Kaskus

Entertainment

lapautekchy01Avatar border
TS
lapautekchy01
SI KOMANG NAN MANIH
Si Komang Nan Manih
Oleh, Nilam Cayo.
Dulu, ketika kabut masih sering menyelimuti lembah, datanglah rombongan dari Paninjauan Padang Panjang. Dipimpin oleh Inyiek Cumano, mereka menembus rimba, menyusuri aliran Batang Kawas, lalu menetap di satu dataran subur bernama Muaro Sariau. Di sinilah mereka membangun pemukiman, mendirikan Kubang Tigo Baririk sebagai pusat nagari. Semangat mufakat membentuk struktur adat: Empat Suku dan Sembilan Kampuang, masing-masing dijaga oleh penghulu, malin, monti, dan dubalang.
Di satu masa, seorang anak nagari sedang bermain di tepi anak sungai. Ia melihat buah pohon Komang hanyut dibawa arus. Biasanya pahit, tapi yang ini manis tak disangka. Orang tua menyebutnya Komang Manih, sungai pun diberi nama yang sama. Dari sana lahir sebutan nagari, Kumanih, lalu lama-lama jadi Kumanis.
Konon katanya, pohon Komang itu tumbuh dari biji yang dibawa burung jalak dari negeri jauh. Ia tumbuh di tanah nan diberkahi, di bawah cahaya bulan purnama, dan buahnya hanya manis saat ada tanda dari langit. Di waktu tertentu, ketika kabut turun sebelum fajar, masyarakat percaya suara lembut dari aliran sungai adalah gumaman roh dari Komang Manih.
Namun ketenangan itu terusik, ketika langit timur belum sepenuhnya terang, datanglah Adityawarman dari Darmasraya, membawa ilham dan pusako. Diiringi istri dan rombongan, ia menyusuri Batang Kawas lalu merapat di Batu Jonggi, titik pertama singgah di Nagari Kumanis. Di sana, ia disambut baik oleh Inyiek Cumano dan raja sekutu dari Sumpur Kudus. Mereka duduk baselo, bicara tentang limbago, tanah, dan masa depan.
Tak lama, Adityawarman mendirikan kerajaan pertama di Biaro, berpusat di Tanjuang Alam. Dengan gelar Sri Maha Raja Diraja, ia dikenal sebagai Rajo Alam pertama di Ranah Minangkabau. Anak nagari mulai menyebutnya pemimpin nan bisa menautkan adat dan ilmu, dunia dan akhirat.
Untuk mempererat hubungan, Adityawarman menikahi Putri Pinang Masak dari Sumpur Kudus—gadis nan elok parasnya, tajam budi dan santun tutur. Dari ikatan itu, lahirlah garis keturunan Rajo Ibadat, pemimpin nan bijak dan taat, penjaga nilai-nilai agama dan limbago. Di Tanjuang Medan, Medan Nan Bapaneh, Adityawarman membangun pemandian dari batu, dipagar ruyuang, tempat beristirahat dan menyucikan diri. Dari sanalah akar nama Pagaruyuang tumbuh.
Namun nasib berkata lain. Sang putra, Sutan Sari Alam, suatu hari pergi mandi di sungai yang tenang. Tapi ketenangan menyimpan bahaya—seekor buayo putih muncul dari kedalaman dan menelan sang pangeran. Warga percaya buayo itu adalah utusan alam, muncul ketika ada kesalahan atau hutang pusako tak dibayar. Duka pun menyelimuti nagari.
Di Kubu Rajo, Biaro, jasad Sutan Sari Alam dimakamkan. Upacara adat digelar tujuh hari tujuh malam. Dari peristiwa itu, Adityawarman mengambil keputusan: ia harus pindah, memperluas kerajaan, membawa ilmu dan limbago ke tanah lain.
Nagari Kumanis tetap menjadi tempat awal nan dihormati. Di balik nama Komang Manih tersimpan cerita tentang buah, tentang sungai, tentang rajo dan pusako. Setiap anak nagari tahu bahwa Batu Jonggi bukan sekadar tempat, tapi saksi sejarah—bahwa di sanalah mimpi tentang Pagaruyuang bermula.

0
32
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan