- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Uskup Merauke Buka Suara: Film “Pesta Babi” Disebut Sarat Propaganda Politik
TS
medievalist
Uskup Merauke Buka Suara: Film “Pesta Babi” Disebut Sarat Propaganda Politik
Uskup Merauke Buka Suara: Film “Pesta Babi” Disebut Sarat Propaganda Politik
- Jumat, 22 Mei 2026 | 10:36 WIB

Uskup Merauke Buka Suara: Film “Pesta Babi” Disebut Sarat Propaganda Politik (HO)
DEPOK, EnBe Indonesia - Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC menegaskan bahwa tuduhan mengenai keterlibatan gereja dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Film Pesta Babi merupakan fitnah besar yang tidak berdasar.
Hal ini disampaikan Uskup Mandagi dalam wawancara dengan RP. Felix Amias, MSC di podcast youtube Obrolan Pelayan Kristus (OPK) pada Kamis (21/5/26).
Ia mengatakan, sikap diam yang selama ini diambil gereja bukan berarti menyetujui tuduhan tersebut, melainkan bentuk perlawanan terhadap informasi yang dianggap tidak benar. Menurutnya, sikap itu meneladani cara Yesus menghadapi tuduhan di hadapan orang Yahudi.
“Kalau saya terus menanggapi, maka pernyataan itu akan terus dipelintir. Mereka justru akan diuntungkan. Saya tidak ingin Keuskupan Agung Merauke terpecah hanya karena isu PSN,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa gereja tidak pernah menjadikan PSN sebagai perjuangan utama. Fokus utama gereja, katanya, adalah menjaga persatuan, persaudaraan, dan nilai kemanusiaan.
“Kami percaya manusia diselamatkan bukan oleh PSN, tetapi oleh kasih dan persaudaraan. Amor vincit omnia, kasih mengalahkan segalanya,” katanya.
Uskup tersebut juga menyoroti film dokumenter berjudul Pesta Babi yang dinilainya hanya menyajikan sudut pandang tertentu sesuai kepentingan pembuat film. Ia menduga film itu sarat kepentingan politik terkait isu Papua dan hubungan dengan Indonesia.
Menurutnya, film tersebut tidak melibatkan pandangan Gereja Katolik yang selama ini hidup dan bekerja langsung bersama masyarakat Papua Selatan.
“Mereka tidak datang bertanya kepada uskup atau pastor-pastor yang bertugas di lapangan. Mereka hanya mendengar pihak-pihak yang memiliki tujuan yang sama dengan pembuat film,” ujarnya.
Ia membantah keras tuduhan dalam film yang menyebut Keuskupan Agung Merauke mendukung PSN, menjual tanah, hingga menerima dana dari perusahaan-perusahaan yang dianggap merusak hutan Papua Selatan, termasuk industri kelapa sawit.
“Tuduhan bahwa gereja disuap sangat menyakitkan. Padahal kami yang hidup bertahun-tahun di sini terus berjuang memanusiakan orang Papua,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa para pastor bekerja di daerah-daerah terpencil, tinggal di wilayah sungai dan kawasan sulit dijangkau untuk mendampingi masyarakat Papua dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurutnya, gereja selama ini aktif membangun pendidikan, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi rakyat, hingga pengembangan peternakan babi, perkebunan karet, dan Credit Union bagi masyarakat Papua.
Ia juga menilai film tersebut memberikan gambaran keliru seolah seluruh suku di Papua memiliki tradisi pesta babi, padahal Papua memiliki sekitar 250 suku dengan budaya yang berbeda-beda.
Bagi dirinya, isu PSN maupun film “Pesta Babi” kini telah berubah menjadi komoditas politik dan alat propaganda.
“Saya memilih diam karena tidak ingin masuk dalam pusaran politik. Gereja hanya memperjuangkan kemanusiaan,” tegasnya.***
https://www.enbeindonesia.com/berita...aganda-politik
- Jumat, 22 Mei 2026 | 10:36 WIB

Uskup Merauke Buka Suara: Film “Pesta Babi” Disebut Sarat Propaganda Politik (HO)
DEPOK, EnBe Indonesia - Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC menegaskan bahwa tuduhan mengenai keterlibatan gereja dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Film Pesta Babi merupakan fitnah besar yang tidak berdasar.
Hal ini disampaikan Uskup Mandagi dalam wawancara dengan RP. Felix Amias, MSC di podcast youtube Obrolan Pelayan Kristus (OPK) pada Kamis (21/5/26).
Ia mengatakan, sikap diam yang selama ini diambil gereja bukan berarti menyetujui tuduhan tersebut, melainkan bentuk perlawanan terhadap informasi yang dianggap tidak benar. Menurutnya, sikap itu meneladani cara Yesus menghadapi tuduhan di hadapan orang Yahudi.
“Kalau saya terus menanggapi, maka pernyataan itu akan terus dipelintir. Mereka justru akan diuntungkan. Saya tidak ingin Keuskupan Agung Merauke terpecah hanya karena isu PSN,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa gereja tidak pernah menjadikan PSN sebagai perjuangan utama. Fokus utama gereja, katanya, adalah menjaga persatuan, persaudaraan, dan nilai kemanusiaan.
“Kami percaya manusia diselamatkan bukan oleh PSN, tetapi oleh kasih dan persaudaraan. Amor vincit omnia, kasih mengalahkan segalanya,” katanya.
Uskup tersebut juga menyoroti film dokumenter berjudul Pesta Babi yang dinilainya hanya menyajikan sudut pandang tertentu sesuai kepentingan pembuat film. Ia menduga film itu sarat kepentingan politik terkait isu Papua dan hubungan dengan Indonesia.
Menurutnya, film tersebut tidak melibatkan pandangan Gereja Katolik yang selama ini hidup dan bekerja langsung bersama masyarakat Papua Selatan.
“Mereka tidak datang bertanya kepada uskup atau pastor-pastor yang bertugas di lapangan. Mereka hanya mendengar pihak-pihak yang memiliki tujuan yang sama dengan pembuat film,” ujarnya.
Ia membantah keras tuduhan dalam film yang menyebut Keuskupan Agung Merauke mendukung PSN, menjual tanah, hingga menerima dana dari perusahaan-perusahaan yang dianggap merusak hutan Papua Selatan, termasuk industri kelapa sawit.
“Tuduhan bahwa gereja disuap sangat menyakitkan. Padahal kami yang hidup bertahun-tahun di sini terus berjuang memanusiakan orang Papua,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa para pastor bekerja di daerah-daerah terpencil, tinggal di wilayah sungai dan kawasan sulit dijangkau untuk mendampingi masyarakat Papua dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurutnya, gereja selama ini aktif membangun pendidikan, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi rakyat, hingga pengembangan peternakan babi, perkebunan karet, dan Credit Union bagi masyarakat Papua.
Ia juga menilai film tersebut memberikan gambaran keliru seolah seluruh suku di Papua memiliki tradisi pesta babi, padahal Papua memiliki sekitar 250 suku dengan budaya yang berbeda-beda.
Bagi dirinya, isu PSN maupun film “Pesta Babi” kini telah berubah menjadi komoditas politik dan alat propaganda.
“Saya memilih diam karena tidak ingin masuk dalam pusaran politik. Gereja hanya memperjuangkan kemanusiaan,” tegasnya.***
https://www.enbeindonesia.com/berita...aganda-politik
Diubah oleh medievalist 22-05-2026 20:49
0
89
1
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan