mampu aku berpaling. Menjauhimu hal paling menyakitkan, tapi berada di samping
Siapa yang mampu menahan gejolak amarah? Ketika harus memendam dalam kecewa bersama luka-luka yang terjadi di antara kita. Bagaimana aku mampu percaya bahwa luka itu akan bisa sirna ketika kita sejajar meski hanya menjadi saudara tak sedarah. Kau tahu, aku paling menyukai suatu hal yang manis tapi
Arah mata angin selalu berubah setiap detik. Membawa partikel-partikel lembut dan kasar. Mengapa tak memcoba menjadi matahari? Jangan menoleh ke belakang untuk memastikan aku ada. Karena aku akan selalu ada tanpa diminta. Jangan pernah memintaku pergi, karena aku tak akan pernah pergi. Seperti apa
Bukan aku yang memintamu pergi, tapi keinginan hatimu yang tak lagi di sini Biarkan gelombang ombak menyapu pantai, aku tak lagi peduli Agar semua jejak bayangmu tak pernah tertinggal di sini Aku satu dari ribuan malam yang tak pernah terlihat Gelap tertutup awan hitam berputar-putar mencari arah k
Masa lalu adalah milikmu, rasamu kala itu pun hanya milikmu. Meski hati yang dulu masih bagian dari rasa sekarang. Tapi semua itu bukan urusanku, aku berdiri di sini bukan untuk menjadi seorang detektif. Rela melakukan pengintaian dan menghabiskan waktu hanya untuk cemburu. Waktuku hanya untuk me...
Tidak ada yang benar-benar nyata, bahkan cinta itu sendiri. Semu! Datang lalu pergi, kemudian kesepian seorang diri. Apapun hubungan itu, selalu berakhir. "Ternyata sendiri". Mungkin sekarang hangat, suatu hari akan dingin. Masa akan mengganti setiap hubungan dengan hubungan yang lain. ...
Tidak ada merah dalam gelap'y malam. Nyata'y awan-awan saling merenggang Tak ada yg sempurna Sama hal'y rinduku yang tak terbalas Mencintaimu tak akan pernah lelah. Meski seribu peluru menghujam dada. Caramu mencintaiku memang tak semanis gula. Namun ketulusanmu mengalahkan amukan badai lautan.
Gemuruh hati berdentum lirih, menarik-narik jemari melukis perih. Coretan luka terpahat di dinding hati. Darah meleleh menyelami sudut-sudut sepi. Mataku menatap nanar jauh ke depan, berpeluh hangat air menetes di ujung kelopak, menjerit bibir membisu kata, bermandikan dilema pada duka.
Aku hanyalah sebuah bayangan ketika matahari tersenyum menyapa hari. Namun menghilang ketika malam bergantikan sang rembulan. Jauh tenggelam bersama dinginnya angin malam. Sudah lama tak menyapa dirimu yang jauh di sana. Hay, apa kabar dirimu yang sekarang? Terakhir kali aku mendengar saat kau ten
Jatuh cinta itu sederhana, yang sulit meyakinkan hati. Apakah benar-benar jatuh cinta atau hanya sekedar rasa kagum dan suka? Sama halnya aku yang tiba-tiba menemukan rangkaian aksara diksimu yang indah. Aku langsung jatuh cinta, jangan tanya mengapa. Aku menyukai tulisanmu, Lalu, bagaimana dengan
Aku dan kamu menjadi kita. Jodoh itu ibarat kita berdo'a minta untuk didekatkan, justru Allah menjauhkan. Minta dijauhkan justru malah mendekat. Jodoh itu sesuatu yang kita pikir mustahil, tapi dimudahkan. Mencintaimu itu seperti ribuan huruf konsonan bertemu denganmu huruf vokal. Tak akan pernah b
Malam sabtu atau malam apapun sama saja bagiku. Karena kau begitu membuatku terpaku setiap waktu. Begitu sakral ketika kau menyapa ruang anganku. Met malam cintaku yang tak tergapai olehku.
Kubiarkan awan itu menghitam Sampai hujan jatuh berguguran Biarkan sesak dada menyerang Memendam segala asa yang terbuang Tidak, tidak seharusnya aku tidak pernah membuka Jika pada akhirnya dinding-dinding itu terluka Seharusnya aku tak pernah menyadari Jika akhirnya semua begitu sepi
Aku bahagia namun begitu miris Tak seharusnya aku tahu segala hal Namun semua terlanjur terjadi Apalah daya diri yang hanya ingin hidup kembali Setiap waktu hilang begitu saja Tanpa akhir atau pun awal Biarkan aku menghilang untuk sejenak Rasanya begitu lelah untuk berkelana
Biarkan malam nie aku mengenang bagaimana malam-malam begitu beku Sampai akhirnya diam membisu Ah, bukankah itu menyakitkan olehku Namun mengapa tak pernah dimengerti olehmu Begitulah masa selalu saja berjalan tanpa henti Aku hanyalah seseorang yang selalu ada di sini Merawat hati agar terus hidu
Andaikan saja langit itu tak berubah Mungkin kita akan melukis banyak gambar Namun apalah jika kanvas usang tak pernah terbuang Selalu ada di tempat yang tak pernah kujamah Apalah artinya keraguan jika nyatanya memang ada Apalah arti sebuah asa jika menyakitkan Tak akan pernah tahu jika menghilan
Malam-malam terlalu syahdu Sampai aku lupa bahwa ini pilu Rasanya ingin menyudahi anganku Namun semua asaku selalu saja tertuju Mengapa begitu sulit untuk menerima Karena nyatanya hati masih ada ruang Ah, seharusnya aku tak boleh menjarak Karena jarak itu selalu akan ada