- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Kisah Reva Kesulitan Cari Kerja, Lulusan S1 Rela Digaji Rp 50.000 Per Hari
TS
lowbrow
Kisah Reva Kesulitan Cari Kerja, Lulusan S1 Rela Digaji Rp 50.000 Per Hari

PANGANDARAN, KOMPAS.com — Di sebuah kamar kos sederhana di Jakarta, Reva (26) masih mengingat betul masa ketika ia harus berangkat pagi dan pulang malam demi upah Rp 50 ribu sehari.
Uang itu pernah menjadi pegangan hidupnya setelah lulus kuliah, di tengah sulitnya mencari pekerjaan tetap di Pangandaran.
Lulusan Sarjana Manajemen Universitas Galuh tahun 2022 itu tak pernah membayangkan perjalanan mencari kerja akan sepanjang itu.
Setelah wisuda, ia mulai mengirim lamaran ke berbagai perusahaan sambil berharap ada satu saja pintu yang terbuka.
Namun, hari demi hari berlalu tanpa kepastian.
“Yang penting waktu itu bisa kerja dulu, punya penghasilan,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).
Pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain
Di tahun pertama setelah lulus, Reva mencoba banyak hal agar tetap bertahan.
Ia sempat bekerja paruh waktu selama dua bulan. Setelah itu, ia menjadi petugas sensus data kependudukan selama sekitar satu bulan.
Meski penghasilannya cukup baik, pekerjaan itu hanya sementara.
Ketika pekerjaan sensus selesai, Reva kembali dihadapkan pada kenyataan yang sama: mencari pekerjaan baru.
Ia lalu mencoba berjualan parfum kecil-kecilan. Pendapatannya tak menentu, tetapi ia tetap menjalaninya sambil terus mengirim lamaran kerja.
Saat usaha itu belum memberi hasil yang stabil, Reva kembali bekerja. Kali ini sebagai pramusaji di sebuah kedai makanan UMKM di Padaherang.
Dari pekerjaan itulah ia menerima upah Rp 50.000 per hari.
Jumlah yang mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang, tetapi saat itu cukup untuk membuatnya tetap bertahan.
Selama sekitar empat bulan, Reva menjalani rutinitas itu sebelum kembali berpindah pekerjaan menjadi pegawai kedai kopi.
Di sana ia mengerjakan hampir semuanya sendiri, mulai dari menjaga kasir, menyiapkan makanan, hingga menyajikan minuman kepada pelanggan.
Enam bulan bekerja di kedai kopi, Reva masih menyimpan harapan yang sama: mendapatkan pekerjaan yang lebih pasti.
Merantau demi kesempatan lebih baik
Kesempatan itu akhirnya datang dari Jakarta. Saat mendapat panggilan wawancara kerja pada 2023, Reva memutuskan merantau meski belum pernah hidup sendiri di kota besar.
Awal datang ke Jakarta bukan perkara mudah. Ia sempat menumpang di kamar kos temannya sambil mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.
Kini Reva bekerja di bidang complain handling, pekerjaan yang menurutnya memberi kepastian penghasilan lebih baik dibanding pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.
Namun, pengalaman mencari kerja di Pangandaran masih membekas kuat dalam ingatannya.
Menurut dia, pilihan pekerjaan bagi anak muda lulusan perguruan tinggi di Pangandaran masih sangat terbatas.
“Kesempatannya kecil, pilihan profesinya juga tidak banyak,” katanya.
Datang ke job fair, pulang tanpa kabar
Sebelum akhirnya bekerja di Jakarta, Reva mengaku berkali-kali mendatangi job fair di Pangandaran, Banjar, hingga Ciamis.
Ia datang membawa map berisi CV, SKCK, dan pas foto seperti pencari kerja lainnya.
Namun, dari berbagai job fair yang diikutinya, panggilan kerja tak kunjung datang.
Cerita Reva menjadi gambaran kecil tentang kondisi ketenagakerjaan di Pangandaran.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pangandaran tahun 2025, jumlah penduduk yang tidak atau belum bekerja mencapai 154.028 jiwa atau sekitar 34,16 persen dari total penduduk sebanyak 450.930 jiwa.
Di tengah kondisi itu, Reva memilih terus berjalan meski harus memulai dari pekerjaan dengan upah Rp 50.000 sehari.
Baginya, setiap pekerjaan tetap menjadi cara untuk bertahan sambil menunggu kesempatan yang lebih baik datang.
https://bandung.kompas.com/read/2026...page=all#page2
Diubah oleh lowbrow 31-05-2026 19:36
keramikkamar dan saya.palsu memberi reputasi
2
337
21
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan