- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
OECD Soroti Subsidi Industri China, Persaingan Global Makin Tidak Seimbang?
1/1
TS
taritali
OECD Soroti Subsidi Industri China, Persaingan Global Makin Tidak Seimbang?
OECD menyoroti besarnya subsidi industri yang diberikan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan besar dunia, dengan China menjadi negara yang paling menonjol.
Menurut data terbaru OECD, bantuan pemerintah untuk sektor manufaktur global pada 2023 dan 2024 mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan global.
China disebut memberikan dukungan negara yang jauh lebih besar dibanding banyak negara lain.
Perusahaan-perusahaan di China menerima subsidi sekitar 3 hingga 8 kali lebih besar dibanding perusahaan di negara-negara anggota OECD.
Subsidi ini diberikan dalam berbagai bentuk, seperti hibah, keringanan pajak, hingga pinjaman berbunga rendah.
Pada 2024, total subsidi untuk sektor-sektor yang masuk dalam basis data OECD mencapai sekitar US$108 miliar.
Sektor yang paling banyak menerima dukungan antara lain: Semikonduktor, Energi terbarukan dan Industri berat.
Dalam industri semikonduktor, subsidi untuk perusahaan China bahkan disebut mencapai hampir 10% dari pendapatan perusahaan pada 2021 dan 2022, jauh di atas rata-rata global yang hanya sedikit di atas 2%.
Isu ini menjadi perhatian karena subsidi besar dapat menciptakan persaingan yang tidak seimbang di pasar global.
AS dan Uni Eropa selama ini sudah sering mengkritik China karena dinilai memberi dukungan besar kepada industrinya, terutama di sektor otomotif, kendaraan listrik, semikonduktor, dan teknologi hijau.
OECD menyebut subsidi bukan hanya soal anggaran negara, tetapi juga mulai membentuk ulang pasar global.
Dengan dukungan negara yang besar, perusahaan China bisa bergerak lebih agresif dan menekan pesaing dari negara lain.
Sumber: Bloomberg
Menurut data terbaru OECD, bantuan pemerintah untuk sektor manufaktur global pada 2023 dan 2024 mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan global.
China disebut memberikan dukungan negara yang jauh lebih besar dibanding banyak negara lain.
Perusahaan-perusahaan di China menerima subsidi sekitar 3 hingga 8 kali lebih besar dibanding perusahaan di negara-negara anggota OECD.
Subsidi ini diberikan dalam berbagai bentuk, seperti hibah, keringanan pajak, hingga pinjaman berbunga rendah.
Pada 2024, total subsidi untuk sektor-sektor yang masuk dalam basis data OECD mencapai sekitar US$108 miliar.
Sektor yang paling banyak menerima dukungan antara lain: Semikonduktor, Energi terbarukan dan Industri berat.
Dalam industri semikonduktor, subsidi untuk perusahaan China bahkan disebut mencapai hampir 10% dari pendapatan perusahaan pada 2021 dan 2022, jauh di atas rata-rata global yang hanya sedikit di atas 2%.
Isu ini menjadi perhatian karena subsidi besar dapat menciptakan persaingan yang tidak seimbang di pasar global.
AS dan Uni Eropa selama ini sudah sering mengkritik China karena dinilai memberi dukungan besar kepada industrinya, terutama di sektor otomotif, kendaraan listrik, semikonduktor, dan teknologi hijau.
OECD menyebut subsidi bukan hanya soal anggaran negara, tetapi juga mulai membentuk ulang pasar global.
Dengan dukungan negara yang besar, perusahaan China bisa bergerak lebih agresif dan menekan pesaing dari negara lain.
Sumber: Bloomberg
0
49
1
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan
