- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Istana Jelaskan Alasan Prabowo Sering ke Luar Negeri
1/1
TS
taritali
Istana Jelaskan Alasan Prabowo Sering ke Luar Negeri
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons kritik soal seringnya Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke luar negeri.
Menurut Teddy, sebagai presiden baru, Prabowo perlu membangun hubungan baik dan kedekatan dengan para pemimpin dunia.
Ia menilai diplomasi langsung penting, terutama saat dunia sedang menghadapi banyak krisis dan konflik.
Teddy menegaskan kunjungan luar negeri bukan hanya acara seremonial. Ia menyebut ada sejumlah hasil yang diklaim tercapai, seperti Indonesia menjadi anggota penuh BRICS, penyelesaian IEU-CEPA, masuknya investasi sekitar Rp2.430 triliun dalam 1,5 tahun, serta tambahan investasi sekitar Rp575 triliun setelah kunjungan ke Jepang dan Korea.
Selain itu, ia juga menyebut kerja sama pertahanan dengan banyak negara serta kelancaran pelaksanaan ibadah haji sebagai bagian dari hasil diplomasi pemerintah.
Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik tingginya frekuensi perjalanan luar negeri Prabowo.
Menurut Dino, perjalanan kepala negara ke luar negeri memakan biaya besar dan sebagian komunikasi dengan pemimpin negara lain sebenarnya bisa dilakukan secara daring untuk menghemat anggaran.
Ia juga menilai banyak kunjungan bilateral hanya berisi pembicaraan singkat, sementara sisanya lebih bersifat seremonial.
Perdebatan ini akhirnya membuka dua sudut pandang: pemerintah melihat kunjungan luar negeri sebagai investasi diplomasi, sementara kritik publik menyoroti efektivitas biaya dan urgensi perjalanan tersebut.
Gimana tanggapan kalian gans?
Sumber: Bloomberg
Menurut Teddy, sebagai presiden baru, Prabowo perlu membangun hubungan baik dan kedekatan dengan para pemimpin dunia.
Ia menilai diplomasi langsung penting, terutama saat dunia sedang menghadapi banyak krisis dan konflik.
Teddy menegaskan kunjungan luar negeri bukan hanya acara seremonial. Ia menyebut ada sejumlah hasil yang diklaim tercapai, seperti Indonesia menjadi anggota penuh BRICS, penyelesaian IEU-CEPA, masuknya investasi sekitar Rp2.430 triliun dalam 1,5 tahun, serta tambahan investasi sekitar Rp575 triliun setelah kunjungan ke Jepang dan Korea.
Selain itu, ia juga menyebut kerja sama pertahanan dengan banyak negara serta kelancaran pelaksanaan ibadah haji sebagai bagian dari hasil diplomasi pemerintah.
Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik tingginya frekuensi perjalanan luar negeri Prabowo.
Menurut Dino, perjalanan kepala negara ke luar negeri memakan biaya besar dan sebagian komunikasi dengan pemimpin negara lain sebenarnya bisa dilakukan secara daring untuk menghemat anggaran.
Ia juga menilai banyak kunjungan bilateral hanya berisi pembicaraan singkat, sementara sisanya lebih bersifat seremonial.
Perdebatan ini akhirnya membuka dua sudut pandang: pemerintah melihat kunjungan luar negeri sebagai investasi diplomasi, sementara kritik publik menyoroti efektivitas biaya dan urgensi perjalanan tersebut.
Gimana tanggapan kalian gans?
Sumber: Bloomberg
jpnnberita memberi reputasi
1
76
1
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan
