Kaskus

Story

lakorteespen401Avatar border
TS
lakorteespen401
TWO FACE: Chapter 2 Selamat Datang di kampus baru
Aldo baru saja membalikkan badannya, siap melangkah pergi dengan payung hitam yang sudah kembali ke genggamannya. Namun, baru dua langkah, dia mendadak berhenti.

Keempat berandalan yang masih gemetaran di dekat tubuh Rey yang pingsan langsung menahan napas. Jantung mereka serasa berhenti berdetak melihat monster berkedok mahasiswa tampan itu berbalik lagi menatap mereka.

Wajah Aldo kembali berubah. Dinginnya mata hitam tadi lenyap, digantikan oleh senyuman ramah yang kelewat bersahabat. Bener-bener kayak gak ada beban.

"Oiya, hampir lupa..." Aldo berucap dengan nada suara yang halus, bahkan terdengar sangat sopan. "Boleh bagi rokoknya, bro? Kebetulan rokok gw ketinggalan di dalem mobil."

"E-eh? B-boleh, bang! Ini, ambil aja semuanya!"

Dengan gerakan panik, salah satu anak buah Rey yang memegang bungkus rokok langsung menyodorkannya ke arah Aldo dengan kedua tangan terbuka, persis seperti babu yang menyerahkan upeti ke rajanya.

Aldo tersenyum manis. "Makasih ya."

Dengan perlahan, Aldo mengambil satu batang rokok dari bungkus tersebut dan menjepitnya di antara bibir. KRETEK. Dia mengeluarkan korek api gas mahal dari saku celananya, menyalakan apinya yang kebiruan, dan membakar ujung rokok itu. Asap putih tebal mengepul dari mulutnya, berbaur dengan hawa dingin air hujan.

Tapi, setelah itu Aldo gak mengembalikan bungkus rokoknya.

Tangan Aldo yang memegang sisa bungkus rokok berisi penuh itu tiba-tiba bergerak ke bawah. Dia menjatuhkan bungkus rokok mahal tersebut tepat ke atas tanah yang becek.

Plak.

Sebelum anak buah Rey sempat bingung, sepatu sneakers mahal bermerek milik Aldo langsung menginjak bungkus rokok itu.

SREKKK! GRUUSSHH!

Aldo memutar tumit sepatunya dengan kuat, menekan bungkus rokok itu ke aspal sekuat tenaga. Rokok-rokok di dalamnya hancur lebur, tembakaunya keluar dan bercampur dengan air hujan yang kotor serta genangan darah segar yang mengalir dari kepala Rey. Hancur, rata dengan tanah, bener-bener gak berbentuk lagi.

Sementara kakinya menghancurkan rokok-rokok itu dengan brutal, wajah Aldo sama sekali gak menunjukkan kemarahan. Dia tetap tersenyum ramah, menatap keempat berandalan itu satu per satu dengan pandangan mata yang seolah berkata: 'Selanjutnya giliran kepala kalian yang gw injak.'

"Merokok itu gak baik buat kesehatan," kata Aldo lembut, disusul tawa kecil yang terdengar sangat renyah. "Gak usah beli lagi ya?"

Mendengar ucapan itu, keempat berandalan itu bener-bener gemetaran parah. Lutut mereka lemas. Nyali mereka yang tadinya selangit langsung amblas ke dasar bumi. Cowok di depan mereka ini bukan sekadar jago berantem, tapi emosinya bener-bener gak stabil alias psikopat tulen. Mereka cuma bisa mengangguk cepat dengan wajah pucat pasi seperti mayat.

"S-siap bang... ngg-gak lagi bang..."

"Pinter," sahut Aldo puas.

Dia mengisap rokoknya sekali lagi, berbalik, dan kali ini benar-benar berjalan meninggalkan area gerbang depan. Langkah kakinya santai, berirama di tengah derasnya badai Jakarta.

[Koridor Gedung Utama Kampus - 5 Menit Kemudian]

Begitu memasuki lobi gedung utama, atmosfer langsung berubah total. Dinginnya angin hujan di luar digantikan oleh sejuknya pendingin ruangan (AC) sentral dan aroma ruangan yang wangi. Suasana di dalam sangat ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang, mengobrol, atau sekadar berteduh.

Sebelum melangkah lebih jauh, Aldo mematikan puntung rokoknya di tempat sampah luar, lalu merapikan penampilannya. Dia mengibaskan sedikit air hujan yang menempel di jaket stylish-nya. Tangan kirinya bergerak merapikan rambut curtain hair-nya yang agak basah, membuat anting perak di telinganya kembali berkilau terkena lampu koridor.

Begitu Aldo berjalan melewati koridor utama menuju ruang administrasi, seluruh mata mendadak tertuju padanya.

Aura Aldo sebagai anak orang kaya raya bener-bener gak bisa disembunyikan. Ditambah lagi dengan wajahnya yang tampan dan pembawaannya yang tenang, dia langsung jadi pusat perhatian, terutama bagi para mahasiswi yang sedang berkerumun di koridor.

"Eh, siapa tuh? Mahasiswa baru?"
"Ganteng banget anjir... Vibes-nya kayak model-model Webtoon."
"Lihat antingnya deh, keren banget. Cowok fiksi di dunia nyata ini mah!"
"Tadi gw lihat dia turun dari G-Class hitam di depan... fiks, spek old money ini!"

Mendengar bisikan-bisikan kagum dan tatapan memuja dari sekelilingnya, Aldo sama sekali gak risih. Sebaliknya, dia justru menebar senyuman ramah kepada beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya, membuat mereka langsung salah tingkah dan menutupi wajah yang memerah.

Nggak akan ada satu orang pun di dalam gedung mewah ini yang bakal percaya kalau lima menit yang lalu, cowok ramah bertampang malaikat ini baru saja menggeser rahang ketua geng kampus dan menginjak-injak harga diri anak buahnya di bawah guyuran hujan.

Aldo meraba saku celananya, mengambil secarik kertas berisi jadwal kuliah dan nomor ruang kelas barunya hari ini.

Ruang 402 - Fakultas Teknik.

"Mari kita lihat..." gumam Aldo dengan suara rendah, matanya menatap tangga menuju lantai empat dengan binar licik yang tersembunyi. "Seberapa seru kehidupan kampus baru gw kali ini."

TWO FACE: Chapter 2 Selamat Datang di kampus baru

Diubah oleh lakorteespen401 02-06-2026 15:20
0
17
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan