Kaskus

Story

whyabd08Avatar border
TS
whyabd08
Sakban Rosidi: Ketika Mahasiswa Pandai Bicara tetapi Miskin Membaca
Sakban Rosidi: Ketika Mahasiswa Pandai Bicara tetapi Miskin Membaca

Di era digital hari ini, manusia semakin mudah memperoleh informasi, tetapi semakin sulit memahami makna. Media sosial membuat semua orang bisa berbicara, berkomentar, bahkan merasa paling benar hanya dalam hitungan detik. Ironisnya, di tengah banjir informasi tersebut, budaya membaca justru semakin melemah. Banyak orang ingin cepat berpendapat, tetapi malas memahami. Banyak yang ingin terlihat pintar, tetapi enggan berpikir mendalam.

Fenomena itu menjadi kegelisahan yang terasa kuat dalam buku Membaca Berlensa Sosiologis, Menulis Bernalar Pedagogis karya Sakban Rosidi. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan akademik biasa, melainkan refleksi kritis tentang pendidikan, budaya literasi, cara berpikir, hingga hubungan manusia dengan realitas sosial di sekitarnya.

Sakban Rosidi mencoba mengingatkan bahwa membaca bukan hanya aktivitas melihat teks, tetapi usaha memahami dunia secara kritis. Sementara menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses membangun kesadaran dan penalaran.

Salah satu gagasan yang paling kuat dari buku ini adalah ketika Sakban Rosidi menekankan bahwa:

Quote:


Kalimat tersebut tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan kritik mendalam terhadap kondisi pendidikan modern. Hari ini banyak orang merasa terpelajar hanya karena memiliki gelar, fasih berbicara, atau aktif di media sosial. Padahal, menurut perspektif Sakban Rosidi, ukuran keterpelajaran tidak berhenti pada simbol akademik semata, melainkan kemampuan membaca realitas secara kritis dan bernalar secara jernih.

Inilah yang mulai hilang di banyak lingkungan pendidikan. Mahasiswa sering sibuk mengejar nilai, sertifikat, dan formalitas akademik, tetapi melupakan kemampuan berpikir kritis. Budaya membaca mulai tergeser oleh budaya melihat ringkasan. Diskusi ilmiah sering berubah menjadi ajang mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran.

Akibatnya, banyak mahasiswa mampu berbicara panjang, tetapi kesulitan menyusun argumen yang logis. Banyak yang aktif berdiskusi, tetapi lemah dalam membaca dan menulis ilmiah. Bahkan tidak sedikit yang lebih akrab dengan konten viral dibanding buku.

Sakban Rosidi secara tidak langsung sedang mengkritik kondisi tersebut. Ia memperlihatkan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang pandai berbicara, tetapi juga manusia yang mampu berpikir, memahami realitas sosial, dan memiliki kesadaran intelektual.

Dalam perspektif sosiologis, membaca berarti memahami hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya. Karena itu, membaca tidak cukup hanya memahami teks, tetapi juga memahami masyarakat, budaya, ketimpangan sosial, hingga perubahan zaman. Seseorang yang mampu membaca realitas sosial akan lebih peka terhadap persoalan di sekitarnya.

Di sisi lain, menulis dalam perspektif pedagogis berarti menyampaikan gagasan dengan tanggung jawab intelektual. Menulis bukan hanya menuangkan opini, tetapi juga melatih cara berpikir yang runtut, logis, dan reflektif. Melalui menulis, seseorang belajar menyusun argumen, menghubungkan fakta, serta mempertanggungjawabkan pemikirannya secara ilmiah.

Masalahnya, budaya akademik hari ini sering lebih menekankan hasil dibanding proses berpikir. Banyak mahasiswa mengejar cepat lulus, tetapi jarang menikmati proses membaca dan berpikir. Bahkan muncul budaya instan seperti copy-paste, penggunaan AI tanpa pemahaman, hingga kebiasaan mengambil pendapat orang lain tanpa analisis kritis.

Fenomena tersebut sebenarnya menunjukkan adanya krisis nalar di lingkungan pendidikan modern. Manusia hidup di era informasi, tetapi tidak semua mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan. Banyak yang hanya menjadi “konsumen informasi”, bukan “pengolah pemikiran”.

Di sinilah relevansi buku Sakban Rosidi terasa sangat kuat. Buku ini mengajak pembaca kembali memahami bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar hafalan teori, melainkan proses membangun kesadaran berpikir. Pendidikan tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi harus membentuk manusia yang mampu membaca realitas dan menulis pemikiran secara bertanggung jawab.

Buku ini juga terasa relevan dengan kondisi era post-truth saat ini, ketika opini lebih dipercaya dibanding fakta. Banyak orang mudah terpengaruh informasi viral tanpa melakukan verifikasi. Akibatnya, logical fallacy, hoaks, dan kesalahan berpikir semakin sering muncul di ruang publik.

Karena itu, kemampuan membaca kritis menjadi kebutuhan penting. Membaca membantu manusia memahami konteks, sedangkan menulis membantu manusia menyusun pemikiran secara lebih jernih. Tanpa budaya membaca dan menulis, masyarakat akan mudah terjebak pada pemikiran dangkal dan emosional.

Pada akhirnya, Membaca Berlensa Sosiologis, Menulis Bernalar Pedagogis bukan hanya buku tentang literasi, tetapi juga kritik terhadap krisis berpikir manusia modern. Sakban Rosidi ingin mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat berbicara, tetapi siapa yang mampu memahami realitas dan berpikir secara mendalam.

Sebab di tengah dunia yang semakin bising oleh opini, manusia yang mampu membaca dengan kritis dan menulis dengan nalar justru menjadi semakin langka.

Ditulis oleh Wahyu Abadi, Founder Lagilagi Group.
zaitunbeningAvatar border
ganakmal.nihhAvatar border
ganakmal.nihh dan zaitunbening memberi reputasi
2
13
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan