Kaskus

News

jaguarxj220Avatar border
TS
jaguarxj220
Rupiah Menutup Hari di Bibir Jurang, Hampir Rp17.800/US$
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2026), dengan pelemahan 0,26% ke level terlemah sepanjang masa di Rp17.789/US$, menandai pelemahan hari keempat beruntun meski Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuan secara agresif.

Pergerakan rupiah hari ini kian volatil dengan menyentuh level terendah lebih dari dua kali. Dari posisi Rp17.749/US$ pada pembukaan, rupiah terus tergerus ke posisi Rp17.786/US$ pada pukul 10:02 WIB, lalu melangkah ke Rp17.794/US$ pada 14:04 WIB.

Pergerakan rupiah ini dipicu oleh harga minyak mentah dunia jenis Brent kembai terkerek 3,22% ke posisi US$99,33 per barel, setelah sempat merosot 7% kemarin.

Serangan militer AS di Iran terjadi, dan kembali mengaburkan prospek tercapainya kesepakatan sementara antara kedua negara itu untuk membuka Selat Hormuz. Penutupan Selat Hormuz untuk waktu yang panjang, membuat persediaan minyak global menyusut.

Hal ini membuat sebagian besar mata uang Asia bergerak di zona merah. Baht Thailand melemah paling dalam, disusul ringgit Malaysia, lalu rupiah. Sebaliknya, won Korea Selatan justru tercatat menguat 0,81%.

Rupiah Menutup Hari di 'Bibir Jurang', Hampir Rp17.800/US$

Pergerakan mata uang kawasan Asia, Selasa 26 Mei 2026. (Bloomberg)


Tekanan terhadap rupiah hari ini tidak hanya dipicu gejolak harga minyak akibat ketidakpastian global, tetapi mencerminkan memburuknya persepsi investor terhadap fondasi domestik Indonesia. Sebab, rupiah terus melemah setelah data-data ekonomi rilis pada pekan lalu.

Kala pasar global dibayangi lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS, investor juga melihat risiko di dalam negeri semakin meningkat, mulai dari pelebaran defisit transaksi berjalan, tekanan fiskal, hingga ketidakpastian arah pembiayaan pemerintah ke depan.

Kondisi ini membuat pasar obligasi Indonesia ikut kehilangan daya tariknya, dan membuat investor ingin diganjar lebih mahal dalam memegang aset berdenominasi rupiah.

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, hingga 22 Mei investor telahmencatat aksi jual sebesar US$101,3 juta secara bulanan, dan US$47,6 juta secara mingguan.

Arus keluar modal ini memperlihatkan bahwa investor sepertinya tak lagi sekadar melakukan penyesuaian portofolio jangka pendek, malahan mulai mengurangi eksposur terhadap aset domestik yang dianggap makin rentan terhadap tekanan eksternal dan adanya risiko ketidakpastian kebijakan.

Hal ini membuat pemerintah mengambil langkah intervensi untuk meredam gejolak pasar dengan membeli obligasi senilai Rp2 triliun per hari di pasar sekunder.

Langkah ini sepertinya dilakukan untuk menahan kepanikan pasar dalam jangka pendek, sekaligus menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi rupiah sepertinya sudah masuk fase yang lebih struktural.


https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/110123/rupiah-menutup-hari-di-bibir-jurang-hampir-rp17-800-us/


Di pasar spot udah 17,800an sih...


Otw 18,000... emoticon-Ngacir2


putraFHAvatar border
MemoryExpressAvatar border
superman313Avatar border
superman313 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
75
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan