- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN] Wanita Dari Surga
TS
aurora..
[CERPEN] Wanita Dari Surga
Hujan turun perlahan di kota Semarang pada sore itu. Jalanan di depan kampus basah oleh air yang mengalir tipis menuju selokan. Di bawah atap kantin Fakultas Farmasi, seorang gadis berdiri sambil memegang mikrofon portabel.
Namanya Ruth.
Usia Ruth baru 20 tahun, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang tidak seharusnya dimiliki gadis seusianya. Gaun putih sederhana yang ia pakai terlihat sangat bersih meski sudah kusam karena dicuci berkali-kali. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai. Wajahnya cantik, tetapi bukan cantik yang mencolok seperti model iklan kosmetik. Ruth memiliki kecantikan yang lembut, kecantikan yang membuat orang ingin diam lebih lama ketika melihatnya.
Namun, hal paling indah dari Ruth bukanlah wajahnya, melainkan suaranya. Ketika Ruth mulai bernyanyi, suara kantin yang tadinya riuh perlahan mengecil. Sendok berhenti beradu dengan piring. Para mahasiswa menoleh. Bahkan, tukang gorengan di depan kantin ikut terdiam sambil membalik tempe mendoan.
Suara Ruth terasa seperti hujan pertama setelah musim kemarau panjang. Lembut. Merdu. Menenangkan.
Di salah satu meja kantin, seorang pemuda tersenyum sambil menopang dagunya.
Aldo.
Mahasiswa Farmasi semester 5. Rambutnya agak berantakan, kulitnya sawo matang, dan matanya selalu terlihat hidup setiap kali memandang Ruth.
Ketika lagu selesai, beberapa mahasiswa bertepuk tangan kecil.
Ruth menunduk malu.
Aldo berdiri, lalu berjalan menghampiri Ruth sambil membawa segelas teh hangat.
“Kamu belum makan dari tadi,” ucap Aldo tenang
Ruth tersenyum kecil.
“Belum lapar.”
“Bohong.”
Aldo duduk di sebelahnya.
“Kalau kamu terus kayak gini, nanti perutmu sakit lagi.”
Ruth tertawa pelan.
“Aku cuma capek.”
Aldo membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebungkus nasi ayam kecil.
“Aku beliin.”
“Aldo…”
“Udah. Jangan nolak.”
Ruth menatap nasi bungkus itu lama sekali. Hatinya terasa hangat sekaligus nyeri. Ia tahu, kondisi ekonomi Aldo juga tidak istimewa. Ayah Aldo sudah meninggal sejak lama. Ibunya, Dewi, hanya memiliki toko kelontong kecil di gang sempit daerah Pleburan.
Namun, Aldo selalu berusaha membuat Ruth merasa tidak sendiri.
“Aku nanti balikin uangnya,” ucap Ruth lirih
Aldo langsung menggeleng.
“Kamu tuh aneh.”
“Kenapa?”
“Aku pacar kamu.”
Ruth tertawa kecil.
“Pacar juga bisa miskin.”
Aldo ikut tertawa.
“Iya, tapi aku ini pacar miskin yang sayang sama kamu.”
Kalimat itu sederhana. Namun, Ruth menyimpannya jauh di dalam hati.
***
Ruth mengenal Aldo sejak ospek jurusan Farmasi 2 tahun yang lalu. Saat itu, Ruth sedang sakit perut karena belum makan seharian. Aldo yang mengantar Ruth ke klinik kampus.
Sejak saat itu, mereka mulai dekat.
Aldo jatuh cinta pada Ruth bukan karena kecantikannya, melainkan karena Ruth selalu berusaha tersenyum meski hidupnya berat.
Ruth tinggal di kos sempit dekat rel kereta. Ayahnya sudah meninggal saat Ruth masih bayi. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di kampung.
Untuk membayar uang kuliah, Ruth menyanyi di acara kampus, kafe kecil, bahkan kadang menjadi pengamen akustik di angkringan malam.
Aldo selalu menemani Ruth bernyanyi. Kadang memainkan gitar. Kadang hanya duduk sambil mendengarkan.
“Suara kamu bakal terkenal suatu hari nanti,” ucap Aldo pada suatu malam
Ruth menggeleng sambil tersenyum.
“Mimpi kamu terlalu tinggi.”
“Ini bukan mimpi.”
“Terus?”
“Keyakinan.”
Ruth menatap Aldo lama sekali malam itu, dan diam-diam, ia berharap waktu berhenti.
Namun, hidup tidak pernah benar-benar memberi manusia kesempatan untuk bersiap.
***
Hari itu hujan turun sangat deras. Ruth sedang praktikum ketika ponselnya terus bergetar karena ada panggilan telepon.
Nomor tidak dikenal.
Ruth mengangkat telepon sambil sedikit kesal.
“Halo?”
Suara di seberang terdengar panik.
“Ini keluarganya Aldo?”
“Bukan… saya pacarnya…”
“Aldo kecelakaan motor di Jalan Jeruk. Sekarang di IGD.”
Dunia Ruth langsung terasa kosong. Tabung reaksi di tangannya jatuh dan pecah.
Mahasiswa lain menoleh.
Ruth bahkan tidak sadar dirinya berlari keluar laboratorium tanpa melepas jas praktikum.
Hujan mengguyur tubuh Ruth sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Ketika Ruth sampai, Aldo sudah meninggal.
Ruth berdiri mematung di depan jenazah yang tertutup kain putih. Tangannya gemetar.
“Aldo…”
Tidak ada jawaban.
“Aldo…”
Sunyi.
Ruth perlahan jatuh terduduk di lantai rumah sakit sambil menangis tanpa suara.
Dewi, ibu Aldo, memeluk Ruth dengan tubuh yang sama gemetarnya.
Mereka menangis bersama malam itu, sebagai dua perempuan yang sama-sama kehilangan separuh hidupnya.
***
Setelah kematian Aldo, Ruth berubah. Ia menjadi lebih pendiam, lebih kurus, dan lebih sering termenung sendirian di pojok kampus.
Teman-temannya khawatir.
Namun, Ruth tidak pernah benar-benar menjelaskan isi hatinya.
Satu-satunya tempat yang masih membuat Ruth merasa hidup hanyalah rumah Aldo dan Dewi, rumah kecil dengan cat hijau pudar itu kini terasa seperti rumahnya sendiri.
Dewi selalu menyuruh Ruth makan dan selalu bertanya apakah Ruth sudah tidur cukup.
Kadang, mereka duduk bersama sambil melihat foto-foto Aldo.
“Aldo paling suka kalau kamu nyanyi,” ucap Dewi pada suatu malam
Ruth menahan air mata.
“Saya masih belum percaya dia pergi…”
Dewi menggenggam tangan Ruth.
“Ibu juga.”
Malam itu, mereka menangis lagi.
***
Beberapa bulan kemudian, Dewi mulai sering sakit. Awalnya hanya nyeri dada berulang, lalu muncul benjolan di payudara kirinya. Ruth memaksa Dewi memeriksakan diri ke rumah sakit.
Hasil biopsi membuat dunia Ruth kembali runtuh. Dewi terdiagnosis kanker payudara stadium lanjut.
Dewi mencoba tersenyum.
“Ibu nggak apa-apa.”
Namun, Ruth tahu itu bohong.
Biaya pengobatan Dewi sangat mahal, sementara toko kelontong Dewi hampir bangkrut.
Ruth memutuskan untuk berhenti menerima banyak kegiatan kampus dan mulai mengamen rutin di kantin setiap sore dengan gitar tua dan dengan suara yang tetap indah meski matanya sering sembab karena menangis semalaman.
Sebagian mahasiswa menangis haru.
Sebagian mahasiswa lagi hanya lewat begitu saja.
Namun, Ruth tidak peduli. Semua uang hasil menyanyinya ia simpan untuk pengobatan Dewi. Kadang hanya 50 ribu. Kadang 100 ribu. Kadang bahkan cuma cukup membeli obat pereda nyeri.
Namun, Ruth terus bernyanyi, seolah suaranya adalah satu-satunya cara melawan takdir.
***
Suatu siang, kantin kampus sedang sangat ramai. Ruth duduk di kursi kecil sambil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Lagu tentang kehilangan. Tentang seseorang yang pergi terlalu cepat.
Di sudut kantin, seorang mahasiswa baru memperhatikannya sejak tadi. Namanya Jefri. Usianya 19 tahun. Anak pengusaha properti terkenal di Jakarta. Jam tangannya mahal. Sepatunya bermerek luar negeri.
Namun, matanya justru terlihat kosong.
Ketika lagu selesai, Jefri mendekat.
“Kak…”
Ruth mengangkat wajahnya.
“Iya?”
“Itu lagu buatan Kak Ruth sendiri?”
Ruth mengangguk pelan. Jefri tersenyum kagum.
“Bagus banget.”
“Terima kasih.”
“Tapi…”
Ruth mengernyit.
“Liriknya masih berantakan.”
Ruth agak tersinggung. Jefri cepat-cepat berkata.
“Bukan jelek. Maksud adik… melodinya bagus, emosinya dapet, cuma struktur penulisannya kurang rapi.”
Ruth terdiam. Biasanya, orang hanya memuji suaranya. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan lagu yang ia buat.
“Kamu ngerti musik?” tanya Ruth
Jefri mengangguk.
“Aku sering nulis lagu.”
“Beneran?”
“Kalau Kakak mau, adik bisa bantu.”
Ruth ragu. Namun, entah mengapa, mata Jefri terlihat tulus.
***
Hari-hari berikutnya berubah perlahan.
Jefri mulai sering menemani Ruth di kantin. Bukan untuk memberi uang. Bukan untuk pamer kekayaan. Melainkan benar-benar mengajari Ruth menulis lagu.
“Jangan langsung masuk reff,” ucap Jefri sambil mencoret buku catatan Ruth
“Bangun emosinya dulu.”
Ruth memperhatikan dengan serius.
“Kalau lagu itu sedih, jangan semua liriknya sedih. Kasih ruang supaya pendengar bisa bernapas.”
Ruth mengangguk pelan.
Mereka mulai menghabiskan banyak waktu bersama. Kadang di perpustakaan. Kadang di taman kampus. Kadang di studio musik kecil dekat kampus. Dan perlahan, lagu-lagu Ruth berubah. Menjadi lebih hidup. Lebih tajam. Lebih menyentuh.
Jefri kagum pada Ruth bukan hanya karena kecantikannya, melainkan karena ketangguhannya yang luar biasa. Ia tahu Ruth miskin. Ia tahu Ruth lelah. Namun, Ruth tidak pernah meminta dikasihani.
***
Suatu malam, Jefri bertanya pelan.
“Kak Ruth masih sayang sama Kak Aldo?”
Ruth tersenyum tipis.
“Masih.”
Jefri menunduk sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Berarti Kak Aldo orang hebat.”
Ruth menatap Jefri dengan terkejut.
“Kamu nggak cemburu?”
“Kenapa harus cemburu?”
Ruth terdiam. Jefri memandang langit malam.
“Orang yang pernah dicintai sedalam itu pasti spesial.”
Kalimat itu membuat mata Ruth basah.
***
Beberapa bulan kemudian, Jefri diam-diam mengunggah video Ruth bernyanyi ke media sosial. Awalnya hanya beberapa ribu penonton, lalu puluhan ribu, lalu jutaan.
Suara Ruth viral.
Netizen mulai menyebut Ruth sebagai “Wanita Dari Surga” karena suara dan wajahnya dianggap terlalu menenangkan.
Undangan tampil mulai berdatangan. Acara kampus. Festival musik. Program televisi. Konser kecil.
Ruth sempat tidak percaya ketika honor pertamanya mencapai puluhan juta rupiah. Ia menangis sendirian di kamar kos malam itu bukan karena bahagia, melainkan karena akhirnya ia bisa membeli obat Dewi tanpa menghitung receh.
Popularitas Ruth meningkat sangat cepat. Lagu-lagu ciptaannya diputar di mana-mana. Orang-orang menyukai kesedihan dalam suaranya. Mereka tidak tahu bahwa setiap nada yang dinyanyikan Ruth lahir dari luka yang nyata.
Jefri selalu ada di samping Ruth. Mengatur jadwal. Membantu produksi lagu. Mengajari Ruth menghadapi industri musik.
Namun, Jefri tidak pernah bersikap posesif. Tidak pernah memaksa Ruth melupakan Aldo.
***
Suatu malam setelah konser besar di Jakarta, Ruth duduk sendirian di backstage sambil memandangi foto Aldo di ponselnya.
Jefri datang membawakan air mineral.
“Kak.”
Ruth buru-buru menghapus air mata.
“Eh…”
Jefri duduk di sebelahnya.
“Kakak kangen ya?”
Ruth mengangguk pelan.
“Kadang aku merasa bersalah.”
“Kenapa?”
“Karena hidupku mulai bahagia lagi.”
Jefri tersenyum lembut.
“Kalau Kak Aldo sayang sama kakak, dia pasti pengen kakak bahagia.”
Ruth menutup wajahnya sambil menangis pelan, dan Jefri hanya diam menemani.
***
Kondisi kanker Dewi semakin memburuk. Dokter di Indonesia menyarankan operasi mastektomi dan terapi lanjutan di Singapura. Biayanya mencapai 570 juta rupiah, angka yang dulu terasa mustahil bagi Ruth.
Namun, kini, Ruth menyerahkan seluruh tabungannya tanpa ragu.
“Ibu harus sembuh,” ucap Ruth sambil menggenggam tangan Dewi
Dewi menangis.
“Nak… uangnya terlalu banyak…”
“Dulu Aldo selalu jagain saya,” ucap Ruth lirih
“Sekarang giliran saya yang jagain ibu.”
Operasi mastektomi dilakukan di Singapura. Ruth menemani Dewi hampir setiap hari, bahkan di sela jadwal konsernya. Jefri juga ikut membantu mengurus administrasi dan transportasi. Namun, Jefri tetap menjaga jarak dengan penuh hormat.
***
Suatu malam di rumah sakit, Dewi memanggil Jefri.
“Kamu sayang sama Ruth ya?”
Jefri tersenyum malu.
“Iya, Bu.”
“Terima kasih udah bikin dia ketawa lagi.”
Jefri menunduk pelan.
“Saya justru merasa beruntung kenal sama Kak Ruth.”
Dewi memandang pemuda itu lama, lalu tersenyum hangat.
“Kamu anak baik.”
***
Setahun kemudian, kondisi Dewi pasca operasi jauh lebih membaik. Ruth semakin terkenal. Namanya ada di billboard. Lagunya diputar di radio seluruh Indonesia.
Namun, Ruth tetap sederhana. Ia masih suka makan di kantin kampus. Masih suka duduk di tangga fakultas sambil melihat hujan. Masih sering mengunjungi makam Aldo. Dan setiap kali ke makam itu, Jefri selalu mengantar tanpa pernah mengeluh.
Suatu sore, setelah menabur bunga di makam, Ruth berkata pelan.
“Aku takut.”
Jefri yang berdiri di sampingnya menoleh.
“Takut apa?”
“Takut nggak bisa mencintai orang lagi sebesar aku mencintai Aldo.”
Jefri tersenyum kecil.
“Aku nggak minta dibandingin.”
Ruth terdiam. Jefri melanjutkan pelan.
“Aku nggak pengen jadi pengganti siapa-siapa.”
Angin sore berembus lembut.
“Aku cuma pengen jadi suaminya kakak… kalau kakak izinin.”
Air mata Ruth jatuh perlahan, dan untuk pertama kalinya sejak kematian Aldo, Ruth merasa hatinya tidak lagi sepenuhnya gelap.
***
Pernikahan mereka berlangsung sederhana, tidak mewah meski keluarga Jefri sangat kaya. Ruth hanya memakai gaun putih polos. Dewi duduk di kursi roda sambil menangis bahagia melihat Ruth tersenyum lagi.
Saat pemberkatan nikah selesai, Jefri menggenggam tangan Ruth erat.
“Aku janji nggak akan nyakitin kamu.”
Ruth tersenyum dengan mata basah.
Di malam resepsi, seseorang bertanya pada Jefri dengan nada heran.
“Kamu nggak cemburu sama mantan pacar istrimu yang udah meninggal?”
Jefri memandang Ruth yang sedang bernyanyi di atas panggung kecil, lalu ia tersenyum.
“Kalau bukan karena cinta itu, Ruth nggak akan jadi wanita setangguh sekarang.”
Jefri menatap Ruth lama sekali.
“Dan aku jatuh cinta pada seluruh luka yang berhasil dia lewati.”
Di atas panggung, Ruth menyanyikan lagu baru ciptaannya, lagu tentang seorang lelaki yang pergi terlalu cepat, dan lelaki lain yang datang tanpa memaksa. Tentang kehilangan. Tentang kesetiaan. Tentang cinta yang tidak saling menghapus.
Suara Ruth memenuhi ruangan dengan lembut. Seperti doa. Seperti langit malam. Seperti wanita dari surga.
TAMAT
Note: Cerita ini terinspirasi dari kisah Rut dan Boas di Alkitab, dan nama-namanya terinspirasi dari keluarga Ruth Sahanaya.
@senjaperenungan @sahabat.006 @pabuaranwetan
riodgarp dan 3 lainnya memberi reputasi
4
61
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan