Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Dijebak Terlibat dalam Pesta Babi
Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Mengaku Dijebak untuk Terlibat dalam Film 'Pesta Babi'
Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Dijebak Terlibat dalam 'Pesta Babi'
Rahmatul Fajri 24/5/2026 19:45A- A+Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Mengaku Dijebak untuk Terlibat dalam Film 'Pesta Babi'
Yasinta Moiwend(Dok Istimewa)
TOKOH masyarakat adat perempuan dari Suku Malind Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend, mengklaim dirinya dijebak dan diperdaya oleh oknum lembaga swadaya masyarakat untuk terlibat dalam sebuah produksi film dokumenter berjudul Pesta Babi. Ia menegaskan tidak pernah memberikan izin atau menandatangani persetujuan resmi apa pun terkait pembuatan film tersebut.

Yasinta mengaku terkejut saat mengetahui wajahnya dipajang secara luas, bahkan dijadikan ikon utama dalam poster promosi film Pesta Babi yang beredar di tengah masyarakat luas.

“Saya kaget, ditampilkan saya di film. Apa saya boneka atau ukiran Asmat, ditampilkan tanpa sepengetahuan saya dan izin saya. Saya kecewa sekali,” kata Yasinta kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).

“Saya tidak wawancara, mereka yang buat, mama tidak tahu. Mama tidak kasih izin, untuk buat film itu, saya sumpah demi Tuhan, tidak tahu jam berapa mereka buat film Pesta Babi itu,” sambungnya.

Yasinta membeberkan, duduk perkara bermula ketika dirinya bersama kelompok masyarakat adat Marind diajak oleh seorang pria bernama Aris untuk menyuarakan aspirasi seputar penolakan pembukaan lahan oleh pemerintah di wilayah Papua. Namun, dalam perjalanannya, ia merasa isu tersebut dipelintir dan dirinya justru dimanfaatkan demi kepentingan produksi film sepihak.

“Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH," tutur Yasinta.

Ia baru menyadari telah dieksploitasi setelah melihat hasil produksi film tersebut tidak pernah dibicarakan secara terbuka dengan dirinya sebagai subjek utama. Padahal, sebelumnya Yasinta telah difasilitasi untuk melakukan enam kali penerbangan pulang-pergi rute Merauke–Jakarta dan tiga kali penerbangan Merauke–Makassar tanpa kejelasan tujuan yang konkret.

“Saya diajak ke Jakarta 6 kali. Di atas pesawat saya panik, ini mau apa. Sampai Jakarta, mereka ajak saya demo (Aksi) Kamisan, minta saya bersuara menolak PSN (Proyek Strategis Nasional). Karena terpengaruh, saya ikut saja namun sekarang, saya sadar, saya tidak mau ikut tolak PSN lagi,” jelas Yasinta.

Meski harus menjalani jadwal perjalanan lintas pulau yang sangat padat hingga menguras energinya, Yasinta mengaku tidak pernah mendapatkan kompensasi atau bantuan kesejahteraan yang layak dari pihak penyelenggara. Jangankan bantuan untuk renovasi rumah, permohonan sederhana untuk mengganti telepon selulernya yang rusak akibat aktivitas bepergian pun tidak pernah dipenuhi hingga saat ini.

"Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH Pusaka," ungkapnya.

Merasa martabat dan hak atas privasinya sebagai representasi perempuan adat Papua telah dilanggar untuk agenda tertentu, Yasinta secara tegas menuntut agar seluruh pihak terkait menarik film tersebut dari ruang publik.

“Saya dijebak, dimanfaatkan oleh mereka. Jadi saya minta film Pesta Babi untuk dihentikan. Tidak ada izin dan sepengetahuan saya. Harus dihentikan film itu,” pungkas Yasinta. (H-2)

https://mediaindonesia.com/politik-d...ilm-pesta-babi



Pejuang Lingkungan Merauke Pilih Dukung PSN Papua
[img]https://mediaindonesia.gumlet.io/news/2026/05/24/1779624305_ff8a09bf2aa57344a424.jpeg?w=700&dpr=1.3/img]
Achmad Zulfikar Fazli 24/5/2026 19:04A- A+Pejuang Lingkungan Merauke Pilih Dukung PSN Papua
Tokoh adat Merauke Mama Sinta menyatakan dukungan pada Food Estate Papua Selatan dan keluar dari kelompok penolak PSN.(Dok. MetroTv)
TOKOH perempuan adat asal Merauke, Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Sinta, secara mengejutkan menyatakan dukungannya terhadap program lumbung pangan (food estate) di Papua Selatan. Pejuang lingkungan ini menegaskan telah keluar dari kelompok pendamping hukum yang selama ini menyuarakan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.

Mama Sinta mengungkapkan bahwa keputusannya didasari oleh kebutuhan ekonomi keluarga dan kondisi huniannya yang sudah tidak layak. Ia berharap dengan mendukung program pemerintah, anak-anaknya bisa mendapatkan pekerjaan dan rumahnya dapat direhabilitasi.

"Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi," ujar Mama Sinta dalam keterangannya, Minggu (24/5).
AD

Ia mengaku sebelumnya diajak oleh kelompok masyarakat adat Marind dan lembaga bantuan hukum untuk menolak pembukaan lahan. Namun, ia merasa aspirasinya selama ini dimanfaatkan tanpa memberikan dampak nyata bagi kesejahteraannya. Selama enam bulan mendampingi aksi penolakan hingga ke Jakarta, ia mengaku hanya mendapatkan kelelahan.

“Saya minta maaf sekali karena itu bukan kemauan saya, itu karena ajakan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya nanti terjadi seperti apa atau mereka bantu saya fasilitas punya rumah atau anak saya dipekerjakan, ternyata tidak ada,” ungkapnya sembari menunjukkan kondisi dapurnya yang kini harus menggunakan kayu bakar.

Mama Sinta kini menaruh harapan besar pada kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat lokal. "Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung," tuturnya.
AD


Di sisi lain, pihak pendamping hukum memberikan respons berbeda. Peneliti Pusaka Bentala Rakyat, Villarian atau Juple, membantah klaim perubahan sikap tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya masih berkomitmen bersama masyarakat adat untuk menolak PSN di Papua Selatan.

“Enggak ada, itu perlu diklarifikasi, itu informasi dari mana karena Mama Yasinta itu bersama-sama dengan kita, berkomitmen untuk terus menolak PSN yang ada di Papua Selatan,” kata Juple.

Perbedaan pernyataan ini memicu dinamika baru dalam pelaksanaan proyek Food Estate di Merauke yang diproyeksikan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan infrastruktur di wilayah Timur Indonesia. (MetroTv/Z-10)


https://mediaindonesia.com/nusantara...kung-psn-papua

pengakuan tokoh di film dan sadar PSN memberikan harapan kehidupan lebih baik

MemoryExpressAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan MemoryExpress memberi reputasi
2
399
14
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan