- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Tekanan Belum Usai, Rupiah Lanjut Melemah
TS
jaguarxj220
Tekanan Belum Usai, Rupiah Lanjut Melemah
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah membuka sesi perdagangan pasar spot pagi ini dengan pelemahan 0,18% di posisi Rp17.870/US$. Tak berselang lama rupiah kembali menyusut 0,26% ke Rp17.887/US$.
Indeks dolar Amerika Serikat (AS) sedikit berubah 0,04% dan bertahan di level tinggi 99,25, sementara harga minyak Brent kembali menguat 0,76% ke posisi US$96,73 per barel pada 09:05 WIB.
Kenaikan harga minyak mentah membuat sebagian mata uang kawasan Asia melemah. Rupiah menempati posisi terdepan dalam pelemahan, disusul Malaysia, yuan offshore, dan yuan China, serta peso Filipina.
Sedangkan, dolar Taiwan, yen Jepang, dolar Singapura dan Hong Kong tercatat menguat meski terbatas.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.800-Rp17.900/US$.

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) sedikit berubah 0,04% dan bertahan di level tinggi 99,25, sementara harga minyak Brent kembali menguat 0,76% ke posisi US$96,73 per barel pada 09:05 WIB.
Kenaikan harga minyak mentah membuat sebagian mata uang kawasan Asia melemah. Rupiah menempati posisi terdepan dalam pelemahan, disusul Malaysia, yuan offshore, dan yuan China, serta peso Filipina.
Sedangkan, dolar Taiwan, yen Jepang, dolar Singapura dan Hong Kong tercatat menguat meski terbatas.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.800-Rp17.900/US$.

Pergerakan rupiah dan mata uang kawasan. (Bloomberg)
Faktor pemberat rupiah berasal dari pelebaran defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan. Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat defisit US$9,15 miliar. Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.
Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar.
Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer), Indonesia sepertinya terus dibayangi kenaikan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik. Semakin tinggi harga minyak bertahan, semakin besar pula tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia.
Di sisi lain, lonjakan inflasi ke level 3,08% menempatkan Bank Indonesia dalam posisi yang serba sulit. Inflasi memang masih berada dalam rentang sasaran 1,5-3,5%, tetapi laju kenaikan yang mulai menyebar ke berbagai kelompok pengeluaran menunjukkan tekanan harga tidak lagi bersifat sementara.
Kenaikan biaya transportasi, restoran, kesehatan, hingga perawatan pribadi mengindikasikan bahwa tekanan inflasi telah merambat ke sektor jasa dan konsumsi rumah tangga.
Di tengah kondisi ini, pergerakan rupiah sepertinya masih akan sangat terbatas. Kombinasi antara lonjakan harga minyak, menguatnya dolar AS, dan adanya tekanan inflasi domestik membuat ruang sempit untuk penguatan rupiah secara berkelanjutan.
Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar.
Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer), Indonesia sepertinya terus dibayangi kenaikan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik. Semakin tinggi harga minyak bertahan, semakin besar pula tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia.
Di sisi lain, lonjakan inflasi ke level 3,08% menempatkan Bank Indonesia dalam posisi yang serba sulit. Inflasi memang masih berada dalam rentang sasaran 1,5-3,5%, tetapi laju kenaikan yang mulai menyebar ke berbagai kelompok pengeluaran menunjukkan tekanan harga tidak lagi bersifat sementara.
Kenaikan biaya transportasi, restoran, kesehatan, hingga perawatan pribadi mengindikasikan bahwa tekanan inflasi telah merambat ke sektor jasa dan konsumsi rumah tangga.
Di tengah kondisi ini, pergerakan rupiah sepertinya masih akan sangat terbatas. Kombinasi antara lonjakan harga minyak, menguatnya dolar AS, dan adanya tekanan inflasi domestik membuat ruang sempit untuk penguatan rupiah secara berkelanjutan.
Mantap, terdepan dalam pelemahan... 

Makanya pas kemarin stabil, serok dulu Dolar nya..
Jangan malah serok saham rasa judol donk..
jpnnberita dan 2 lainnya memberi reputasi
3
154
13
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan