Kenyataan Sepanjang waktu bercerita perihal suka yang sama Memanjangkan kata tak berguna demi rapikan rasa Tapi semuanya berlalu berujung sebatas tahu Rindu itu dijahit ragu Dianyam senyum palsu Probolinggo, 2023
Rindu Aku mulai merindukan sajakmu yang tak bisa kurencana Menghanyutkan ranting-ranting kakuku begitu jauh hingga lupa dilirik mata Aku mulai merindukan suara yang tak bisa kueja Geraknya keterlaluan luwes hingga tak bisa kucatat di meja Aku mulai merindukan katamu yang tak selalu bisa kucerna ...
Dekap Semakin kedap Makin Dekap Semakin berat Makin erat Menyatukan panas Air matapun deras Genangi punggung Isak menggulung Sayang kemudian bangun Sepi tak kenal ampun Memang Ia tak kenal pantang Probolinggo, 2023
Malam Langit sudah gelap Pertanda mentari lelap Sedangkan bulan terjaga Temani hati lelah berlaga Diiringi sepinya hari Tetapi kepala riuh rimpi Berkali-kali mengumpat lagi Demi bisa berjalan pergi Begitu hari-hari Paksa kepala berlari Begitulah hari-hari Perlombaan asri Probolinggo, 2023
Lebur Lalu Beku Berbesik angin pegang wajahku Suaranya lebur sekejap beku Mulai mengganggu anganku Habis peluh hari memburu biru Pada siapa aku bertanya Malam masih diam berlaga Mungkinkah ini sudah semesrinya Dibiarkan kaku tetap terjaga Probolinggo, 2023
Perkara Jauh Perkara waktu tak mudah Seringkali kita mengalah Bertekuk lutut dan pasrah Sampai rindu makin parah Sabar jadi sarapan Rasa tak manis pujian Malah pahit tak karuan Cekoki mimpi supaya telan Ketika waktu telah tiba Semoga ragu tak berlomba Sanggub berkata suka Tanpa telan lagi muka P
Sehabis Pagi Pagi hari masih diam Dan mataku kantuk sulam Perihal acara hari ini Pastinya kerja cukup puisi Sayangnya saat ini Puisi ini belum jadi nasi Akhirnyapun cari gelas Seduh kopi cukup panas Lantas Seketika panas makin jelas Selembar roti tawar membaca Mulutku yang tak mau cerita Proboli
Kali Ini Sementara Lumpuh hatiku Lalai Biru jiwaku Menepi Sembunyikan diri Ratapi pagi Untuk kali ini Probolinggo, 2023
Paginya Semut Semut sedang membaca pagi Serius hingga lupa berdiri Kemudian awan mendung Seketika semut lari termenung Terus begitu sampai hujan Rumahnya basah sisa satu dahan Bergegas cari akar Seketika lelap berseselimut belukar Probolinggo, 2023
Jejak Baru tahu Waktu itu kau pergi Bawa langit biru Kau tenggelamkan semua jari Napasku memburu Seketika pita suara jadi mati Baru tahu Sejak itu aku mencintai Blitar, 2023
Sore Mendung Langit putih beku Mengasingkan matahari sejak dua hari lalu Mengendap lelakuku Menghitung perihal waktu kapan bertemu Jam dulu memang pernah sama Tapi menitnya sering kali berbeda Kita memang dua Bisakah menjadi sepasang angka Probolinggo, 2023
Diangkat Tali kupu-kupu terbang Tarik jadi satu sekumpulan ilalang Diangkat tinggi-tinggi ke atas Menuju atap sejengkal pembatas Saya tahu atas itu luas Diharap alang-alang bisa bebas Menyibak gumpalan terang Jejaki belukar berdentum garang Probolinggo, 2023
Kini Diam Semalam gurun dingin menjelajah waktu Kakinya menguning tapaki langit biru Baru keluar lagi tanpa diberi tahu Tiba-tiba datang seketika membisu Aku bingung dan bertanya kepadanya Tapi ia hanya berikan isyarat mata Manakala waktu purba kuberi nada Mungkin kini ia telah bernyanyi ria Prob
Pelangi Purba Berhati ketika bertemu pelangi Multiwarna menjulang panjang dan tinggi Ditariknya garis ufuk diam sendiri Sementara aku kedap sunyi Mengulang rindu tak berperi Meskipun itu menyakiti diri sendiri Aku rindu langit yang masih menghitung jari Aku rindu suara samar tanpa menyakiti Aku r
Tertinggal Kemana dingin itu berlari Ia diam-diam meninggalkan sepi Sekarung penuh Tak habis dimakan separuh Lantas sisa diberikan siapa? Apakah panas mau menerima? Kelihatannya tidak Ini terlalu awal, bisa-bisa ia tersedak Probolinggo, 2023
Buku Merah Buku merah di seberang kaca itu ingin kubeli Berbekal puasa nasi pagi hari, kubusungkan niat beli Satu-persatu koin berganti Pagi-pagi tanggung nyeri Demi beli Dapat arti Probolinggo, 2023