Kaskus

News

mbiaAvatar border
TS
mbia
Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan
Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan

DEMOKRASI adalah sistem yang sangat terbuka. Demokrasi tidak bertanya terlalu jauh tentang siapa seseorang sebelum masuk ke arena kekuasaan.

Demokrasi tidak meminta syarat bahwa seseorang harus bijaksana, luhur, atau bermoral tinggi untuk bisa menjadi penguasa.

Demokrasi hanya menyediakan prosedur. Siapa pun yang mampu memenuhi prosedur itu memiliki peluang yang sama untuk naik ke panggung kekuasaan.

Di sinilah letak kekuatan sekaligus kelemahan demokrasi. Kekuatan demokrasi adalah keterbukaannya. Anak tukang becak bisa menjadi presiden. Orang miskin bisa menjadi anggota parlemen. Kelompok kecil bisa menjadi kekuatan politik besar.

Sementara itu, kelemahan demokrasi adalah membuka pintu bagi orang-orang yang secara standar moral problematik. Oportunis, manipulator massa, preman pasar, diberi “karpet merah” yang sama oleh demokrasi.

Demokrasi menilai legitimasi dari dukungan publik, bukan dari kualitas moral manusia. Selama seseorang mampu mengumpulkan massa, memenangkan suara, dan mengendalikan pengaruh, ia dapat memperoleh kekuasaan yang sah secara konstitusional.

Demokrasi tidak memiliki alat sempurna untuk mengukur keluhuran moral. Demokrasi hanya menyediakan pintu, tidak menyediakan kunci moral.

Demokrasi memberi kesempatan kepada semua orang, termasuk mereka yang mungkin suatu hari merusak semangat demokrasi itu sendiri dari dalam kekuasaan yang diperolehnya.

Moralitas vs Loyalitas

Dalam praktik politik modern, kekuasaan lebih sering diraih oleh orang yang mampu membangun loyalitas massa dibandingkan dengan orang yang paling bermoral. Ini kenyataan politik yang terasa pahit, tetapi nyata dalam sejarah banyak negara.

Mengapa demikian? Karena politik pada dasarnya adalah soal kekuatan sosial. Kekuatan sosial lahir dari jumlah pendukung, solidaritas kelompok, kemampuan mobilisasi, jaringan, dan loyalitas.

Moralitas pribadi tidak otomatis menghasilkan kekuasaan. Seseorang bisa jujur, bersih, cerdas, bahkan sangat bijaksana, tetapi jika ia tidak memiliki pengikut, organisasi, kemampuan komunikasi, dan basis dukungan, maka ia sering kalah dalam kontestasi politik.

Sebaliknya, figur yang mampu menciptakan loyalitas emosional dapat menjadi sangat kuat walaupun kualitas moralnya diperdebatkan.

Massa manusia tidak selalu bergerak berdasarkan standar etika. Massa sering bergerak karena rasa kedekatan, identitas kelompok, ketakutan, harapan, kemarahan, atau rasa dilindungi.

Di sinilah loyalitas menjadi mata uang politik yang sangat berharga. Sosok yang memiliki pendukung loyal sebenarnya memiliki energi kekuasaan.

Para pendukungnya rela membela, rela bergerak, rela menyebarkan pengaruh, bahkan kadang rela mengabaikan kesalahan pemimpinnya.

https://nasional.kompas.com/read/202...nuju-kekuasaan


Pantes para pejabat biasanya pada rajin sowan ke ormas
tabraklari81223Avatar border
taikucinglohAvatar border
saya.palsuAvatar border
saya.palsu dan 2 lainnya memberi reputasi
3
180
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan