Kosong Seperti telur cecak terjepit di sela daun jendela. Aku berada pada bilik tanpa pintu tanpa cahaya. Mengukir kata seakan meraba tumpukan jarum berbisa. Sakitnya terasa. Perih bertahan lama. Semakin aku ukir, pahatan kian tak berbekas. Luka meluas. Satu persatu, kata kususun lagi. Ingin bert
Bolos Sidang Bolos sidang Kerjamu hanya terbang Terbaring entah di kamar mana Bersama boneka atau mahluk nyata Buktinya sekarang tidak ada di kursi Yang kami lihat hanya benda mati Tak mungkin ada alasan Kalau dahulu, katanya lagi kunjungan Sekarang hanya ngaku kesakitan Lelah dengan sumpah Atau g
Bingkai Negosiasi Aku hampir menangis. Tak tega lihat kalian duduk di sana. Dengar ocehan tentang indahnya bersama. Sepiring dibagi rata. Sebantal berdua. Hingga air mata yang coba diseka sebelum tiba waktunya. Kertas-kertas yang kalian bagi untuk panduan pengembangan diri. Siapa yang berkembang?
Tempat Berbagi Baiklah, aku akan coba inventarisir apa saja salahmu. Kamu juga. Ingat-ingat saja. Apa yang telah kalian lakukan. Bersekongkol menjadikan harapan hilang. Manis muka hanya sandiwara. Ramah mengajak kerjasama adalah sebuah drama. Memanfaatkan keluguanku. Ketika itu benar niat suci ing
Kamu Jahat Ia datang bertamu membawa segudang konsep tentang perubahan. Aku lihat semua hanya catatan usang. Belum sempat aku tanya. Ia sudah bercerita bagaimana masalah datang dan pergi. Meminta solusi. Bagaimana orang-orang dengan sedikit motivasi. Dalam momen tertentu aku melihatnya sebagai pe
Sumpah Aku sudah dengar sumpah nyaring diucapkan Penuh kesadaran atas nama Tuhan Disaksikan ribuan mata Oleh jutaan telinga Upacara sakral Pada mimbar besar Orang-orang terpelajar Langit dan bumi mendengar Di antara kokok ayam sumpah didendangkan Di antara riuh serigala sumpah dilagukan Akankah a
Oh, Guruku Bagaimana mungkin aku merindukanmu sementara langit sudah tertutup debu. Bagaimana sayang bisa aku panjatkan bila malam untuk kita telah hilang. Dirimu adalah butiran hujan siang malam doa hadirmu dipanjatkan. Aku tak kuasa membayangkan ketika desahku lenyap bayangan pergi tak ada pengg
"Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" Sungguh Mengusik Dada Upacara Hari Guru baru saja selesai Aku dengar suara drumband mengalun dengan harmoni Antara harapan dan patah hati Antara kegembiraan dan sakit hati Antara kesombongan dan mawas diri Piagam penghargaan berlembar-lembar dibagikan Ucapan s
Kangen yang Sangat? Mengapa Tidak Pernahkah kamu merasa kangen yang sangat? Suatu saat barangkali. Atau tak ada pikiran ke sana, hingga semua terasa hambar tanpa gula. Seperti kopi kebanyakan air panasnya. Atau seperti sayur tak ada garamnya. Menjijikkan memang. Aku pernah mengalaminya. Dan ternya
Kunang-kunang, Pucuk Bayam, dan Aku yang Tak Berteman Seperti kunang-kunang yang datang di penghujung malam Pucuk bayam jadi santapan ulat daun hingga kenyang Juga diriku yang kini tak lagi berteman Kerlap kerlipnya semakin hari kian redup dan menjauh Sebuah isyarat ketika berkas cahaya tak lagi p
Pelangi, Kamboja, dan Seroja yang Berhias Alakadarnya Sekuntum bunga memberi nama atas dirinya Air yang diserap akarnya lagi menampilkan istimewa Kamboja mengaku paling harum dan indah warnanya Seroja diam, ia terima apa adanya Kamboja belum puas Pengakuan padanya belum seberapa Tak lelah-lelahny
Setiap Saat Kita Akan Selalu Bersama Setiap saat kita selalu bersama Seperti udara yang kita hirup setiap detiknya Sedemikian besar tetap saja aku selalu ingin bercerita Tentang apa saja Jauh darimu dan lepas dari komunikasi Tersekat waktu malam ketika bintang engan bersua Sungguh adalah siksa Aku
Sedetik Setelah Tengah Malam dan Kopi yang Tinggal Satu Tegukan Selepas malam tiba banyak mata masih terjaga. Banyak cinta masih menyala. Banyak rindu masih menggebu. Malam tetap berlalu. Terang bulan atau gelap gulita. Sama saja. Aku tetap menganggap waktu berlalu adalah kerugian besar, ketika ta
Nasib Mangga Ketika Musim Buah Tiba Mangga yang matang suatu ketika pasti jatuh Baik dengan kulit mulus sempurna Bersih luar dalamnya Tak sedikit yang berselimut antraknosa Terburai Elembun jelaga Dan merana akibat dilpodia Kita jadi salah satu mangga yang terancam Ia bukan penyakit mematikan Mata
Bayi Itu adalah Cucuku Bayi hadiah cinta Anugerah termulia Usung martabat orang tua Pada fitrahnya Bayiku generasi kedua setelahku Bayinya generasi ke tiga dalam hitunganku Ada apa? Aku terlahir dengan bedung jarit robekan Pagi hari dijemur hingga keringatan Menangis dalam teriakan Ditertawakan d
Apalagi yang Membuatmu Bertanya-tanya Aku pasang telinga Aku dengar dengan nyata Bersorak demi sebuah nama Berteriak Memberi tanda begitu dalam cinta Pendengaran sempurna Bahkan desah semut di balik dinding batu di dalam goa Terbata hingga gagu dalam aksara rancu Tereja dipahami sepenuh makna Ter
Kelahiran yang Jadi Perayaan (Cinta Rasul) Pernahkah kau terpikir Ada yang terhina setelahnya Sakit hati merana Kecewa besar membara dalam dada Menangis pun tak bisa Pernahkah kau punya idola Sebut salah satu nama Ciri fisik selengkapnya Pergaulan dan cara hidupnya Pernahkah kau punya idola Panut
Kau Beri Gelar Aku Pahlawan Kau beri gelar aku pahlawan Toh, aku tetap terlentang Jadi bangkai di pekuburan Topi baja kau taruh pada tanah terbuka Hujan panas tak dapat mengelak Berterimakasih pun aku tak sempat Aku pernah jadi orang buangan Tidur di alas roban Berteman nyamuk dan kelabang Gelar k
Mimpi yang Lahir Kembali Cerita sedih kadang datang tanpa diduga. Tak akan pernah pergi lagi selamanya. Merupa dalam mimpi. Bertamu seperti kilat malam sebelum hujan lebat datang. Aku lihat perempuan ini mencoba mengambil mimpinya. Ia adalah Tulip dalam saku baju mewangi pesonakan rindu yang mengg
Kamu adalah Kekasihku Kamu pernah memintaku menjadi kekasihmu Dan aku mau Kamu pernah memaksaku mencintaimu Aku pasrah dalam pelukanmu Kamu pernah sengaja menyakitiku Aku tak peduli Aku tersakiti Kamu adalah kekasihku Kekasihku adalah; Keinginan mengaku lapar Tak terkenyangkan Ambisi oligarki memb