Kaskus

Story

c4punk1950...Avatar border
TS
c4punk1950...
Masih Kamu


Masih Kamu

Quote:





Gerimis tipis membungkus kota dengan selimut kelabu, membawa aroma tanah basah yang berbaur dengan kepedihan yang senyap. Di sudut kafe bernuansa temaram, Andika duduk menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin. Di hadapannya, duduk Kirana. Wanita yang rambutnya mulai diselingi benang-benang perak, namun matanya masih menyimpan binar yang sama seperti tiga puluh tahun lalu.

Di usianya yang telah melewati kepala lima, Andika merasa jiwanya laksana padang gersang yang mendadak disiram hujan badai. Sesuatu yang orang-orang sebut sebagai puber kedua terjaga di dalam dadanya. Bukan lagi sekadar gejolak muda yang menggebu, melainkan sebuah rindu yang teramat dalam, sunyi, dan mengiris sembap. Ia terjebak dalam labirin rasa kepada Kirana, sahabat lamanya.

"Kirana," suara Andika bergetar, memecah simfoni denting sendok dan gemericik hujan di luar. "Aku tahu ini sebuah kelancangan yang mengotori rambut putih kita. Namun, menyimpan rasa ini sendirian membuat dadaku sesak laksana dihimpit jelaga."

Kirana menatap Andika dengan sepasang mata yang teduh namun sarat akan duka yang tertahan. Ia tidak menyela.

"Aku mencintaimu," ucap Andika akhirnya. Kalimat itu meluncur bebas, membawa kehangatan sekaligus ketakutan yang mahabesar. "Bukan sebagai sahabat dari masa lalu, melainkan sebagai seorang pria yang mengagumi seluruh jiwamu di sisa usia ini."

Keheningan seketika menyergap di antara mereka, begitu pekat dan menyakitkan. Kirana menarik napas panjang, jemarinya yang mulai berkerut halus saling bertautan di atas meja. Ada riak haru yang melintas di wajahnya, namun dengan cepat disapu oleh ketegasan yang getir.

"Andika," panggil Kirana, suaranya selembut desau angin malam namun begitu dingin menghujam jantung. "Pintumu salah alamat, dan waktu kita telah habis. Kita bukan lagi remaja yang bisa mengejar pelangi tanpa alas kaki. Kita telah memiliki atap masing-masing. Biarkanlah kita tetap seperti ini, hanya menjadi teman yang saling menjaga dalam diam."

Penolakan itu, meski diucapkan dengan untaian kata yang halus, tetap terasa laksana sembilu yang mengoyak dada Andika. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang mulai berkerut. Jiwanya meronta, menolak untuk menyerah pada kenyataan yang terlalu kaku.

"Hanya teman?" desak Andika dengan suara parau, menatap lekat ke dalam manik mata Kirana. "Katakan sejujurnya, Kirana. Demi malam-malam sepi yang menyiksa kita, apakah tidak ada sedikit pun ruang di hatimu untukku? Apakah rasa ini hanya sepihak?"

Kirana memalingkan wajah ke arah jendela, menatap bulir-bulir air yang merayap turun di kaca. Bahunya sedikit berguncang, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dada. Ketika ia kembali menatap Andika, setitik air mata keluh lolos membasahi pipinya.

"Iya, Andika," bisik Kirana, begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh suara hujan. "Ada rasa yang sama. Hatiku pun bergetar oleh simfoni yang telanjur kau mainkan."

Andika terpaku, secercah harapan sempat menyala di matanya, namun Kirana segera menggelengkan kepala.

"Namun, aku tidak akan pernah berani melangkah terlalu jauh," lanjut Kirana dengan keteguhan yang meremukkan hati. "Di ambang usia senja ini, yang kita pertaruhkan bukan lagi kebebasan diri, melainkan kehormatan keluarga yang telah kita bangun puluhan tahun. Di umur kita sekarang, yang kita pedulikan adalah ketenangan anak-cucu, ketulusan pasangan yang menemani dari nol, dan rumah tempat kita berteduh. Bukan lagi cinta sesaat yang datang laksana fatamorgana di kala petang."

Kirana bangkit berdiri, merapatkan syal di lehernya. Ia menatap Andika untuk terakhir kalinya dengan tatapan penuh kasih, namun sekaligus sebuah ucapan selamat tinggal pada rasa yang tak boleh tumbuh.

"Biarkan rasa ini abadi sebagai rahasia malam," ucap Kirana pelan. "Pulanglah, Andika. Temui janjimu di masa lalu. Aku pun akan pulang ke rumahku."

Wanita itu melangkah pergi, menembus rintik gerimis, meninggalkan Andika yang terpaku dalam tangis tanpa suara. Di senja hidupnya, Andika menyadari bahwa cinta paling agung terkadang bukan tentang memiliki, melainkan tentang keberanian untuk berbalik arah dan menjaga apa yang telah menjadi takdir mereka.



Tamat




Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.

emoticon-I Love Indonesia

Masih Kamu

"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google

emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star

Masih Kamu


Masih Kamu


Diubah oleh c4punk1950... 28-05-2026 13:21
itkgidAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan itkgid memberi reputasi
2
65
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan