Kaskus

News

jaguarxj220Avatar border
TS
jaguarxj220
Kurva Yield SUN Terbalik, Kepercayaan akan Ekonomi Makin Tererosi
Bloomberg Technoz, Jakarta - Tekanan di pasar surat utang domestik masih belum terjeda di tengah gerak rupiah yang masih tak mampu bangkit dari kisaran di dekat Rp17.900/US$.

Pergerakan yield alias tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) memperlihatkan anomali lebih lanjut. Tak cuma level yield obligasi negara tenor panjang dan pendek bergerak flat alias mendatar, pada perdagangan pertama hari ini, Selasa (2/6/2026), usai libur panjang Idul Adha, terlihat ada kurva inversi alias inverted curve.

Seperti dipantau dari data realtime Bloomberg jelang tengah hari ini, inverted curve terlihat dari pergerakan SUN tenor pendek 1 tahun yang kini sudah berada di level 7,0995%. Pada saat yang sama, SUN tenor 10 tahun masih di kisaran 6,6991%. Tingkat imbal hasil SUN 1Y itu menjadi yang tertinggi, mengalahkan imbal hasil tenor yang jauh lebih panjang. Bahkan untuk tenor 40Y saat ini masih di kisaran 6,926%.

Dalam pasar surat utang yang bergerak normal, yield obligasi tenor panjang seharusnya lebih tinggi ketimbang tenor pendek karena mencerminkan kompensasi risiko yang lebih lama bagi para pemegang surat utang tenor panjang. Bila terjadi sebaliknya, di mana yield tenor pendek malah lebih tinggi ketimbang tenor panjang, maka itu memberikan sinyal yang lebih mengkhawatirkan.

Kenaikan yield obligasi tenor pendek mencerminkan gerak investor yang berbondong melepas surat utang tenor pendek dan memilih tenor panjang karena mengkhawatirkan kondisi ekonomi. Pada beberapa hal, inverted curve bahkan dianggap sebagai sinyal kuat akan datangnya resesi ekonomi. Para investor memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi ke depan akan cenderung melambat.

Menurut Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, tingkat imbal hasil tenor pendek yang sudah melampaui tenor panjang tersebut adalah yang disebut inverted alias kurva imbal hasil terbalik. “Kurva [imbal hasil] rusak karena Kementerian Keuangan mau jaga cost of fund [biaya dana]. Seharusnya [yield] sudah dibiarkan naik,” kata Fakhrul.

Menurut Fakhrul, dengan pergerakan kurva imbal hasil SUN yang kini malah membentuk inversi, sinyal yang dibaca pasar menjadi semakin negatif. Nilai tukar rupiah akan bisa lebih lemah lagi. “Bank Indonesia dan Kemenkeu tidak menguatkan rupiah, justru memperlemah karena masih mempertimbangkan cost of fund. Seharusnya dibuat harga aset [rupiah] lebih menarik. Atau, memang kalau begini, ujungnya pasar akan beranggapan rupiah sengaja dilemahkan lebih jauh oleh otoritas demi menjaga cost of fund,” jelas Fakhrul.

Otoritas diduga membiarkan situasi seperti ini supaya biaya bunga utang pemerintah bisa ditekan. Meski rupiah yang lemah juga mungkin bisa positif bagi ekspor. Akan tetapi, “Berisiko pada pelemahan confidence ekonomi secara keseluruhan yang menurut saya tidak sepadan karena ujungnya untuk menjalankan perekonomian harus ada dukungan dari swasta,” katanya.

Pada perdagangan dari pagi hingga jelang tengah hari ini, nilai tukar rupiah bergerak rata-rata di kisaran Rp17.882/USS$ dengan level terlemah di posisi Rp17.894/US$. Sementara indeks saham terlihat menguat sejak awal perdagangan dengan kini bergerak di kisaran 6.177, menguat 0,78%. Hari ini, para pelaku pasar menunggu rilis data inflasi dan kinerja neraca dagang yang akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik.

https://www.bloombergtechnoz.com/det...akin-tererosi/

Kalau belajar Finance, inverted curve hampir dipastikan jadi penanda resesi sudah di depan pintu atau mungkin sudah duduk di ruang tamu..

beacuka1Avatar border
saya.palsuAvatar border
saya.palsu dan beacuka1 memberi reputasi
2
433
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan