Sumber Gambar:Artificial Intelligence (ilustrasi wanita tomboy)
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya!
Manusia tidak dilahirkan langsung sempurna. Setiap orang pasti punya kelemahan, kebiasaan buruk, atau sifat yang perlu diperbaiki. Ada yang mudah marah, ada yang terlalu malas bergerak, ada yang terlalu emosional, dan ada pula yang sulit mengendalikan kebiasaan impulsif.
Namun, kabar baiknya, kepribadian manusia bukanlah sesuatu yang sepenuhnya permanen. Otak manusia memiliki kemampuan beradaptasi dan berubah melalui proses belajar, pengalaman, dan latihan kebiasaan baru. Dalam psikologi, kemampuan otak untuk berubah ini disebut
neuroplasticity. Artinya, sikap buruk bukan akhir dari segalanya. Manusia masih bisa berkembang menjadi lebih baik.
Berhubungan dengan seri-seri sebelumnya dalam Superwoman Series, wanita kuat bukanlah wanita yang tidak punya kekurangan. Wanita kuat adalah wanita yang berani mengenali kelemahannya dan perlahan memperbaiki dirinya.
Superwoman Series yang ke-86 kali ini akan membahas 6 sikap yang sering dianggap buruk, tetapi sebenarnya masih bisa diarahkan menjadi sesuatu yang lebih positif dan bermanfaat. Sebab, pada akhirnya, energi manusia tidak selalu harus dihilangkan. Terkadang, energi tersebut hanya perlu diarahkan ke jalan yang lebih sehat.
Quote:
1. Kurang Gerak: Dari Tubuh Pasif Menjadi Tubuh Aktif dan Efisien
Di era modern, banyak orang menjalani gaya hidup malas gerak atau terlalu banyak duduk. Bekerja duduk. Belajar duduk. Bermain ponsel duduk. Istirahat pun sambil rebahan terlalu lama.
Akibatnya, tubuh menjadi kurang aktif. Tubuh mudah lelah. Otot melemah. Sirkulasi darah tidak baik.
Selain itu, orang yang terlalu jarang bergerak sering menjadi lebih panik terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Sedikit pegal langsung takut sakit berat. Sedikit nyeri tenggorokan langsung cemas berlebihan. Padahal, tubuh manusia memang dirancang untuk bergerak.
Berhubungan dengan seri-seri sebelumnya tentang olahraga dan kesehatan alami, aktivitas fisik rutin terbukti membantu kesehatan fisik maupun mental. Namun, banyak orang merasa olahraga itu melelahkan dan memakan waktu panjang. Padahal, tidak semua olahraga harus lama.
Salah satu solusi yang lebih realistis adalah mencari olahraga singkat tetapi intens, misalnya push up, sit up, squat, jalan cepat, jumping jack, hingga latihan interval singkat.
Olahraga intens dengan durasi pendek tetap dapat membantu meningkatkan kebugaran dan efisiensi waktu.
Selain itu, olahraga juga membantu meningkatkan energi, kualitas tidur, dan kesehatan mental. Tubuh yang aktif biasanya juga membuat pikiran lebih stabil.
Oleh karena itu, daripada terus panik terhadap penyakit sambil duduk seharian, lebih baik mulai melatih tubuh secara bertahap.
Wanita kuat bukan wanita yang hanya takut sakit. Wanita kuat juga berani melatih tubuhnya sendiri supaya lebih tangguh.
Quote:
2. Mudah Stres: Dari Suka Mengeluh Menjadi Suka Mencari Solusi
Stres adalah bagian normal dari kehidupan. Namun, masalah muncul ketika seseorang terlalu larut dalam stres tanpa mencoba memahami akar masalahnya.
Orang yang mudah stres biasanya mudah marah, mudah mengeluh, mudah menyalahkan keadaan, dan sulit berpikir jernih. Padahal, emosi negatif yang dipendam terus-menerus dapat memperburuk kondisi mental maupun fisik.
Berhubungan dengan seri-seri sebelumnya tentang jurnaling dan pengendalian emosi, salah satu cara sehat menghadapi stres adalah dengan menulis. Tuliskan apa yang membuat marah. Tuliskan apa yang membuat kecewa. Tuliskan apa yang membuat takut. Setelah itu, coba pikirkan apa solusi yang masih bisa dilakukan.
Dalam psikologi kognitif, kemampuan
reframing atau melihat masalah secara lebih rasional membantu manusia mengurangi stres berlebihan. Menulis juga membantu otak lebih terstruktur dalam memproses emosi. Terkadang, masalah terasa sangat besar di kepala, tetapi setelah ditulis ternyata lebih jelas dan lebih bisa dipecahkan.
Wanita kuat bukan wanita yang tidak pernah stres. Wanita kuat adalah wanita yang tidak berhenti di fase mengeluh dan mencoba mencari solusi sedikit demi sedikit.
Quote:
3. Kecanduan Belanja: Dari Impulsif Menjadi Lebih Berhikmat
Berhubungan dengan seri-seri sebelumnya tentang
shopaholic dan
emotional spending, kecanduan belanja sering kali bukan soal barang. Masalah sebenarnya sering berasal dari emosi yang tidak terselesaikan. Ada yang belanja karena bosan, karena kesepian, karena stres, karena takut sakit, bahkan karena ingin lari dari kenyataan.
Akibatnya, perilaku konsumtif menjadi pelarian utama. Padahal, pelarian seperti itu hanya memberi rasa lega sementara.
Oleh karena itu, energi impulsif perlu dialihkan ke aktivitas yang lebih sehat, misalnya berolahraga, menulis catatan materi dari internet di buku tulis, mengajari anak tetangga belajar, membantu orang lain, dan belajar skill baru.
Dalam psikologi perilaku, kebiasaan buruk lebih mudah diubah jika diganti dengan kebiasaan alternatif yang lebih sehat. Artinya, manusia tidak cukup hanya “berhenti”. Manusia juga perlu punya pengganti perilaku.
Berhubungan dengan filosofi wanita tangguh dalam Superwoman Series, wanita kuat tidak terus-menerus lari dari masalah menggunakan konsumsi impulsif. Wanita kuat belajar menghadapi hidup dengan hikmat, disiplin, dan aktivitas yang membangun dirinya.
Quote:
4. Emosional: Dari Mudah Menyerah Menjadi Lebih Tenang dan Empatik
Banyak orang menganggap sifat emosional sebagai kelemahan mutlak. Padahal, emosi sendiri sebenarnya normal. Yang menjadi masalah adalah ketika emosi mengendalikan seluruh perilaku manusia.
Orang yang terlalu emosional biasanya mudah kecewa, mudah sedih, mudah menyerah, dan sulit berpikir tenang.
Namun, menariknya, empati sejati justru sering muncul dari kemampuan mengendalikan emosi. Mengapa? Sebab, orang yang terlalu larut dalam emosinya sendiri biasanya sulit memperhatikan perasaan orang lain.
Berhubungan dengan seri sebelumnya tentang
people pleasing dan ketahanan mental, manusia yang lebih tenang biasanya mampu menjadi sumber ketenangan bagi lingkungan sekitarnya.
Misalnya saat menghadapi masalah. Kalau seseorang terus panik dan menangis tanpa kontrol, orang lain di sekitarnya juga ikut stres. Sebaliknya, sikap tenang membantu orang lain merasa lebih aman. Itulah salah satu bentuk empati.
Bukan berarti manusia tidak boleh sedih, melainkan manusia perlu belajar mengelola emosinya supaya tidak menghancurkan dirinya sendiri maupun orang lain.
Dalam psikologi, kemampuan ini disebut
emotional regulation dan kemampuan tersebut bisa dilatih.
Quote:
5. Terlalu Baik: Dari Mudah Dieksploitasi Menjadi Punya Batasan Sehat
Menjadi baik itu bagus. Namun, terlalu baik tanpa batasan sering membuat seseorang dimanfaatkan. Ada orang yang selalu dimintai tolong, selalu mengalah, dan selalu merasa tidak enak untuk menolak. Akhirnya, dirinya sendiri kelelahan.
Berhubungan dengan seri sebelumnya tentang
people pleasing, manusia perlu memahami bahwa empati tidak sama dengan membiarkan diri dipermainkan.
Oleh karena itu, perempuan juga perlu belajar memiliki batasan sehat. Berani berkata “tidak”. Berani menjaga energi dan waktunya sendiri.
Daripada terus menghabiskan energi untuk teman manipulatif, lebih baik energi tersebut dipakai membantu orang yang benar-benar membutuhkan, misalnya mengajari anak panti asuhan menari, membantu lansia menggunakan ponsel, mengajari keterampilan sederhana, hingga menjadi relawan sosial.
Dalam psikologi hubungan interpersonal, batasan sehat membantu manusia menjaga kesehatan mental dan harga diri. Wanita kuat bukan wanita yang selalu menyenangkan semua orang. Wanita kuat adalah wanita yang tahu kapan harus membantu dan kapan harus menjaga dirinya sendiri.
Quote:
6. Tomboy: Dari Agresif Menjadi Berani dan Produktif
Sifat tomboy sering dipandang negatif oleh sebagian orang. Padahal, energi maskulin seperti keberanian, ketegasan, dan daya saing sebenarnya tidak selalu buruk. Yang menjadi masalah adalah ketika energi tersebut diarahkan ke perilaku destruktif, misalnya suka kekerasan, suka mencari masalah, sok jago berkelahi, dan berperilaku agresif tanpa tujuan.
Namun, jika diarahkan dengan benar, sifat tomboy justru bisa menjadi kekuatan besar. Misalnya, menjadi relawan bencana, menjadi atlet wanita, masuk dunia otomotif, menjadi tentara wanita, menjadi teknisi, menjadi desainer kendaraan, hingga menjadi pelatih olahraga.
Berhubungan dengan seri sebelumnya tentang
life skillwanita modern, perempuan tidak harus membatasi dirinya hanya karena stereotip gender. Yang penting bukan penampilan luar semata. Yang penting adalah bagaimana energi dan kemampuan tersebut digunakan.
Dalam psikologi perkembangan, manusia yang mampu menyalurkan energinya ke aktivitas produktif biasanya memiliki kesehatan mental lebih baik dibanding mereka yang menyalurkannya ke sikap-sikap destruktif.
Oleh karena itu, sifat tomboy tidak harus dihilangkan. Energinya hanya perlu diarahkan ke jalan yang lebih bermanfaat.
Quote:
Mengapa Manusia Bisa Berubah?
Banyak orang merasa dirinya “sudah begini dari dulu”. Padahal, otak manusia sangat fleksibel. Kebiasaan baru dapat membentuk jalur berpikir baru.
Dalam ilmu psikologi dan neurosains, perubahan perilaku membutuhkan 3 hal utama, yaitu kesadaran diri, latihan yang berulang, dan lingkungan yang mendukung.
Oleh karena itu, perubahan tidak selalu instan, tetapi juga bukan berarti mustahil.
Berhubungan dengan seluruh filosofi Superwoman Series, wanita kuat bukan wanita yang langsung sempurna. Wanita kuat adalah wanita yang terus bertumbuh sedikit demi sedikit dan hari demi hari.
Quote:
PENUTUP
Kurang gerak, mudah stres, kecanduan belanja, terlalu emosional, terlalu baik, dan sifat tomboy sebenarnya bukan akhir dari segalanya. Semua energi dan kelemahan tersebut masih bisa diarahkan menjadi sesuatu yang lebih positif.
Itulah inti pembahasan dalam Superwoman Series #86.
Wanita kuat bukanlah wanita yang tanpa kekurangan. Wanita kuat adalah wanita yang berani memperbaiki dirinya dengan hikmat, disiplin, dan empati.
Sebab, pada akhirnya, manusia selalu punya kesempatan untuk berkembang menjadi lebih baik.
Jadi, dari 6 sikap tadi, mana yang paling ingin Sista ubah terlebih dahulu?
Quote:
SUMBER
Akun Y*ut*be Pria Seratus Persen (tetapi diadaptasi dengan gaya wanita)
American Psychological Association. (2023).
Building resilience and emotional wellness.
https://www.apa.org
Bandura, A. (1997).
Self-efficacy: The exercise of control. W.H. Freeman.
Duhigg, C. (2012).
The power of habit: Why we do what we do in life and business. Random House.
Goleman, D. (1995).
Emotional intelligence. Bantam Books.
Harvard Medical School. (2021).
Exercise and mental health.
https://www.health.harvard.edu
Pennebaker, J. W., & Smyth, J. M. (2016).
Opening up by writing it down: How expressive writing improves health and eases emotional pain. Guilford Press.
Seligman, M. E. P. (2011).
Flourish: A visionary new understanding of happiness and well-being. Free Press.
World Health Organization. (2022).
Mental health and well-being.
https://www.who.int/news-room/fact-s...g-our-response
@riodgarp @sahabat.006 @bitha