Oh jadi cuma karena Chat lalu percaya, apa guna jurnal penelitian dan data data kematian selama ini? Oh iya aku juga dengar dari neneknya nenek-nenek kalau kau itu pengangguran cuma jadi beban negara
Makanya percaya saja sama penyebar Hoax, kalian atau keluarga kalian yang sekarat, mereka cuma tinggal sebar Hoax lainnya Tak ada urusan sama kalian
Lha ulamanya kok yang mau kena COVID-19 Buktinya tak mau mesjid di tutup, maunya buka seperti mal, dll
Makanya otak dipakai dulu, sebelum seperti ini apa yang dilakukan mereka, patuh pakai masker dan jaga jarak, lockdown dan vaksinasi, Makanya bisa bebas sekarang Ini sudah tidak patuh, tak mau vaksin, tiba tiba mau seperti negara lain Mikir dong tolol
Bagi yang tidak percaya sama COVID-19, kalau keluarganya sakit jangan dibawa ke RS, obati saja sendiri Jadi mati enggak dibilang di-Covid-kan RS berkurang bebannya untuk urus keluarga orang idiot itu Yang lain bisa diselamatkan
Cuma buat golongannya ya. Biar nanti Pemilu masih ada yang memilih mereka Bukannya mereka anti vaksin ya?
Duh jangan urus Jakarta deh, Indonesia bukan hanya Jakarta Banyak daerah lain yang perlu diawasi Jakarta biarkan saja Masyarakat nya sudah iklas
Lalu kenapa banyak yang tidak bisa dapat kamar rawat inap dan meninggal saat isolasi mandiri? Apa namanya itu bukan kolaps?
Yang lagi beli susu beruang itu, ternyata sedang menjalani isolasi mandiri karena ada keluhan batuk demam dan hilang penciuman. Nikmatilah
Dulu juga Remdesivir obat gagal untuk Ebola tapi dipakai untuk COVID-19 Kenapa apoteker tak menolaknya? Obat itu diberikan oleh dokter, atas indikasi sesuai keilmuannya. Apoteker enggak bisa melarang Kecuali dia jadi dokternya
Kasihan Tuhan, capek capek kasih otak buat berfikir, malah dipakai buat ngapalin dan manut doang Oon dah
bodoh ini Kemenlu Kan Gabener cuma minta uang kencing dan berak saja sama Dubes Asing Mereka tinggal tenang aman di Jakarta, masa tak mau kontribusi buat bayar uang kencing dan berak. Kecuali malak, baru lah dilarang
m4niax Makanya aku bilang, banyak yang tak tercatat. Masalah di negara ini memang dari dahulu pencatatan. India juga pasti seperti itu, karena kasusnya sudah diluar kemampuan RS tumpah ruah, jadi tidak maksimal. Yang buat ngenes, masih aja ada yang belum percaya dan bilang Hoax