Kaskus

Story

creatordesaAvatar border
TS
creatordesa
Aroma Kopi dan Hujan di Balik Jendela Lantai 4
​[⚠️] Catatan Sebelum Membaca (Disclaimer): Cerita ini murni fiksi untuk hiburan. Mohon bijak dalam membaca, ambil sisi positifnya, dan buang sisi negatifnya. No sara, no personal insult.
💡 TIPS TAMBAHAN & RULES UNTUK KASKUSER YANG MAMPIR
​Halo Gan & Sist penikmat SFTH! Biar trit ini makin asyik, tertib, dan berumur panjang di Kaskus, ada beberapa hal yang mau gue sampaikan di awal:

Malam itu, hujan di luar turun seperti tidak punya niat untuk berhenti. Suara rintiknya yang menghantam kaca jendela ruang kerja lantai empat ini jadi satu-satunya musik latar yang tersisa. Kantor sudah sepi sejak jam 7 malam tadi. Hanya tersisa gue, dan Davina—senior desainer yang malam ini terpaksa lembur bareng gue buat ngejar deadline proyek besok pagi.

​Gue meregangkan otot leher yang kaku, lalu melirik ke meja seberang. Davina sedang bersandar di kursinya, memijat pelipisnya perlahan. Rambutnya yang biasa diikat rapi, malam ini sengaja digerai bebas, menyentuh bahunya yang dibalut kemeja satin tipis warna maroon.

​"Capek, Dav?" tanya gue, memecah keheningan.

​Davina membuka matanya, menatap gue dengan tatapan sayu yang entah kenapa malam ini terlihat jauh lebih intens dari biasanya. "Bukan capek lagi, Gil. Otak gue udah mau meledak. Punya kopi nggak? Yang kuat."

​Gue tersenyum tipis. Gue berdiri, berjalan ke arah pantry kecil di sudut ruangan. Gue mengambil cangkir, menyeduh dua porsi espresso dari mesin kopi manual yang ada di sana. Aroma pekat Robusta langsung menguar, memenuhi udara ruangan yang dingin akibat AC.

​Saat gue berbalik membawa dua cangkir hangat itu, Davina ternyata sudah berdiri di dekat jendela besar yang langsung menghadap kelap-kelip lampu kota yang buram karena air hujan.

Aroma Kopi dan Hujan di Balik Jendela Lantai 4Sumber

​"Nih," gue menyodorkan cangkir ke arahnya.

​Davina mengambil cangkir itu. Jari-jarinya yang dingin sempat bersentuhan dengan kulit tangan gue. Ada sengatan halus yang mendadak bikin jantung gue berdegup dua kali lebih cepat.

​"Thanks," bisiknya. Dia menyesap kopi itu perlahan, matanya terpejam menikmati kehangatan cairan hitam tersebut. Udara dingin malam itu membuat napasnya membentuk kabun tipis di kaca jendela.

​Gue berdiri tepat di sampingnya, terlalu dekat sampai gue bisa mencium aroma parfum vanila bercampur wangi rambutnya yang khas. Suasana mendadak terasa begitu intim. Jarak di antara kami seolah menyusut tanpa ada yang berniat menjauh.

​"Gil..." Davina memanggil nama gue dengan suara yang lebih rendah, hampir seperti bisikan. Dia memutar tubuhnya menghadap gue, menyandarkan punggungnya di ambang jendela.

​"Ya?" gue menatap langsung ke manik matanya. Di bawah temaram lampu pantry yang kuning keemasan, wajah Davina terlihat begitu memikat.

​"Dingin banget malam ini," ucapnya, tapi tatapan matanya justru memancarkan kehangatan yang kontras. Cangkir kopi di tangannya diletakkan begitu saja di meja kecil sebelah jendela.

​Gue melangkah satu tapak lebih maju. Jarak kami sekarang gak lebih dari sepuluh senti. Gue bisa merasakan kehangatan napasnya yang memburu.

​"Mau gue kecilin AC-nya?" tanya gue, sok polos, padahal dada gue udah bergemuruh hebat.

​Davina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang belum pernah gue lihat di siang hari saat kami bekerja profesional. Dia mengulurkan tangannya, merapikan kerah kemeja gue yang sedikit berantakan, lalu membiarkan telapak tangannya singgah di dada gue—tepat di mana jantung gue sedang berpacu gila-gilaan.

​"Nggak usah," bisik Davina, matanya turun menatap bibir gue sebelum kembali mengunci tatapan mata gue. "Gini aja udah cukup."

​Tangan gue bergerak tanpa bisa dicegah, melingkar di pinggang rampingnya, menariknya sedikit lebih rapat. Davina tidak menolak. Dia justru mendongak, menyambut kedekatan ini dengan napas yang tertahan. Malam itu, di balik kaca jendela yang basah oleh hujan, batas profesionalisme yang selama ini kami jaga ketat, melebur begitu saja menjadi sebuah ketegangan yang membakar...

​(Bersambung ke Part 2...)


[]Budayakan Komen yang Bijak: Boleh baper, boleh tegang, boleh penasaran sama kelanjutan hubungan gue dan Davina. Tapi inget ya Gan/Sist, tetep jaga sopan santun di kolom komentar. Komeng yang terlalu vulgar atau menjurus ke pornografi bakal gue skip atau bisa-bisa disemprit sama Moderator.

[]Sistem Update Cerita: Cerita ini bakal gue update berkala tergantung dari antusiasme kalian di lapak ini. Kalau rame, gue usahain fast update. Jadi jangan lupa buat klik Bookmark / Subscribe Thread biar gak ketinggalan pas part berikutnya rilis.

[]Saling Berbagi Cendol & Rate 5: Kalau kalian suka sama gaya penceritaan, atmosfer, dan konflik di cerita ini, jangan ragu buat timpuk gue pake Cendol (Big Thanks!) dan kasih Rate Bintang 5. Dukungan kalian adalah bensin utama gue buat lanjut ngetik di malam-malam lembur berikutnya.

[]Silent Reader? No Problem: Buat kalian yang tipikal SR (Silent Reader), gak masalah kok. Tapi sesekali ninggalin jejak jempol atau sekadar emotikon juga udah bikin gue seneng, tandanya cerita ini ada yang nikmatin.

📢 INDEX STORY (DAFTAR ISI)
(Biar agan-agan gak pusing nyari kelanjutan ceritanya, nanti link update bakal gue taro di sini)
• PART 1: Aroma Kopi dan Hujan di Balik Jendela Lantai 4 (Page 1)
• PART 2: Segera Hadir... (Pantengin terus trit ini!)
Gimana menurut kalian buat pembukaan di Part 1 tadi? Kira-kira apa yang bakal terjadi setelah gue menarik pinggang Davina? Yuk, obrolin di bawah! 👇
Diubah oleh creatordesa 26-05-2026 23:32
0
40
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan