- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Rumah yang Dulu ingin Tenang
TS
Muzmuz
Rumah yang Dulu ingin Tenang
Dulu, waktu anak-anak masih kecil, rumah rasanya tidak pernah benar-benar diam.
Pagi berisik. Siang berantakan. Malam masih ada suara mainan jatuh atau tangisan kecil karena rebutan hal sepele.
Kadang sebagai orang tua kita lelah.
Pulang kerja ingin duduk tenang, tapi rumah seperti kapal pecah. Mainan di lantai. Coretan di tembok. Baju entah di mana. Meja makan penuh bekas aktivitas mereka.
Lalu kita sering berkata:
“Jangan berantakan.” “Bisa nggak sih diam sebentar?” “Capek ayah lihat rumah begini terus.”
Waktu itu kita pikir rumah tenang adalah kebahagiaan.
Kita pikir nanti kalau anak-anak besar, hidup akan lebih ringan.
Padahal yang tidak kita sadari…
Masa paling hidup dalam sebuah rumah justru saat anak-anak masih kecil.
Karena suatu hari nanti, semua suara itu akan hilang pelan-pelan.
Anak yang dulu selalu ikut ke mana-mana mulai sibuk dengan dunianya sendiri.
Yang dulu setiap malam masuk kamar hanya untuk bercerita… mulai lebih sering menatap layar HP.
Yang dulu memeluk kita tanpa alasan… mulai malu menunjukkan rasa sayang.
Lalu tanpa sadar mereka tumbuh dewasa.
Sangat cepat.
Lebih cepat daripada kesiapan hati orang tuanya.
Tiba-tiba ada hari dimana kita mengantar mereka kuliah ke luar kota.
Melihat kamar kos kecil. Merapikan barang-barangnya. Lalu berpura-pura kuat saat pamit pulang.
Dan setelah pintu kos itu tertutup…
Untuk pertama kalinya kita pulang ke rumah dengan perasaan aneh.
Sepanjang jalan terasa sunyi.
Padahal dulu kita sering berharap punya waktu tenang.
Sekarang ketenangan itu benar-benar datang.
Tapi ternyata… sunyi tidak selalu terasa damai.
Rumah mulai rapi lebih lama. Tidak ada lagi suara langkah kecil berlari. Tidak ada rebutan kamar mandi pagi-pagi. Tidak ada suara: “Mah, lapar…” “Pak, lihat ini…”
Dan anehnya…
Kita mulai merindukan hal-hal yang dulu pernah membuat lelah.
Coretan di tembok itu. Mainan berserakan itu. Keramaian kecil itu.
Karena ternyata semua itu bukan gangguan.
Itu tanda bahwa kehidupan sedang tumbuh di dalam rumah kita.
Dan suatu hari nanti, rumah itu akan benar-benar sepi.
Anak-anak akan punya hidupnya sendiri.
Mereka bekerja. Menikah. Pindah kota. Bahkan mungkin pindah negara.
Pulang hanya sesekali. Kadang hanya lewat video call singkat karena sibuk bekerja.
Lalu kita duduk di rumah yang dulu penuh suara itu…
Sambil melihat foto-foto lama. Dan berkata pelan dalam hati:
“Cepat sekali mereka tumbuh.”
Maka kalau hari ini anak-anak masih kecil… masih suka ikut ke mana-mana… masih ingin tidur dekat orang tuanya… masih membuat rumah berantakan…
Nikmatilah.
Peluk mereka lebih lama.
Ajak mereka pergi selagi mereka masih mau ikut.
Dengarkan cerita kecil mereka walaupun terdengar sepele.
Jangan terlalu sering memarahi rumah yang berantakan.
Karena suatu hari nanti… kita akan rela menukar apa saja hanya untuk mendengar suara-suara kecil itu kembali satu hari saja.
Dan percayalah…
Yang paling membuat hati orang tua menangis bukan saat anak-anak nakal.
Tapi saat rumah sudah tenang… dan kita sadar, masa paling indah itu ternyata sudah lewat tanpa bisa diulang lagi.
xdocz dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1K
17
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan