- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Kata Purbaya Soal Rupiah Melemah Hampir Rp17.800 per Dolar AS
TS
jaguarxj220
Kata Purbaya Soal Rupiah Melemah Hampir Rp17.800 per Dolar AS
Bloomberg Technoz, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara mengenai nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp17.789/US$ pada penutupan perdagangan kemarin, menandakan level terlemah sepanjang masa.
Purbaya mengatakan pelemahan rupiah tersebut sebenarnya tidak masuk akal karena terjadi ketika fundamental ekonomi Indonesia bagus. Biasanya, nilai tukar melemah ketika ada gangguan di fundamental ekonomi.
“Kan ekonominya bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Sebetulnya tidak masuk akal, biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” ujar Purbaya kepada awak media, Rabu (27/5/2026).
Meski rupiah melemah, kata Purbaya, imbal hasil (yield) di pasar obligasi tetap terkendali. Dengan kata lain, investor asing masih memiliki minat untuk melakukan investasi di pasar obligasi.
Menurut Purbaya, yield yang terkendali terjadi karena intervensi pemerintah di pasar obligasi yang ditargetkan sebesar Rp2 triliun per hari.
Hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin (26/5/2026) menunjukkan pemerintah sepertinya berhasil menarik minat investor lebih besar daripada lelang sebelumnya (12/5/2026).
Hal ini ditandai dengan naiknya incoming bids dan total nominal yang dimenangkan.
Menyitir data lelang, total penawaran masuk naik 11,5% menjadi Rp57,3 triliun, dari penawaran sebelumnya Rp51,39 triliun.
Dengan begitu, pemerintah juga meningkatkan jumlah nominal yang dimenangkan menjadi Rp38,85 triliun, dari nominal sebelumnya Rp30,30 triliun.
“Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan,” ujarnya.
“Ya saya stres. Kita sudah hitung pada waktu simulasi US$100 per barel itu asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan jadi enggak ada masalah saya enggak harus hitung ulang APBN-nya.”
Pergerakan rupiah kemarin kian volatil dengan menyentuh level terendah lebih dari dua kali. Dari posisi Rp17.749/US$ pada pembukaan, rupiah terus tergerus ke posisi Rp17.786/US$ pada pukul 10:02 WIB, lalu melangkah ke Rp17.794/US$ pada 14:04 WIB.
Pergerakan rupiah ini dipicu oleh harga minyak mentah dunia jenis Brent kembai terkerek 3,22% ke posisi US$99,33 per barel, setelah sempat merosot 7% kemarin.
Serangan militer AS di Iran terjadi, dan kembali mengaburkan prospek tercapainya kesepakatan sementara antara kedua negara itu untuk membuka Selat Hormuz. Penutupan Selat Hormuz untuk waktu yang panjang, membuat persediaan minyak global menyusut.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...-per-dolar-as/
Bahkan sebelum 17 Agustus, kemungkinan besar sudah tembus 17,845.
Kemungkinan 17 Agustus, bisa 19,450/USD
Purbaya mengatakan pelemahan rupiah tersebut sebenarnya tidak masuk akal karena terjadi ketika fundamental ekonomi Indonesia bagus. Biasanya, nilai tukar melemah ketika ada gangguan di fundamental ekonomi.
“Kan ekonominya bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Sebetulnya tidak masuk akal, biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” ujar Purbaya kepada awak media, Rabu (27/5/2026).
Meski rupiah melemah, kata Purbaya, imbal hasil (yield) di pasar obligasi tetap terkendali. Dengan kata lain, investor asing masih memiliki minat untuk melakukan investasi di pasar obligasi.
Menurut Purbaya, yield yang terkendali terjadi karena intervensi pemerintah di pasar obligasi yang ditargetkan sebesar Rp2 triliun per hari.
Hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin (26/5/2026) menunjukkan pemerintah sepertinya berhasil menarik minat investor lebih besar daripada lelang sebelumnya (12/5/2026).
Hal ini ditandai dengan naiknya incoming bids dan total nominal yang dimenangkan.
Menyitir data lelang, total penawaran masuk naik 11,5% menjadi Rp57,3 triliun, dari penawaran sebelumnya Rp51,39 triliun.
Dengan begitu, pemerintah juga meningkatkan jumlah nominal yang dimenangkan menjadi Rp38,85 triliun, dari nominal sebelumnya Rp30,30 triliun.
“Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan,” ujarnya.
“Ya saya stres. Kita sudah hitung pada waktu simulasi US$100 per barel itu asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan jadi enggak ada masalah saya enggak harus hitung ulang APBN-nya.”
Pergerakan rupiah kemarin kian volatil dengan menyentuh level terendah lebih dari dua kali. Dari posisi Rp17.749/US$ pada pembukaan, rupiah terus tergerus ke posisi Rp17.786/US$ pada pukul 10:02 WIB, lalu melangkah ke Rp17.794/US$ pada 14:04 WIB.
Pergerakan rupiah ini dipicu oleh harga minyak mentah dunia jenis Brent kembai terkerek 3,22% ke posisi US$99,33 per barel, setelah sempat merosot 7% kemarin.
Serangan militer AS di Iran terjadi, dan kembali mengaburkan prospek tercapainya kesepakatan sementara antara kedua negara itu untuk membuka Selat Hormuz. Penutupan Selat Hormuz untuk waktu yang panjang, membuat persediaan minyak global menyusut.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...-per-dolar-as/
Bahkan sebelum 17 Agustus, kemungkinan besar sudah tembus 17,845.
Kemungkinan 17 Agustus, bisa 19,450/USD
MemoryExpress memberi reputasi
1
632
10
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan