Kaskus

Entertainment

KASKUS.HQAvatar border
TS
KASKUS.HQ
Tak Sekadar Kompetisi, Campus League Kejar Ekosistem
Tak Sekadar Kompetisi, Campus League Kejar Ekosistem

Di tengah riuh yang mengiringi Basketball Campus League Season 1, penyelenggara justru kembali mengingatkan publik pada tujuan yang lebih besar dari sekadar hasil pertandingan atau persoalan venue. Bagi Campus League, kompetisi ini merupakan langkah awal untuk membangun ekosistem olahraga kampus Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Visi tersebut diserukan kembali oleh CEO Campus League, Ryan Gozali, saat konferensi pers di Media Center UPH Basketball Court, Tangerang, Banten, Minggu (31/5). Di hadapan media, Ryan menjelaskan bahwa Campus League sejak awal tidak dirancang hanya sebagai kompetisi tahunan, melainkan sebagai fondasi untuk membawa olahraga kampus naik ke level yang lebih tinggi.

"Tujuan dari Campus League adalah meningkatkan ekosistem olahraga kampus Indonesia. Kami ingin membawa ini naik jauh ke level berikutnya. Acuan kami adalah NCAA di Amerika," ujar Ryan.

Nama National Collegiate Athletic Association (NCAA) memang beberapa kali muncul dalam penjelasannya. Bukan tanpa alasan. Menurut Ryan, model kompetisi olahraga kampus di Amerika Serikat menjadi salah satu contoh paling berhasil dalam membangun pembinaan atlet mahasiswa, basis pendukung, hingga industri olahraga yang sehat.

Menariknya, ada satu hal yang menurut Ryan menjadi fondasi utama kesuksesan tersebut: pertandingan kandang dan tandang atau home and away. Dalam pengalamannya hampir dua dekade berkecimpung di industri olahraga di Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia, Ryan melihat sistem home and away memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar menentukan lokasi pertandingan.

"Kalau untuk olahraga tim, menurut pengalaman dan riset saya, olahraga yang tidak punya home and away akan sangat sulit membangun industri. Fanbase tidak terbentuk, pembinaan kurang maksimal, dan aktivitas kuliah student-athlete juga akan terganggu karena harus bermain terus menerus dalam satu periode kompetisi yang panjang," jelasnya.

Ia menilai sistem turnamen terpusat yang berlangsung selama berhari-hari memang memiliki kelebihan dari sisi efisiensi. Namun untuk jangka panjang, pola tersebut tidak cukup untuk menciptakan kultur olahraga kampus yang hidup.

Karena itulah Campus League memilih menempatkan kampus sebagai pusat kompetisi. Sama seperti NCAA, pertandingan idealnya dimainkan di venue milik masing-masing perguruan tinggi sehingga mahasiswa, alumni, dan komunitas kampus dapat terlibat langsung membangun atmosfer pertandingan.

Meski begitu, Ryan mengakui bahwa target tersebut tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Musim 2026 masih menjadi tahap awal dalam perjalanan panjang tersebut. "Kami baru tahun pertama. Untuk mencapai apa yang ingin kami bangun seperti NCAA tentu membutuhkan waktu. Ini juga menjadi pekerjaan rumah bersama," katanya.

Polemik mengenai insiden cedera pemain dan karakteristik lapangan yang terjadi di UPH, menurut Ryan, justru menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga kampus. Ia berharap semakin banyak perguruan tinggi mulai memperhatikan kualitas fasilitas olahraga yang mereka miliki.

Ke depan, ketika sistem home and away sudah berjalan penuh, kampus-kampus yang bermain di divisi tertinggi kemungkinan akan diwajibkan memiliki venue yang memenuhi standar kelayakan kompetisi.

"Dari kejadian ini kami berharap kampus-kampus yang mungkin venue-nya belum layak bisa mulai berbenah dan lebih siap. Apalagi nanti kalau sistem home and away sudah berjalan, tentu venue standar akan menjadi kebutuhan," ujarnya.

Ryan juga menanggapi perdebatan mengenai karakteristik lapangan UPH yang menjadi tuan rumah Regional Jakarta. Menurutnya, banyak pihak memiliki ekspektasi bahwa lapangan basket kompetitif harus selalu menggunakan lantai kayu. Padahal kondisi di lapangan tidak selalu sesederhana itu.

UPH, kata Ryan, memiliki konsep venue semi-outdoor yang membutuhkan pertimbangan berbeda. Penggunaan lantai kayu pada fasilitas seperti itu akan menimbulkan tantangan perawatan yang jauh lebih besar.

"UPH memang agak unik karena didesain semi-outdoor. Kalau menggunakan lapangan kayu, biaya dan perawatannya akan sangat besar. Karena itu digunakan sistem permukaan yang berbeda, tetapi tetap memenuhi standar kelayakan yang dipersyaratkan," jelasnya.

Melalui penjelasan tersebut, Ryan kembali menegaskan bahwa lapangan UPH bukanlah lapangan beton seperti yang ramai disebutkan di media sosial. Menurutnya, klarifikasi itu penting agar publik memahami konteks yang sebenarnya dan tidak terjebak pada informasi yang kurang akurat.

Pada akhirnya, bagi Campus League, isu venue hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan panjang membangun olahraga kampus Indonesia. Fokus utama tetap sama: menciptakan kompetisi yang sehat, memperkuat pembinaan atlet mahasiswa, serta menghadirkan atmosfer kampus yang hidup melalui olahraga. Sebuah target besar yang mungkin belum sempurna hari ini, tetapi sedang dibangun langkah demi langkah menuju masa depan.

dhewanaAvatar border
jpnnberitaAvatar border
lawaslessAvatar border
lawasless dan 3 lainnya memberi reputasi
2
254
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan