asalsabilaas658Avatar border
TS
asalsabilaas658
Cerita di Balik 6 Soal KPK dan FPB: Ketika Mahasiswa Bertamu ke Kelas 5 SD
Hari Selasa kemarin, kelas saya menjalankan sebuah agenda perkuliahan yang sudah direncanakan sejak lama oleh dosen. Kami diminta untuk menyelesaikan enam butir soal tentang Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dalam waktu satu jam di ruang kuliah. Sisa waktu mata kuliah hari itu kemudian kami gunakan untuk langsung terjun ke salah satu sebuah Sekolah Dasar (SD) di Samarinda. Jujur saja, awalnya saya sempat khawatir dan mengira nilai kami sebagai mahasiswa akan kebanting jauh di bawah nilai anak-anak SD tersebut.

Dugaan saya ternyata salah besar setelah kami melihat langsung proses pengerjaan di kelas 5 SD tersebut. Dari seluruh siswa di kelas, hanya ada dua anak yang tergolong lumayan pintar dan mereka pun hanya bisa menjawab maksimal empat nomor saja. Selebihnya, banyak murid yang ternyata belum lancar perkalian dasar seperti perkalian dua. Mereka juga bingung menentukan mana angka yang lebih kecil antara 2² atau 2³. Kejadian ini sungguh di luar ekspektasi saya untuk anak-anak yang sebentar lagi akan naik ke tingkat sekolah menengah.

Sekolah yang kami datangi ini sebenarnya memiliki suasana yang sangat menyenangkan dengan kepala sekolah dan guru-guru yang ramah. Saya juga melihat ada stiker rumus perkalian 1 sampai 10 tertempel di dinding belakang pojok kanan kelas mereka. Sayangnya, pajangan tersebut tampaknya kurang efektif untuk membantu ingatan siswa. Anak-anak di kelas tersebut mengalami masalah "cepat lupa" yang cukup nyata. Mereka bisa belajar dengan baik pada pagi hari, namun semua ilmu itu menguap begitu saja saat mereka sudah sampai di rumah pada siang harinya.

Melihat kondisi tersebut, saya langsung teringat dengan pengalaman pribadi saat masih duduk di bangku kelas 4 SD dulu. Wali kelas saya zaman dulu selalu menerapkan metode yang sangat membekas hingga sekarang. Setiap pagi sebelum memulai pelajaran, kami sekelas wajib bersama-sama melafalkan perkalian 1 sampai 10 secara runtut. Kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari itu berhasil membuat kami semua hafal luar kepala. Alhamdulillah, manfaat dari kebiasaan masa kecil tersebut masih saya rasakan dan melekat kuat sampai detik ini.

Metode melafalkan perkalian bersama setiap pagi rasanya bisa menjadi strategi yang sangat bagus untuk dicoba kembali di sekolah-sekolah saat ini. Menempel poster angka di dinding saja tidak akan cukup jika anak-anak tidak dibiasakan untuk mengucapkannya secara aktif. Guru perlu menghidupkan kembali kebiasaan baik ini di awal jam pelajaran agar kemampuan numerasi dasar anak terasah dengan kuat. Peran aktif di kelas seperti ini jauh lebih menyenangkan bagi anak-anak daripada sekadar menyuruh mereka menghafal sendiri di rumah secara kaku.

Perjalanan singkat ke salah satu sekolah di Samarinda hari itu memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Kita harus sadar bahwa memperkuat pemahaman dasar anak jauh lebih utama daripada sekadar mengejar nilai di atas kertas. Pendidikan yang baik seharusnya membangun fondasi yang kokoh melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten. Semoga coretan-coretan bingung dari anak-anak kelas 5 SD kemarin bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali menerapkan metode belajar yang sederhana namun berdampak panjang bagi masa depan mereka.

Catatan Penulis: Tulisan ini murni dibuat sebagai refleksi dan berbagi pengalaman pribadi selama perkuliahan, tanpa ada maksud sedikit pun untuk menyinggung, menyudutkan, atau merendahkan pihak mana pun.
0
5
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan