Kaskus

News

ardigcm25Avatar border
TS
ardigcm25
Dari Meriam Sultan Sampai Mesin Duit Bioskop: Bedah Sejarah Komersialisasi Kuntilanak
Dari Meriam Sultan Sampai Mesin Duit Bioskop: Bedah Sejarah Komersialisasi Kuntilanak

Source: ardiholmes.id

Kalau lagi ngumpul dan ngomongin Kuntilanak, apa sih yang pertama kali muncul di kepala kita?

Pasti ketawanya yang bikin merinding, baju putih kuntet, pohon beringin, atau akting ikonik almarhumah Suzzanna pas lagi makan sate.

Tapi pernah gak kepikiran, kok bisa hantu yang dulunya cuma mitos lokal pengusir hutan sekarang malah jadi mesin duit miliaran rupiah di bioskop kita hari ini?

​Gue sempat bikin analisis kecil-kecilan soal fenomena ini.

Kasarnya, Kuntilanak ini sebenarnya sudah mengalami dua kali pengusiran dalam sejarah Nusantara. Pertama, diusir pakai meriam Sultan tahun 1771. Kedua, diusir sama modal gede industri sinema modern.

​Sambil nyantai, yuk kita bedah bareng-bareng linimasa sejarahnya.

​1. Pengusiran Pertama: Babat Alas di Pontianak (1771)

​Cerita ini lumayan legendaris di buku-buku asal-usul kota. Waktu Syarif Abdurrahman al-Qadri lagi buka lahan di muara Sungai Kapuas tahun 1771, rombongannya diganggu gerombolan kuntilanak.

Biar urusannya cepat kelar, Sultan memerintahkan pasukannya menembakkan meriam ke arah pohon-pohon tinggi tempat hantu itu bersarang.

Nah, titik jatuhnya peluru meriam itu yang sekarang jadi lokasi Istana Kadriyah, dan kotanya dinamai Pontianak.

SudutPandang Antropologis:

Ada analisis menarik dari Antropolog Universitas Bonn, namanya Timo Duile (2020). Dia menjelaskan kalau penembakan meriam itu punya makna simbolis yang dalam.

Kuntilanak di sini diposisikan sebagai the constitutive outside, alias simbol alam liar, animisme, dan ketidakteraturan yang harus didepak keluar batas, supaya peradaban kota dan hukum bisa berdiri tegak di dalam.

​Sampai sekarang, festival meriam karbit di Pontianak masih terus melanggengkan memori itu. Artinya, Kuntilanak sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang, dia cuma diisolasi di luar pagar peradaban manusia.

​2. Makna Asli dari Sisi Medis dan Sosial

​Sebelum dipoles sama produser film kayak sekarang, asal-usul Kuntilanak di folklor kita itu sebenarnya sedih banget. Secara etimologi, kata puntianak itu punya arti "perempuan yang mati beranak".

​Dulu, dari abad ke-18 sampai awal abad ke-20, angka kematian ibu melahirkan di Nusantara itu tinggi banget karena keterbatasan medis.

Melahirkan zaman dulu ibaratnya kayak taruhan judi koin. Kemungkinan berhasil bisa dibilang 50:50.

Jadi, kalau dilihat pakai kacamata sejarah sosial, mitos Kuntilanak ini sebenarnya cara orang zaman dulu buat mengenang trauma dan kedudukan atas kematian para ibu yang sering kali tidak tercatat di narasi besar sejarah formal.

​3. Singapura 1957: Pas Mitos Ketemu Modal Gede

​Proses pengusiran kedua, yaitu memindahkan Kuntilanak dari mitos lisan ke dalam gulungan seluloid film, dimulai di Singapura pada 27 April 1957.

Waktu itu ada film judulnya "Pontianak" tayang di Cathay Cinema, disutradarai sama orang India namanya B.N. Rao.

​Di sinilah awal mula komersialisasi horor dimulai. Mitos yang tadinya milik bareng masyarakat, diubah jadi tiket bioskop yang dijual bebas.

Malah filmnya sampai di-dubbing ke bahasa Mandarin dan Kanton biar pasarnya makin luas.

Suksesnya film ini bikin studio-studio besar waktu itu langsung rebutan bikin sekuel. Kuntilanak resmi masuk ke dalam pembukuan bisnis hiburan.

​4. Jakarta 1981: Era Suzzanna dan Plot Balas Dendam

​Pas industri film Singapura mulai redup di tahun 70-an, tren horor ini pindah ke Jakarta.

Puncaknya terjadi pada tahun 1981 lewat film "Sundelbolong" yang dibintangi sama ikon horor kita, Suzzanna.

​Di era ini, narasinya digeser secara halus tapi masif oleh industri:
​• Mitos Asli: Jadi hantu karena takdir medis, yaitu meninggal pas melahirkan.
​• Versi Industri (1981): Jadi hantu karena disakiti atau dirudapaksa, terus bangkit dari kubur buat balas dendam secara mandiri.

​Meskipun sempat dikritik sama Ibu Tien Soeharto karena dianggap terlalu mengeksploitasi perempuan, formula horor-balas dendam plus bumbu seksualitas ini malah laris manis dan ditiru terus sampai era 90-an.

​5. Abad 21: Dari Hantu Tradisional Jadi Kekayaan Intelektual (IP)

​Masuk ke tahun 2000-an, cara jualan para pemodal bioskop makin canggih lagi buat ngikutin selera pasar modern:

• ​Tahun 2006 (Rizal Mantovani & Raam Punjabi): Lewat film Kuntilanak, mereka mulai memasukkan elemen baru kayak cermin pusaka, sekte, sampai mantra Durmo. Tujuannya jelas, yaitu bikin Intellectual Property (IP) yang punya hak cipta legal supaya bisa diproduksi jadi waralaba film (franchise) yang panjang.
• ​Tahun 2017 - Sekarang (Manoj Punjabi & Danur Universe): Industri mulai menggandeng pasar pembaca novel urban, contohnya karakter "Asih" dari tulisan Risa Saraswati. Hasilnya bisa kita lihat sekarang, horor lokal naik kelas jadi industri triliunan rupiah yang menguasai lebih dari 60% layar bioskop tanah air.

​Apa yang Hilang di Sepanjang Jalan?

​Sebagai orang yang suka mengamati sejarah sosial, gue melihat ada ironi besar di sini.

Pas figur Kuntilanak sukses bikin bioskop penuh dan mencetak keuntungan triliunan rupiah, kita justru kehilangan konteks historisnya yang paling mendasar.

​Tragedi kematian ibu melahirkan di masa lalu yang jadi akar cerita ini malah tidak pernah dibahas lagi sebagai ruang perenungan sosial.

Malah, variasi cerita Kuntilanak di berbagai daerah sekarang diseragamkan demi mengikuti standar estetika dan logika pasar bioskop nasional.

Kuntilanak sekarang sudah tidak nakut-nakutin kita dari atas pohon lagi, tapi dia lagi kerja lembur di dalam proyektor bioskop buat memutar roda kapitalisme hiburan modern.

​Kalau menurut kalian sendiri gimana?

Lebih sreg sama cerita Kuntilanak versi folklor asli yang penuh makna sosial, atau versi modern ala jagat sinema bioskop sekarang?

​Tulisan ini sebenarnya ringkasan dari artikel lengkap yang gue bikin di blog pribadi, lengkap dengan linimasa kronologis serta daftar pustaka ilmiahnya. Kalau kalian penasaran mau baca versi utuhnya, langsung melipir ke tautan ini aja:

​👉 Sejarah Kuntilanak: Komersialisasi Horor

-Ardiholmes

Diubah oleh ardigcm25 28-05-2026 22:54
0
32
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan