- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Two Face: Chapter 1 Mahasiswa Pindahan
TS
lakorteespen401
Two Face: Chapter 1 Mahasiswa Pindahan
Suasana Jakarta kala itu sedang gila-gilanya. Hujan turun seakan mau menenggelamkan kota. Air mengguyur dengan derasnya, menghantam aspal dengan suara berisik yang cumiakkan telinga. Di atas langit, awan hitam yang tebal mengepung cakrawala, menciptakan atmosfer gelap dan mencekam, seolah-olah memberi tanda bahwa sesuatu yang buruk bakal terjadi hari ini.
Di depan gerbang salah satu kampus swasta ternama, sebuah monster besi hitam Mercedes G-Class keluaran terbaru berhenti dengan anggun.
Pintu kemudi terbuka.
Seorang cowok turun dengan santai sembari membuka payung hitamnya. Aldo Wijaya. Dia adalah mahasiswa pindahan dari Teknik Bandung. Penampilannya bener-bener stylish dan memancarkan aura orang kaya raya yang gak berseri. Rambut curtain hair-nya yang sedikit basah tampak kontras dengan kilauan anting perak di telinga kirinya. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru menginjakkan kaki di tempat asing.
Aldo berjalan pelan menuju gerbang kampus. Namun, langkahnya terhenti.
Tepat di bawah atap gardu depan gerbang, ada lima orang mahasiswa. Tampang mereka urakan, khas berandalan kampus yang ngerasa punya daerah kekuasaan. Rokok menyala di jemari mereka, asapnya bercampur dengan hawa dingin air hujan. Mereka lagi tertawa-tawa, sampai akhirnya pandangan mereka tertuju pada Aldo. More accurately, tertuju pada mobil mewah dan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan Aldo.
Melihat itu, sudut bibir Aldo terangkat sedikit. Sebuah senyuman tipis yang dingin.
“Kayanya bakal seru nih…” bisik Aldo dalam hati.
Salah satu dari mereka yang berdiri di paling depan si ketua geng bernama Rey langsung membuang puntung rokoknya ke genangan air. Matanya menatap Aldo dengan pandangan lapar, seolah melihat dompet berjalan.
“Woi!!” Rey berteriak lantang dari kejauhan, berusaha mengalahkan suara derasnya hujan.
Aldo menghentikan langkahnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah drastis dalam sekejap. Matanya berkedip polos, seolah dia hanyalah anak rumahan yang gampang diintimidasi.
“Eh iya, bang?” sahut Aldo dengan nada suara yang agak ragu, membuat ekspresinya bener-bener gak bisa ditebak.
“Sini lo cepet!” perintah Rey kasar, tangannya memberi isyarat menyuruh Aldo mendekat seolah-olah sedang memanggil seekor binatang.
Melihat reaksi Aldo yang kelihatan ciut, empat orang lainnya anjing-anjing penjilatnya Rey langsung meledak dalam tawa mengejek.
“Anjir, Rey! Kayanya bocah tajir nih… Kalo kita palak, pasti bisa makan enak kita seminggu! Hahahahaha!!”
Mereka tertawa terbahak-bahak, saling menyenggol bahu, meremehkan mangsa baru di depan mereka. Sementara itu, Aldo cuma terdiam di sana. Dia berdiri kaku di bawah guyuran hujan, menatap kelima orang itu dari kejauhan. Diamnya Aldo bukan karena takut, tapi karena dia sedang menghitung jarak.
“Woiii! Lo budek ya?!” Rey mulai naik pitam karena Aldo gak kunjung jalan dan cuma berdiri bodoh sambil memegang payung. “Gw bilang cepet sini!!!”
“Lo mau cepet, bang?”
Sret.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Aldo melempar payung hitamnya ke sembarang arah.
WUSH!
Dalam hitungan milidetik, Aldo melesat. Kecepatannya bener-bener gak masuk akal, membelah rintik hujan seperti kilat. Belum sempat Rey mencerna apa yang terjadi, Aldo sudah berada tepat di hadapannya.
Pada momen itu, wajah polos Aldo lenyap total. Kedua matanya melebar, pupilnya berubah menjadi hitam pekat dan dingin tanpa emosi, sementara mulutnya menyeringai lebar sebuah senyuman psikopat yang mengerikan.
BUGHHHBBB!!!!!
Sebuah tendangan axe kick (tendangan kapak) yang luar biasa cepat dan bertenaga dilayangkan telak dari atas. Saking kerasnya hantaman itu, angin di sekitar mereka seolah terhempas. Kaki Aldo menghantam puncak kepala Rey dengan brutal.
BRAKK!
Kepala Rey menghantam aspal dengan keras. Darah segar langsung muncrat, bercampur dengan air hujan yang mengalir. Tubuh Rey langsung tersungkur, kejang sebentar, lalu langsung pingsan tak sadarkan diri di tempat. Rahangnya bergeser, dan aspal di bawah kepalanya sampai sedikit retak.
Seketika, tawa keempat anjing Rey terhenti. Detik itu juga, suasana di sekitar gerbang mendadak sunyi senyap, menyisakan suara gemuruh hujan. Keempat berandalan itu berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Jantung mereka rasanya mau copot. Mereka bener-bener syok melihat ketua mereka yang bertubuh besar tumbang hanya dalam satu serangan brutal dari bocah yang mereka kira “mangsa empuk”.
Mereka semua terdiam, gemetaran, dan membiarkan Aldo melangkah maju melewati tubuh Rey yang terkapar begitu saja.
Aldo berhenti, lalu menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Tatapan matanya masih hitam, menusuk langsung ke mental mereka.
“Eh, anjing?” ucap Aldo dengan nada santai, tapi terdengar sangat dingin di telinga mereka.
Salah satu anak buah Rey yang paling dekat langsung gemetaran parah, lututnya lemas, hampir mau kencing di celana.
“Eh… i-iya, bang?” jawab si berandalan itu dengan suara bergetar hebat.
“Ambilin payung gw…. cepet!!”
“S-siap bang! Siap!”
Tanpa nunggu dua kali, berandalan itu langsung berlari terbirit-birit menembus hujan, memungut payung milik Aldo yang tergeletak di tanah, dan berlari kembali dengan tubuh membungkuk ketakutan. Dia menyerahkan payung itu dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
Aldo mengulurkan tangannya. Dia mengambil payung itu dengan sangat lembut, seolah gak terjadi apa-apa sebelumnya. Begitu payung itu kembali di tangannya, wajah brutal Aldo lenyap. Matanya kembali normal, dan dia tersenyum ramah senyuman hangat yang biasa dilihat di brosur-brosur kampus.
“Sorry ya, gw cuman bercanda,” kata Aldo lembut, nadanya terdengar tulus tapi justru bikin bulu kuduk mereka merinding disko.
Aldo pun berbalik, berjalan santai meninggalkan mereka semua di gerbang depan. Di bawah payung hitamnya, Aldo berjalan menuju gedung kuliah dengan ekspresi wajah yang sangat puas. Permainan di kampus baru ini… ternyata bakal lebih menyenangkan dari yang dia kira.
Yo, Gengs! Makasih banyak buat lu semua yang udah menyempatkan waktu buat mampir dan membaca Bab 1 dari kisah TWO FACE ini.Gimana menurut lu pada sama perkenalan awal si Aldo Wijaya? Kira-kira dia bakal survive gak dengan rahasia kepribadiannya di kerasnya jalanan Jakarta?Tolong bantu coret-coret di kolom komentar ya gan! Kritik, saran, atau sekadar ninggalin jejak "Izin bangun tenda" bakal sangat berarti banget buat mendongkrak semangat gua biar bisa konsisten update terus setiap hari. Bab 2 langsung gua drop di bawah setelah postingan ini ya! Stay tuned! 😎🔥

Di depan gerbang salah satu kampus swasta ternama, sebuah monster besi hitam Mercedes G-Class keluaran terbaru berhenti dengan anggun.
Pintu kemudi terbuka.
Seorang cowok turun dengan santai sembari membuka payung hitamnya. Aldo Wijaya. Dia adalah mahasiswa pindahan dari Teknik Bandung. Penampilannya bener-bener stylish dan memancarkan aura orang kaya raya yang gak berseri. Rambut curtain hair-nya yang sedikit basah tampak kontras dengan kilauan anting perak di telinga kirinya. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru menginjakkan kaki di tempat asing.
Aldo berjalan pelan menuju gerbang kampus. Namun, langkahnya terhenti.
Tepat di bawah atap gardu depan gerbang, ada lima orang mahasiswa. Tampang mereka urakan, khas berandalan kampus yang ngerasa punya daerah kekuasaan. Rokok menyala di jemari mereka, asapnya bercampur dengan hawa dingin air hujan. Mereka lagi tertawa-tawa, sampai akhirnya pandangan mereka tertuju pada Aldo. More accurately, tertuju pada mobil mewah dan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan Aldo.
Melihat itu, sudut bibir Aldo terangkat sedikit. Sebuah senyuman tipis yang dingin.
“Kayanya bakal seru nih…” bisik Aldo dalam hati.
Salah satu dari mereka yang berdiri di paling depan si ketua geng bernama Rey langsung membuang puntung rokoknya ke genangan air. Matanya menatap Aldo dengan pandangan lapar, seolah melihat dompet berjalan.
“Woi!!” Rey berteriak lantang dari kejauhan, berusaha mengalahkan suara derasnya hujan.
Aldo menghentikan langkahnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah drastis dalam sekejap. Matanya berkedip polos, seolah dia hanyalah anak rumahan yang gampang diintimidasi.
“Eh iya, bang?” sahut Aldo dengan nada suara yang agak ragu, membuat ekspresinya bener-bener gak bisa ditebak.
“Sini lo cepet!” perintah Rey kasar, tangannya memberi isyarat menyuruh Aldo mendekat seolah-olah sedang memanggil seekor binatang.
Melihat reaksi Aldo yang kelihatan ciut, empat orang lainnya anjing-anjing penjilatnya Rey langsung meledak dalam tawa mengejek.
“Anjir, Rey! Kayanya bocah tajir nih… Kalo kita palak, pasti bisa makan enak kita seminggu! Hahahahaha!!”
Mereka tertawa terbahak-bahak, saling menyenggol bahu, meremehkan mangsa baru di depan mereka. Sementara itu, Aldo cuma terdiam di sana. Dia berdiri kaku di bawah guyuran hujan, menatap kelima orang itu dari kejauhan. Diamnya Aldo bukan karena takut, tapi karena dia sedang menghitung jarak.
“Woiii! Lo budek ya?!” Rey mulai naik pitam karena Aldo gak kunjung jalan dan cuma berdiri bodoh sambil memegang payung. “Gw bilang cepet sini!!!”
“Lo mau cepet, bang?”
Sret.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Aldo melempar payung hitamnya ke sembarang arah.
WUSH!
Dalam hitungan milidetik, Aldo melesat. Kecepatannya bener-bener gak masuk akal, membelah rintik hujan seperti kilat. Belum sempat Rey mencerna apa yang terjadi, Aldo sudah berada tepat di hadapannya.
Pada momen itu, wajah polos Aldo lenyap total. Kedua matanya melebar, pupilnya berubah menjadi hitam pekat dan dingin tanpa emosi, sementara mulutnya menyeringai lebar sebuah senyuman psikopat yang mengerikan.
BUGHHHBBB!!!!!
Sebuah tendangan axe kick (tendangan kapak) yang luar biasa cepat dan bertenaga dilayangkan telak dari atas. Saking kerasnya hantaman itu, angin di sekitar mereka seolah terhempas. Kaki Aldo menghantam puncak kepala Rey dengan brutal.
BRAKK!
Kepala Rey menghantam aspal dengan keras. Darah segar langsung muncrat, bercampur dengan air hujan yang mengalir. Tubuh Rey langsung tersungkur, kejang sebentar, lalu langsung pingsan tak sadarkan diri di tempat. Rahangnya bergeser, dan aspal di bawah kepalanya sampai sedikit retak.
Seketika, tawa keempat anjing Rey terhenti. Detik itu juga, suasana di sekitar gerbang mendadak sunyi senyap, menyisakan suara gemuruh hujan. Keempat berandalan itu berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Jantung mereka rasanya mau copot. Mereka bener-bener syok melihat ketua mereka yang bertubuh besar tumbang hanya dalam satu serangan brutal dari bocah yang mereka kira “mangsa empuk”.
Mereka semua terdiam, gemetaran, dan membiarkan Aldo melangkah maju melewati tubuh Rey yang terkapar begitu saja.
Aldo berhenti, lalu menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Tatapan matanya masih hitam, menusuk langsung ke mental mereka.
“Eh, anjing?” ucap Aldo dengan nada santai, tapi terdengar sangat dingin di telinga mereka.
Salah satu anak buah Rey yang paling dekat langsung gemetaran parah, lututnya lemas, hampir mau kencing di celana.
“Eh… i-iya, bang?” jawab si berandalan itu dengan suara bergetar hebat.
“Ambilin payung gw…. cepet!!”
“S-siap bang! Siap!”
Tanpa nunggu dua kali, berandalan itu langsung berlari terbirit-birit menembus hujan, memungut payung milik Aldo yang tergeletak di tanah, dan berlari kembali dengan tubuh membungkuk ketakutan. Dia menyerahkan payung itu dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
Aldo mengulurkan tangannya. Dia mengambil payung itu dengan sangat lembut, seolah gak terjadi apa-apa sebelumnya. Begitu payung itu kembali di tangannya, wajah brutal Aldo lenyap. Matanya kembali normal, dan dia tersenyum ramah senyuman hangat yang biasa dilihat di brosur-brosur kampus.
“Sorry ya, gw cuman bercanda,” kata Aldo lembut, nadanya terdengar tulus tapi justru bikin bulu kuduk mereka merinding disko.
Aldo pun berbalik, berjalan santai meninggalkan mereka semua di gerbang depan. Di bawah payung hitamnya, Aldo berjalan menuju gedung kuliah dengan ekspresi wajah yang sangat puas. Permainan di kampus baru ini… ternyata bakal lebih menyenangkan dari yang dia kira.
Yo, Gengs! Makasih banyak buat lu semua yang udah menyempatkan waktu buat mampir dan membaca Bab 1 dari kisah TWO FACE ini.Gimana menurut lu pada sama perkenalan awal si Aldo Wijaya? Kira-kira dia bakal survive gak dengan rahasia kepribadiannya di kerasnya jalanan Jakarta?Tolong bantu coret-coret di kolom komentar ya gan! Kritik, saran, atau sekadar ninggalin jejak "Izin bangun tenda" bakal sangat berarti banget buat mendongkrak semangat gua biar bisa konsisten update terus setiap hari. Bab 2 langsung gua drop di bawah setelah postingan ini ya! Stay tuned! 😎🔥

0
18
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan