Berkah Pariwisata di Tengah Lesunya Rupiah
Penulis : Leonard AL Cahyoputra
31 Mei 2026 | 15:19 WIB
BAGIKAN
Wisatawan mancanegara berjalan di dermaga apung setibanya di Pelabuhan Sanur, Denpasar, Bali, Senin (2/2/2026). (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
JAKARTA,Investor.id -Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menilai kondisi rupiah yang melemah terhadap dolar AS justru menjadi daya tarik wisatawan datang ke Indonesia. “Iya kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” kata dia seperti dikutip dari Antara, Minggu (31/5/2026).
Wamenpar menjelaskan, dengan kurs rupiah saat ini maka wisatawan akan memilih Indonesia untuk dikunjungi, bahkan untuk berwisata dalam waktu lebih lama. Untuk memanfaatkan peluang ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sedang menggencarkan promosi agar semakin banyak wisatawan datang.
Mereka melakukan misi penjualan dan mengikuti berbagai pameran dengan harapan semakin meningkatkan jumlah kunjungan ke Indonesia. “Jadi saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama begitu dari biasanya, luar biasa,” ujar Ni Luh Puspa.
Dia mengatakan pelemahan rupiah ini berkaitan dengan dinamika geopolitik dan konflik di Timur Tengah. Namun selama Januari hingga Maret 2026, Kemenpa melihat situasi kepariwisataan masih terjaga dengan jumlah kunjungan yang meningkat dibanding kuartal 2025. Harapannya, pada kuartal kedua 2026 nanti, Bank Indonesia dapat mencatatkan hasil positif pula dari sisi kunjungan dan devisa pariwisata.
Untuk menambah kunjungan wisman di tengah situasi global ini, Wamenpar mengajak pelaku usaha pariwisata mulai mengubah pasar, dari yang sebelumnya mentargetkan negara jarak jauh, kini memperkuat kunjungan dari negara-negara tetangga. “Perkuat bagaimana agar short-haul dan medium-haul ini bisa mengalami peningkatan, tentu ini menjadi substitusi dari pasar Eropa maupun pasar Amerika dan Timur Tengah yang mengalami penurunan akibat situasi geopolitik,” ujar Ni Luh Puspa.
Kemenpar melihat dari angka kuartal pertama, memang terlihat bahwa wisatawan dari yang medium-haul dan short-haul ini mengalami peningkatan, tapi beberapa Timur Tengah ini mengalami penurunan. Untuk itu Wamenpar mengajak pelaku pariwisata tidak pesimistis melainkan terus berkolaborasi dan optimistis meraih pencapaian dari peluang-peluang di setiap situasi.
Mulai Berbuah
Seketaris Jenderal Asosiasi Agen Perjalanan dan Perjalanan Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah mengatakan, pelemahan rupiah memang memberikan peluang bagi sektor pariwisata nasional, namun efek positif tersebut belum terasa optimal di lapangan. “Pelemahan rupiah tidak serta merta menaikkan tingkat kunjungan wisman ke Indonesia. Memang ada peningkatan, tapi belum signifikan,” ujar dia.
Indonesia sebenarnya memiliki daya saing harga yang lebih baik dibanding sejumlah negara tujuan wisata lain di kawasan Asia. "Dengan kurs dolar yang lebih kuat, wisatawan asing bisa memperoleh biaya akomodasi, makanan, dan layanan wisata yang lebih murah saat berlibur di Indonesia," kata Budijanto.
Dia juga mengatakan, saat ini wisatawan asing tetap mempertimbangkan banyak faktor sebelum memutuskan berlibur ke Indonesia. Selain harga, aspek konektivitas penerbangan, promosi destinasi, keamanan, hingga kualitas layanan pariwisata masih menjadi faktor penentu utama.
Budijanto menyebut sejumlah negara masih menjadi pasar utama wisatawan asing ke Indonesia. Wisatawan dari Malaysia, Australia, Singapura, China, dan India dinilai memiliki potensi besar untuk terus digarap, di luar pasar tradisional Eropa yang juga tetap tumbuh. “Wisman terbesar saat ini masih dari Malaysia, Australia, Singapura, Tiongkok, dan India, di luar negara-negara Eropa lainnya,” kata dia.
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga memunculkan tekanan bagi pelaku industri pariwisata domestik. Sebab, banyak kebutuhan industri yang masih bergantung pada produk impor, mulai dari perlengkapan hotel, bahan baku makanan dan minuman tertentu, hingga komponen transportasi.
Kondisi tersebut membuat biaya operasional pelaku usaha ikut meningkat. Akibatnya, sebagian keuntungan dari peningkatan daya tarik harga bagi wisatawan asing menjadi tergerus oleh kenaikan biaya usaha. “Industri dalam negeri yang masih banyak tergantung dengan impor menjadi salah satu kendala bagi perkembangan industri, termasuk pariwisata,” ujar Budijanto.