Yg namanya sponsor kok tidak boleh menampilkan logo, kalau tidak menampilkan logo tapi membiayai itu namanya bukan sponsor tapi sedekah.
"Beliau ini tidak pernah mencampuradukkan dalam segala sesuatu hal yang bersangkutan agama dengan yang lain. Beliau selalu memisahkan, itu yang menjadi contoh untuk kita," jelasnya. Kata2 adalah do'a, jadi Aamiin......
Aku juga kenal berbagai macam logo rokok dan sampai sekarang nggk ngerokok. Ngerokok atau tidak tergantung orangnya bukan liat atau tau logonya.
Udah jawab, tapi nggak tau sih bener apa enggak. https://s.kaskus.id/images/2019/09/11/5830304_20190911011949.JPG
Beda zaman dulu dan sekarang: Dulu: Anak nangis ngadu ke orang tua, bilang dijewer guru. Apa yang terjadi, tambah dijewer sama orang tuanya. Sekarang: Anak nangis ngadu ke orang tua, bilang dijewer guru. Apa yang terjadi, orang tua ngelabrak guru. Meski nggak semua sih yang seperti itu.
Bener gan, begitu mudahnya sekarang pada bilang kafir, musrik, dan bahkan karena pakai kebaya aja dibilang murtad. Lupa definisi murtad atau emang nggak paham definisi murtad atau definisi murtad yg ane pahami beda kali ya.
Acara berkualitas tapi nggak laku, padahal TV itu butuh pemasukkan untuk biaya produksi dan gaji karyawan yg jumlahnya bejibun. Karena yg laku itu acara2 yg "menurut ane" alay, ya... mau nggak mau TV itu bakalan nayangin acara alay. Jadi, jangan salahin TVnya krn emang gitu selera warga...
Nggak usah dirundung, namanya juga pendapat, kan pendapat itu nggak harus sama dan nggak harus benar juga....
Mungkin "musuh" bangsa Indonesia sebenarnya adalah "segelintir" orang Indonesia sendiri yg tidak nyaman dengan adanya persatuan dan perdamaian, suka bikin kerusuhan dengan dasar perbedaan.
Berarti tanda "+" juga harus diganti gitu, lambang segitiga dianggap dajjal, lambang bintang lima dianggap iluminati, aduhhhhh ......