Mancing Terbata malam dikasih dingin Bulan jadi rekah mulutnya cemberut Jadi terang katanya angin Malam terlampau asik merebut selimut Asiknya garauan mereka Pantas saja kelana suka ketawa Sambil nulis kata jenaka Saya asik mancing pinggir rawa Probolinggo, 2022
Selepas Hujan Hujan sore telah berpulang Seketika burung bernyanyi Basah puisi itu ditutupi ilalang Kubawa dan kukeringkan sunyi Malam harinya kubaca Malah ia mengeja balik Mataku jadi mosaik kaca Meleleh separuhnya rintik Makin larut puisi bercerita Berusaha menidurkan cahaya Kupejamkan segenap
Wanita yang Mengendap-endap Mata-mata di ujung sudut Mengendap lemah menekuk lutut Setibanya telapak kaki memerah Diseka ia dengan selembar darah Seberapa menit kemudian ia berdiri Rok hitamnya dibersihkan jemari Agak kusut kena desahan kapas Dari dulu semaikin hari semakin jelas Probolinggo, 202
Jejak Basah Jejak kaki masih basah Permukaan becek jeruji lumpur Padahal hujan telah lama patah Memang aneh basahnya jalur Kebelakang kupandang dari jejak baru Lagi lagi, lagi dan lagi Terasa amat memburu Kemudian angin bernyanyi tak sadar jatuh embun pagi Probolinggo, 2022
Teh Hangat Teh hangat masih sisa setengah gelas Tenggak terakhir pun belum terlihat jelas Kehangatannya sudah seruput habis Tinggal setitik manis sebaris Diseruput lagi sisa setengah Beku malam diam parah Sunyi mimpi diam-diam menjarah Mengambil manis lidah diberikan kepada lelah Ketika tegukan t...
Ingin Aku ingin duduk di kursi hangat Bersama lalu-lalang kata yang begitu pekat Aku ingin minum kopi Dengan setetes rindu yang semalaman diasapi Aku ingin makan puisi Supaya cepat kenyang dan bisa jadi pengganti nasi Probolinggo, 2022
Larut Pagi pt. 1 Detak terdengar di sisi ruang Nadanya panjang menukik riang Tapi di ruang ini tempoku menggebu Begitu cepat malah pangdangku abu-abu Kuterbangun Tarikan napasku melompat anggun Berdiri, lalu kucari Dan ternyata detak itu cuma sisa dari suri Probolinggo, 2022
Obrolan di Warung Aku dan kamu telah lama bercakap Entah itu dihitung angka maupun dihitung masa Tapi anehnya kita selalu diam saat bersantap? Apa kita takut tersedak atau sekedar jaga rasa? Yang membuatku lebih bingung lagi saat kau minum Gelas tadinya penuh malah tumpah sendiri di mulutmu Apa ja
Kursi diam Alas cekam Pergelangan beku Sepasang ganap kaku Inikah rindu? Dingin, penyiksa bersuara merdu Semangat berpuisi bree :toast
Sehabis kenaikan kelas Setelah kertas tercoret bebas Seusai seragam lepas Bebas Bablas Beras Semangat berpuisi ye :toast
Bahasaku Bahasaku tumbuh dari lelah Kemudian diasuh dengan pasrah Dan disusuia oleh parah Saat suadah berjalan dengan dua kaki Bahasa mulai berlari Setelah itu kehabisan napas, lalu mati Beranjak dewasa bahasa memaksa bangun Paksa gali kubur sendiri yang dibangun Setelah hilang ia bertahun-tahun
Sepuntung Hari Hari sudah terbakar habis Adapun sisa cuma tinggal sepuntung Tak lagi dihirup manis Ataupun menulam asap yang dihitung Untung hari ini tak cuma terbakar Sela-sela rutinitas panas diberi kopi Pahit dan agak manis sukar Rasa lama yang patut disikapi Probolinggo, 2022
Mana Katamu? Katanya ia tak benar-benar melupa Sekarang sebatang rokok jadi tempat berjumpa Sedikit demi sedikit asap menelan batang Api menjerit ketika angin berpulang Sesak-sesak bertutur setiap hari Tapi kenapa kemudi terus berlari Malahan semakin mengebul dibuatnya rel Gerbong semakin cepat be
Langit Itu Tak Lugu! Ingat Itu! Sepertinya langit bersaksi dengan rumit Kata-katanya tak dapat dikutip apa lagi diibuat bait Walaupun seperti itu ia tak benar-benar lugu Seringkali kakinya begitu tajam menancap kelu ini sangat curam Pada akhirnya ia tak dapat dipersalahkan Dari segala apa yang ki
Diam Rerumputun kelihatannya gelisah mendengar nyanyian rintik Gema yang terjatuh sekarang terdengar begitu pelik Berdisir dibawa dingin dari tungkai matahari Redup bersama langit kelabu yang berlari Sepersekian detik nyata gelap Seberkas titik diam-diam mengendap-endap Dipecahkannya sunyi Diam-di
Barisan Sepatu Sepatu-sepatu berjalan dengan lugu Berbaris sambil menunggu datangnya lagu Setelah tiba giliran, sepatu menanyi Tergupuh menapak tanah asing dan sunyi Tanah asing Kerikil asing Debu asing Berbisik tiap-tiap langkah jadi nyaring Tidak seperti hamparan depan rumah Senyum pun begitu l
Lagu Lirik rintik menggema di ruang tamu Pertanda gelombang bias diramu Suaranya tak asing pada masa berlalu Memutar piringan lama tertutup kelu Telah berjejer ribuan nama Sepertiganya tak asing dieja sama Seperiganya lagi konsonan vokal berbeda Sepertiga terakhir dikubur dalam-dalam reda Proboli
Selamat! Selamat untuk masa, waktu tak kabur terlalu lama! Selamat atas dunia, sekarang menempuh kata! Selamat bagi kita, berbicara menjemput makna! Selamat kepada bukan siapa-siapa, sepi masih berbaik sangka! Selamat! Selamat! Selamat tak melulu angka Probolinggo, 2022
Sate Sate masih mengepul di tangan pedagang Asapnya melumat indra cepat kenyang Lapar mengetuk pintu asam berpulang Cepat ganti wujud terbayang panas arang Seketika penduduk mulai berdatangan Menukarkan nilai pecahan dengan makanan Sayangnya saya tak ikut disana merayakan Uang cukup ditabung puta